Tag Archives: spontanitas

Psikodrama Menjadi Sebuah Perjalanan Memasuki Benteng Pertahanan Diri


Temanku sering kali berkata padaku, ”Hidupmu tu enak banget ya! Ga perlu mikir pusing-pusing besok mau kerja apa, orangtuamu udah punya lahan buat kamu. Kamu tinggal ngelanjutin aja ! ”. Mereka yang tidak tahu-menahu bagaimana sebenarnya hidupku, dengan seenaknya menyatakan keirian mereka. Ketika mereka mulai menggodaku seperti itu, aku hanya bisa tersenyum, pura-pura malu, padahal di dalam hati aku berusaha menahan tangis. Ya, aku menahan tangis keluar dari sudut mata.

Mereka hanya melihat topeng-topeng yang aku dan keluargaku tunjukkan kepada dunia. Alangkah lucunya. Ketika orang lain berkata bahwa keluarga kami begitu harmonis, orangtuaku begitu humoris, kami sangat akur, alangkah lucunya. Jika mereka mengetahui kebenarannya, mungkin mereka tidak akan pernah terbersit untuk mengatakan hal-hal itu. Continue reading →

Psikodrama Bagian dari Psikologi ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (2)


sambungan dari :

Beberapa Poin Penting ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (1) 

Psikodrama Bagian dari Psikologi

Psikodrama harus dianggap sebagai ide-ide kompleks dan metode dalam psikoterapi yang lebih luas, dan lebih dari itu, di luar model medis, yaitu, yang saya sebut “psikologi terapan.” Ini termasuk pendidikan, bisnis, pelatihan keterampilan sosial, agama, rekreasi, struktur masyarakat, dan pengembangan pribadi – perspektif untuk mengoptimalkan potensi individu. Continue reading →

21 Kontribusi Psikodrama terhadap Psikologi ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (5)


sambungan dari :
Dasar Filosofis ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (4)

 

21 Kontribusi Psikodrama terhadap Psikologi
Saya percaya bahwa Psikodrama harus diintegrasikan dengan wawasan yang terbaik dari banyak pendekatan Psikologi dan Psikoterapi. Saya tidak berpikir ada pendekatan tunggal memiliki semua jawaban, dan mengambil dari banyak pendekatan (eklitik) merupakan orientasi umum yang paling sesuai. Namun, pada saat mempelajari berbagai Psiko-terapi, dan Sistem Psikologi, saya menemukan bahwa ide-ide Moreno telah menambahkan beberapa tema baru atau area penekanan, baik yang diabaikan atau yang hanya dicatat secara sepintas di lapangan. Berikut adalah beberapa tema-tema, yang saya percaya dapat mencerminkan visi Moreno yang penting: Continue reading →

Psikodrama, Teater, dan Aku


Beberapa hari yang lalu, seorang temen berada dalam keadaan yang sulit. Ia menceritakan masalahnya lewat WhatsApp. Masalahnya tidak kutulis karena bukan itu yang ingin aku sharingkan, melainkan sedikit diskusi penutupnya yang mengungkapkan bagaimana Psikodrama dan Teater memberikan pengaruh padaku. Khususnya kepekaanku dalam menangkap ekspresi yang nampak tidak wajar.
Berikut aku kutip beberapa chatt nya :

……

– Udah kucoba utk tetap senyum…spt yg nampak pada pp ku …tak terlihat sedang berduka kan???😜
+ Kalau tanya ke aku,..ya aku bisa melihat lah,…🙏
– Haa .haa ..susah ngomong ma psikolog
+ Ada beberapa otot2 yg membentuk ekpressi,..yg tidak selaras,…yg biasa nya nampak pada seseorang yg berusaha keras menyembunyikan perasaan yg sesungguh nya,..

Hal itu (menyembunyikan perasaan) memang dpt dilatih, namun membutuhkan energi yang besar. Dalam melawan perasaan sendiri biasanya orang lalu mengekpresikan dengan emosi yang lain. Rangsang yang diterima otot-otot untuk berkontraksi menjadi ambigu, otot bekerja lebih berat, bila dilakukan terus menerus dapat menyebabkan sakit fisik (psikosomatis).
Seorang aktor yang baik, ia tidak melawan perasaannya, ia menggali perasaannya sendiri (memori emosi) yang sesuai dengan tuntutan peran (tentu perlu latihan yang cukup), dan ketika ia mendapatkan perasaan yang sesuai, ia tinggal mengekspresikannya, sehingga otot-otot yang membentuk ekspresi selaras dengan perasaannya (spontan) ~ teknik stanislavski

– Yo percoyo po meneh karo pakar ekspresi hee..hee
– Teater dan psikodrama mbuat mu peka terhadap hal tsb
+ Benar,…👍👍👍

Aku dengan aktif di Teater dan Psikodrama terbiasa mengamati dan berlatih mempraktekkannya. Bagiku relatif mudah, untuk menangkap fenomena itu, dengan fokus pada yang diamati, bukan sibuk dengan pikiranku (masalahku) sendiri.

+ meskipun demikian perlu disiplin ketat,..agar dpt menjaga etis,…
+ Krn jika org tsb tidak ingin mengatakan (mengungkapkan diri)…sangat tidak disarankan nge-judge, secara terbuka (verbal)

 
Yogyakarta 06 Januari 2017

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya, Refleksi Psikodrama Bandung 251116


Awalnya, alasan saya mengikuti kegiatan psikodrama yang diadakan oleh pak Didik (begitu sapaan akrab pak Retmono Adi) adalah untuk mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikdorama itu sendiri. Tidak terpikir di benak saya bahwa peserta akan diajak untuk mengalami efek dari psikodrama itu juga. Akhirnya setelah menghubungi pak Didik dan mendapat bocoran kegiatan yang akan dilakukan, saya semakin penasaran karena katanya akan full praktek pada hari H nanti. Ditambah lagi diminta membawa semacam kain, selendang, atau Pashmina. Semakin bertanya-tanyalah saya, bakal ngapain ya nanti?
Hari H pun tiba dan kegiatan diawali dengan berbincang-bincang tentang harapan apa yang ingin didapatkan dari kegiatan psikodrama dengan masing-masing peserta. Rata-rata harapannya mirip dengan saya, yaitu ingin mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikodrama. Setelah pak Didik berkenalan secara umum dengan peserta, masuklah pada sesi perkenalan sesungguhnya. Continue reading →

Gila Amat Dia Milih Aku…..


Pada tanggal 25 oktober 2016 tepatnya hari selasa, kelas pada hari ini cukup spesial karena kedatangan tamu yakni seseorang yang ahli di bidang psikodrama. Saya berharap pada hari itu mendapatkan pengetahuan baru dan tentunya pengalaman baru. Tetapi kebetulan pada saat itu saya tidak enak badan sehingga tidak dapat terlalu fokus mengikutinya, di awal saya memberikan 70% diri saya untuk terlibat aktif dalam kelas hari itu.

Awalnya terasa boring dan takut diminta drama ini itu, karena saya tidak terlalu suka terhadap hal-hal semacam drama apalagi diminta memerankannya. Hal itu berubah sejak saya tahu apabila terdapat beberapa tahapan pada psikodrama ini, yakni terdapat warming up, action dan refleksi. Mulailah dengan warming up, dimana kami diminta membuat gerakan pada suatu situasi yang telah ditentukan, ya benar awalnya kami hanya melakukan gerakan yang monoton dan terkesan biasa aja, tapi setelah beberapa kali melakukannya saya pun terbiasa untuk melakukan gerakan yang bisa dibilang sedikit nyeleneh. Hal itu saya lakukan karena saya tahu bahwa teman-teman saya mulai nyeleneh juga.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dan kami masih berada di tahap warming up, dapat dibayangkan bagaimana lelahnya saya pada waktu itu. Tapi psikodrama juga dapat membawa saya senang karena tawa canda dari teman-teman yang cukup lepas sehingga saya terpengaruh untuk jadi seperti kondisi saya saat itu, yang cukup stress dengan skripsi dan tugas-tugas lain. Pukul 12.00-13.00 WIB kami diberikan waktu untuk istirahat makan siang, pada saat itu saya makan dengan beberapa teman saya mengomentari mengenai kelas tersebut, mayoritas mereka bilang menyenangkan tapi cukup melelahkan.

Pukul 13.00 kami memulai kelas lagi dengan tahap selajutnya yakni action, disitu diminta satu anak mewakili untuk menjadi protagonis (partner terapis). Saat itu teman saya ino yang menjadi protagonisnya, dan saya diminta untuk menjadi peran pengganti dirinya. Saya terkejut dan melongo mendengarnya, dalam hati saya berpikir “gila amat dia milih aku”. Disitu yang bisa saya ambil maknanya adalah kita dapat tetap memperhatikan hal kecil, dapat mennghargai orang lain, dan tetap percaya pada komunitas karena komunitas ini dapat menyimpan segala cerita yang telah diceritakan. Kelas berakhir cukup baik dan berkesan, saya mendapatkan banyak hal pembelajaran pada hari itu. Dapat juga mengenal teman-teman lainnya lebih dalam juga.

 

DR

Tidak Takut Berbuat Kesalahan


Pembelajaran yang saya dapatkan dari psikodrama yang telah dilakukan yaitu saya menjadi dapat mengenal diri saya sendiri lebih dalam seperti menyadari keberadaan saya dengan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari saya, tanggung jawab saya, dan melihat pada diri sendiri apa yang salah dengan saya terlebih dahulu bukan menyalahkan orang lain. Kegiatan tersebut juga membuat saya menjadi lebih percaya diri dan lebih berani untuk mengemukakan pendapat saya karena secara tidak langsung dipaksa untuk berbicara dan melakukan hal-hal yang diluar dari zona nyaman saya. Continue reading →

Senang dan Lega setelah Kelas Psikodrama


Pada hari Selasa, tanggal 25 Oktober 2016 saya mengikuti kelas psikodrama mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Sebelum saya berangkat saya berpikir bahwa kelas psikodrama akan membosankan dan menuntut untuk mengekspresikan hal-hal yang tidak biasa saya lakukan. Oleh karena itu, awalnya saya merasa khawatir dan kurang semangat mengikuti kelas ini. Namun, ternyata setelah saya datang pada pagi itu, saya mengikuti kelas dan ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Kelas psikodrama yang dibawakan oleh Pak Adi terasa menyenangkan dan saya cukup senang mengikutinya. Di awal sesi, saya melakukan sosiometri dan hal – hal lainnya yang melatih saya untuk lebih berani mengekspresikan diri, yang mana tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya merasa menjadi diri yang berbeda ketika mengikuti kelas ini, dimana saya merasa lebih berani, percaya diri dan bisa lebih dekat dengan teman-teman. Continue reading →

Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama


Selasa, 25 oktober 2016, aku melangkahkan kaki menuju lantai 10.. Awalnya aku merasa ogah untuk melangkahkan kaki di ruang relaksasi, 8 jam harus berkutat materi, sepintas itu yang terbayang dibenakku. Meski terpaksa, aku meyakinkan diri, semua akan berjalan menyenangkan (nggarepnya sih gitu). Pak Didik, begitulah aku memanggilnya, lengkap dengan ekspresi datarnya. Lewat beliau, aku menemukan istilah baru yang tidak pernah kudengar. Lewat beliau, aku meraih ilmu yang tak pernah kutau (agak alay kayaknya hehe). Menit demi menit berlalu, aku terlarut dalam tawa bersama mereka. Kami berbagi tentang apapun yang telah berlalu dan berlangsung. Menit demi menit berlalu, aku bahagia menghabiskan waktu bersama mereka. Continue reading →

Penerapan Psikodrama untuk Anak-anak TK dan ABK


“Tidak banyak yang dapat kita lakukan sendirian. Sangat banyak yang dapat kita lakukan jika kita bersama-sama, seperti yang dilakukan teman- teman kelas TKS di Sekolah Bintang Bangsaku – SBB.
Hanya bisa tersenyum saat melihat wajah teman- teman kecil yang terlihat bingung saat mereka semua diajak untuk bermain membentuk bangunan dengan menggunakan tubuh atau badan mereka.
“Tolong bikin in kakak Christ, pesawat ” intruksi awal yg diberikan pembimbing. Continue reading →

%d bloggers like this: