Tag Archives: pengembangan diri

Rasa Empatiku Muncul Lagi ; Refleksi Psikodrama di Salatiga


Hari ini tanggal 19 Juli 2017, saya belajar Psikodrama untuk pertama kalinya. Awalnya saya kira psikodrama itu seperti teater, berakting seperti pemain sinetron yang ‘alay’, tapi ternyata tidak seperti itu. Kelas hari ini lebih lama dari biasanya, namun karena banyak praktek, kelas tidak begitu terasa lama. Saya belajar banyak hari ini, di psikodrama ada 3 tahapan yaitu warming up, action, pemaknaan (reflection). Continue reading →

Advertisements

PSIKODRAMA UNTUK REHABILITASI KORBAN NARKOBA


Seorang terlibat dengan penyalahgunaan Narkoba, lebih tepat di sebut sebagai Korban, daripada Sebagai Pelaku. Dengan demikian maka tidaklah tepat bila mereka di hukum penjara. Apalagi sekarang Penjara sudah over kapasitas, dan banyak penghuninya adalah Korban Narkoba.

Seseorang bisa sampai terjerat Narkoba, biasanya di awali dengan coba-coba, atau juga lebih sering karena diajak temen (peer pressure), situasi yang wajar di kalangan Remaja. Maka yang perlu dilakukan adalah memberikan penguatan pada Remaja, agar mampu mensikapi dengan bijak kondisi dan situasi tersebut. Bila Remaja sudah kuat bekal mentalnya mereka tidak akan terjerat dan kecanduan, meskipun ia sempat mencoba demi rasa ingin tahu dan rasa kebersamaannya. Mereka akan mampu menolak, dan membuat batasan untuk dirinya dalam berteman, mereka tetap berteman namun tidak mengikuti apa saja yang dilakukan temannya, terutama perilaku yang berisiko (Narkoba). Continue reading →

7 Cara Refleksi Harian Yang Dapat Meningkatkan Kemampuan Analisa


Refleksi adalah memikirkan kembali pengalaman ditambahkan fakta fakta yang ada, selanjutnya diolah dengan imajinasi untuk mendapatkan beberapa kemungkinan, yang dapat dijadikan solusi. Refleksi juga merupakan salah satu teknik Psikodrama
Meskipun ini lebih ditujukan pada Profesi Pengacara di bidang Hukum, namun saya melihat ada keselarasan juga dengan Profesi sebagai Konselor Psikologis, maka saya terjemahkan agar dapat kita pelajari bersama.

Semoga bermanfaat.

Refleksi harian memainkan peran penting dalam membangun kemampuan analisa dan pengambilan keputusan profesi pengacara. Jika Anda ingin membedakan diri dari orang lain dalam profesi hukum, Anda perlu membuktikan bahwa Anda lebih baik daripada rata-rata kebanyakan orang. Jadi berpikirlah tentang mengembangkan beberapa kemampuan yang membedakan Anda dari rekan-rekan Anda. Kritik utama yang sering pada profesi hukum adalah kurangnya kepedulian terhadap keadilan atau fairness. Jadi mungkin ini adalah salah satu prinsip yang dapat Anda tumbuhkan melalui refleksi harian yang akan meningkatkan kredibilitas Anda. Continue reading →

6 Hal yang tidak Tepat untuk dikatakan dalam Wawancara Kerja (dan Jawaban yang Tepat)


1. Mengapa Anda mencari pekerjaan baru?

Jawaban buruk: Bos saya adalah brengsek dan pelanggan sulit untuk ditangani.

Tip: Jaga jawabannya positif, dalam hal di mana tujuan Anda, bukan apa yang Anda ingin hindari.

Jawaban yang lebih baik: Saya telah dipromosikan sejauh yang saya bisa capai di perusahaan saya saat ini. Saya mencari tantangan baru, yang akan memberikan saya kesempatan menggunakan keterampilan saya, untuk membantu pertumbuhan bisnis . Continue reading →

Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski


September 1st, 2008 by M. Fadli, aktif di teater Rumah Teduh

Stanislavsky adalah seniman sejati. Dia meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton tak lagi membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Menurut pendapat saya, begitulah teater seharusnya. (Lenin,1918)

Continue reading →

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya (ternyata efeknya masih lanjut..) Sharing Psikodrama 2


Sharing ini adalah lanjutan dari sharing sebelumnya, dengan judul artikel yang sama..
Jadi, sekitar sebulan setelah mengikuti psikodrama, saya yang perantau akhirnya pulang ke rumah dan bisa bertemu orang tua. Seperti yang saya ceritakan di sharing sebelumnya, saya memiliki rasa sakit hati yang cukup dalam terhadap ayah saya, yang baru saya sadari sepenuhnya sewaktu mengikuti psikodrama. Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk mengatakan terang-terangan kepada ayah saya, setidaknya supaya saya bisa lega dan beliau mengetahui perasaan saya selama ini. Continue reading →

Teater adalah Proses Belajar Memiliki Karakter


Mengapa tidak kepikiran,…ya?

Sudah dikabarkan oleh banyak media, mengenai pentingnya Karakter,
Dunia pendidikan berusaha menyusun kurikulum
Dunia Industri menyusun program pelatihan
Dan aparatur negara juga diinstruksikan mampu menunjukkan karakter,…

Kesemuanya tidak memilih teater atau drama sebagai cara utama nya,…

Apakah karena teater hanya untuk di panggung pertunjukkan?
Bukan kah cukup banyak orang yang paham bahwa dunia juga panggung sandiwara?
Ataukah bahwa teater adalah cara berpura-pura?
Owh,..betapa dangkal pemahamannya….
Ataukah teater men-simbolkan ” kebebasan”,…
..bukankan semua orang menginginkan kebebasan?
…lalu apakah kebebasan itu tanpa aturan?….owh,…banyak sekali aturan di dalam teater,…

Jelas dituliskan bahwa setiap orang teater, saat proses menuju pentas,…aktor aktornya membangun karakter,…

Menurut kaidah Teater ;
Karakter yang baik adalah yang selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,.. yang tetap terjaga dalam Kesadaran nya,…

Bila orang mampu melakukan hal tersebut di panggung pertunjukan,..dapat dipastikan ia mampu juga melakukan dalam kehidupan nyata nya. Maka ia dapat disebut orang yang memiliki Karakter,…

Karakter seperti apa?
Karakter apa saja,..sejauh selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,..dan terjaga dalam Kesadarannya sebagai Manusia,…maka ia dapat disebut Orang yang ber Integritas,…

Berproses dalam teater dengan benar, akan menuju pada kemampuan memiliki Integritas diri,
Memang proses ini panjang dan tidak mudah,…bahkan bisa berlangsung sepanjang hayat,…karena keselarasan merupakan situasi yg dinamis, akan berubah mengikuti kondisi dan situasinya. Sehingga menuntut individu bersikap ikhlas, rela belajar lagi dari awal.

 

retmono

Mengelola Stres cara Psikodrama – Kesadaran Peran


Psikodrama Indonesia

Kamis, 12 Juni 2014
Acara mulai pukul 18.30 WIB, namun aku terlambat karena lalu lintas padat. Perjalanan dari Tembalang ke Gedung Telkomsel, ditambah dengan salah masuk Gedung :D.
Setelah diperkenalkan aku langsung cerita, apa itu stress, “Working Hard for something we don’t care about is called Stress, Working Hard for something we love is called Passion – Simon Sinek”
Peserta aku ajak merefleksikan kalimat di atas. Kemudian aku tanyakan siapakah yang sekarang sedang Stres. Kebanyaknya peserta adalah mahasiswa tingkat akhir baik S1 maupun S2 yang sedang mengerjakan tugas akhirnya. Mereka merasa stress.
Beberapa peserta mengungkapkan perasaannya yang “Galau” tersebut.

View original post 532 more words

Open Up Your Heart and Let The Sunshine In…..


Open Up Your Heart

Gila Amat Dia Milih Aku…..


Pada tanggal 25 oktober 2016 tepatnya hari selasa, kelas pada hari ini cukup spesial karena kedatangan tamu yakni seseorang yang ahli di bidang psikodrama. Saya berharap pada hari itu mendapatkan pengetahuan baru dan tentunya pengalaman baru. Tetapi kebetulan pada saat itu saya tidak enak badan sehingga tidak dapat terlalu fokus mengikutinya, di awal saya memberikan 70% diri saya untuk terlibat aktif dalam kelas hari itu.

Awalnya terasa boring dan takut diminta drama ini itu, karena saya tidak terlalu suka terhadap hal-hal semacam drama apalagi diminta memerankannya. Hal itu berubah sejak saya tahu apabila terdapat beberapa tahapan pada psikodrama ini, yakni terdapat warming up, action dan refleksi. Mulailah dengan warming up, dimana kami diminta membuat gerakan pada suatu situasi yang telah ditentukan, ya benar awalnya kami hanya melakukan gerakan yang monoton dan terkesan biasa aja, tapi setelah beberapa kali melakukannya saya pun terbiasa untuk melakukan gerakan yang bisa dibilang sedikit nyeleneh. Hal itu saya lakukan karena saya tahu bahwa teman-teman saya mulai nyeleneh juga.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dan kami masih berada di tahap warming up, dapat dibayangkan bagaimana lelahnya saya pada waktu itu. Tapi psikodrama juga dapat membawa saya senang karena tawa canda dari teman-teman yang cukup lepas sehingga saya terpengaruh untuk jadi seperti kondisi saya saat itu, yang cukup stress dengan skripsi dan tugas-tugas lain. Pukul 12.00-13.00 WIB kami diberikan waktu untuk istirahat makan siang, pada saat itu saya makan dengan beberapa teman saya mengomentari mengenai kelas tersebut, mayoritas mereka bilang menyenangkan tapi cukup melelahkan.

Pukul 13.00 kami memulai kelas lagi dengan tahap selajutnya yakni action, disitu diminta satu anak mewakili untuk menjadi protagonis (partner terapis). Saat itu teman saya ino yang menjadi protagonisnya, dan saya diminta untuk menjadi peran pengganti dirinya. Saya terkejut dan melongo mendengarnya, dalam hati saya berpikir “gila amat dia milih aku”. Disitu yang bisa saya ambil maknanya adalah kita dapat tetap memperhatikan hal kecil, dapat mennghargai orang lain, dan tetap percaya pada komunitas karena komunitas ini dapat menyimpan segala cerita yang telah diceritakan. Kelas berakhir cukup baik dan berkesan, saya mendapatkan banyak hal pembelajaran pada hari itu. Dapat juga mengenal teman-teman lainnya lebih dalam juga.

 

DR

%d bloggers like this: