Tag Archives: Metode Psikodrama

Seorang Confabulator Amatir


Saya seorang confabulator amatir. Amatir hanya berarti bahwa saya tidak dibayar untuk ini. Atau haruskah saya mengatakan, “Anda tidak bisa membayar saya untuk melakukan ini?”? Dan untuk con-fabulate berarti membuatnya terwujud.

Awalnya ini adalah istilah medis yang mengacu pada orang yang karena demensia ringan tidak tahu mereka telah melakukannya. Kita membutuhkan sebuah kata yang sedikit lebih kuat daripada bersandiwara, tapi itu dilakukan oleh penulis fiksi dan orang lain yang berimprovisasi terhadap realitas seolah-olah nyata. Ini mungkin berbeda sampai tingkat pemikiran kreatif, tahu secara eksplisit bahwa apa yang mereka buat tidak nyata, atau bukan realitas yang sama dengan yang dirasakan orang lain. Tapi bagaimanapun, saya mewujudkannya. Continue reading →

Advertisements

Pengalaman Praktek Psikodrama sebagai Metode Pemetaan


Bisa Aja dengan Psikodrama

Saya diminta membantu teman teman panitia pemilihan putra putri. Mereka minta saya memberikan test psikologi. Dalam pengalaman saya, test psikologi dalam pemilihan putra putrian begini hanya digunakan sebagai referensi saja dan tidak terlalu mempengaruhi hasil keseluruhan dalam pemilihan tersebut, jadi saya diskusi dengan teman teman panitia untuk mengganti psikologi test menjadi psikodrama. Saya jelaskan tentang berbagai manfaat yang dapat diperoleh peserta dengan mengikuti psikodrama ini, dan panitia setuju. Continue reading →

From Zero to Full, Psikodrama di Medan


 

Pertama kali mendengarkan kata Workshop Psikodrama, yang terlintas didalam pikiran adalah mau diaplikasikan kemana psikodrama  ini ? Apakah tidak ribet menggunakan psikodrama untuk konseling, training maupun program pembelajaran. Ada rasa ingin tahu memang,  hal ini mendorongku untuk menelephone teman-teman yang juga dibiayai oleh salah satu  instansi tempat kami bekerja untuk mengikuti workshop psikodrama, semua berjanji untuk datang, mumpung belajar gratis dan kebetulan sudah lama kami tidak bertemu, cocok juga bisa reuni, jadi mulai terbayang serunya.

Hari Pertama

Seperti yang dibayangkan keseruan dimulai ketika bertemu dengan teman-teman, heboh cas cus, tidak lama kemudian  fasilitator datang, gayanya cukup nyentrik, sudah bisa tertebak pastilah psikolog yang juga pemain theater. Continue reading →

Pelatihan Inklusi, Penghargaan Keberagaman menggunakan Psikodrama, Sosiodrama


Bahayanya melabel orang atau stereotipe

Tanya:
Apakah ada yang punya pelatihan untuk digunakan sebagai bagian dari pelatihan keragaman & inklusi tentang bagaimana rasanya dilabel seseorang? Tujuannya adalah agar peserta memahami bagaimana rasanya ketika seseorang menghakimi Anda tidak kompeten atau pemimpin yang baik, dll berdasarkan demografi Anda.

Adakah ide mengenai pelatihan yang menyenangkan, ringan namun mengena dan berdampak?

Denise Felder
Writer & Career Adviser Encouraging Informed Decisions

Continue reading →

Pengembangan Kreativitas, Terapi dengan Seni


Terapi seni kreatif muncul dari tradisi penyembuhan; dan seperti psiko-drama (di mana saya terlibat), apa yang mereka inginkan bekembang jauh melampaui peran orang sakit. Peran orang sakit adalah gagasan bahwa seseorang sehat dan yang lainnya sakit dan ekspresi kreatif akan menyembuhkan. Tapi kreativitas tidak perlu dianggap salah dalam hal ini, hanya itu yang bisa dilakukan semua orang dengan beberapa pengembangan kreativitas. Ini seperti “Fitness.” Sama seperti semua orang bisa melakukannya dengan sedikit latihan, begitu juga setiap orang dapat menikmati Pengembangan Kreativitas! Continue reading →

Penerapan Drama, Sebuah Surat Terbuka


Ada bidang baru yang bisa disebut “Applied Drama” atau “Teater Terapan,” tapi belum ada yang benar-benar mengetahuinya. Ini adalah istilah untuk berbagai macam upaya yang menggunakan drama/teater untuk mempromosikan kesadaran pribadi dan kelompok. Continue reading →

Memakai Psikodrama sebagai Metode Ceramah


Berbekal pengalaman berkesan saat mengikuti workshop Psikodrama yang diselenggarakan HIMPSI Sumut di bulan October 2017 yang lalu, saya terus penasaran ingin mencoba menggunakan psikodrama ini dalam berbagai setting yang menurut saya bakal menarik. Saya tahu tidak mudah, karena meskipun kesannya bermain, spontan, dan tanpa skenario, sebenarnya situasi di dalam psikodrama ini diperhitungkan secara matang, menggunakan berbagai teknik gabungan yang memungkinkan prosesnya dapat berjalan dengan mulus. Mas Retmono Adi, sang fasilitator, serta asistennya Eka dan Santa sabar sekali melayani berbagai pertanyaan saya untuk menggali lebih dalam mengenai kemungkinan kemungkinan itu.

Setelah berpikir dan ragu, saya punya moment yang saya pikir bisa saya pakai sebagai ajang uji coba menggunakan psikodrama sebagai metode ceramah. Kebetulan saya diminta untuk bicara pada umat vihara  di sebuah daerah tak jauh dari kota Medan. Berhari hari saya mikir topik tapi tidak bertemu. Mulailah terpikir untuk mencoba memakai psikodrama. Continue reading →

Menambahkan “Surplus Reality” oleh Adam Blatner


Awalnya diposkan pada 14 Desember 2016

Saya menemukan sebuah buku oleh Rosilyn Wilder, seorang guru drama kreatif, berjudul “A Space Where Anything Can Happen” (New Plays Books, 1977). Ya, sesuai dengan harapan saya untuk memperluas kesadaran sehingga orang-bukan hanya orang muda, tapi juga orang tua, seperti kelompok usia saya! – dapat mengoptimalkan potensi. Continue reading →

Pengalaman Kelas Psikodrama di Salatiga


Tadi pagi saya baru saja mengikuti pelatihan psikodrama. Awalnya hampir tidak niat untuk ikut karna kelasnya dadakan dan pasti akan banyak yang dikorbankan jika tetap ikut. Tapi rasa penasaranku membuatku tetap ingin ikut dan akhirnya aku ikut. Pas awal masuk kelas, saya langsung dikagetkan dengan kata “frezz” artinya untuk menghentikan gerakan dalam drama. Saya lalu berhenti beserta teman-teman yang juga datang bersama saya. Itu dilakukan bapaknya karna ia mau menjelaskan betapa pentingnya etika ketika kita berada di lingkungan sosial. Continue reading →

Psikodrama Menjadi Sebuah Perjalanan Memasuki Benteng Pertahanan Diri


Temanku sering kali berkata padaku, ”Hidupmu tu enak banget ya! Ga perlu mikir pusing-pusing besok mau kerja apa, orangtuamu udah punya lahan buat kamu. Kamu tinggal ngelanjutin aja ! ”. Mereka yang tidak tahu-menahu bagaimana sebenarnya hidupku, dengan seenaknya menyatakan keirian mereka. Ketika mereka mulai menggodaku seperti itu, aku hanya bisa tersenyum, pura-pura malu, padahal di dalam hati aku berusaha menahan tangis. Ya, aku menahan tangis keluar dari sudut mata.

Mereka hanya melihat topeng-topeng yang aku dan keluargaku tunjukkan kepada dunia. Alangkah lucunya. Ketika orang lain berkata bahwa keluarga kami begitu harmonis, orangtuaku begitu humoris, kami sangat akur, alangkah lucunya. Jika mereka mengetahui kebenarannya, mungkin mereka tidak akan pernah terbersit untuk mengatakan hal-hal itu. Continue reading →

%d bloggers like this: