Tag Archives: Kesadaran Peran

Testimoni Workshop Psikodrama di Medan : PSYCHODRAMA = EMOTION RELEASE


29 Oktober 2017….
Satu hari setelah saya mengikuti WORKSHOP PSIKODRAMA.

Ada perasaan yang membekas begitu dalam pada diri saya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Awal ketertarikan saya mengikuti workshop ini karena tokoh idola saya (seorang Psikolog bergelar Doktor yang memiliki Biro di Lampung) sudah mengikuti workshop ini lebih dahulu. Dan berdasarkan testimoni beliau bahwa melalui teknik ini kita bisa menjadi “menerima diri” dan “out of the box”.

Oke..sampai pada titik itu saya tahu saya sangat butuh pelatihan ini. Meski ada sedikit kekhawatiran, akankah saya merasa nyaman mengikuti workshop ini karena tidak ada satu teman sejawat yang saya kenal mengikuti workshop tersebut. Yang membulatkan tekad saya untuk ikut karena ada Sekjen HIMPSI SUMUT yang sebelum workshop sudah intens komunikasi via WA dengan saya. Continue reading →

Advertisements

Catatan Dinamika Emosional “Bermain” Psikodrama


Sebelum membahas lebih dalam, saya ingin mengungkapkan terlebih dahulu bahwa saya belum pernah sama sekali mengetahui metode Psycho Drama yang dapat dipakai untuk treatment dalam dunia psikologi.

Pada dasarnya, dalam penerapan psikologi memiliki banyak terapan yang dapat dipakai untuk penanganan terhadap bantuan kepada klien. Psycho Drama menjadi jawaban yang sangat praktis namun dapat menggali intens-nya trauma atau dengan kata lain rasa yang kurang nyaman dalam diri (inner seseorang).

Awalnya, saya bertanya apakah dengan metode sesederhana ini dapat memunculkan keadaan diri yang mempresentasikan luka yang telah di-repress? Akhirnya, terjawab sudah dari segala sesi peran yang distimulasikan kepada setiap peserta yang sedang mengikuti pelatihan. Continue reading →

Menambahkan “Surplus Reality” oleh Adam Blatner


Awalnya diposkan pada 14 Desember 2016

Saya menemukan sebuah buku oleh Rosilyn Wilder, seorang guru drama kreatif, berjudul “A Space Where Anything Can Happen” (New Plays Books, 1977). Ya, sesuai dengan harapan saya untuk memperluas kesadaran sehingga orang-bukan hanya orang muda, tapi juga orang tua, seperti kelompok usia saya! – dapat mengoptimalkan potensi. Continue reading →

Pengalaman Kelas Psikodrama di Salatiga


Tadi pagi saya baru saja mengikuti pelatihan psikodrama. Awalnya hampir tidak niat untuk ikut karna kelasnya dadakan dan pasti akan banyak yang dikorbankan jika tetap ikut. Tapi rasa penasaranku membuatku tetap ingin ikut dan akhirnya aku ikut. Pas awal masuk kelas, saya langsung dikagetkan dengan kata “frezz” artinya untuk menghentikan gerakan dalam drama. Saya lalu berhenti beserta teman-teman yang juga datang bersama saya. Itu dilakukan bapaknya karna ia mau menjelaskan betapa pentingnya etika ketika kita berada di lingkungan sosial. Continue reading →

3 Kunci untuk Menemukan Tujuan Hidup


Apa tujuan hidupmu?
Menemukan tujuan hidup adalah salah satu tugas terbesar yang dimiliki oleh hampir semua orang dalam hidup mereka, namun juga menjadi satu tugas yang sering tidak terpenuhi. Sayangnya, tidak ada satu jawaban sederhana untuk pertanyaan “Bagaimana saya menemukan tujuan hidup saya”, tapi justru lebih mudah menemukan jawabannya daripada yang Anda bayangkan. Jadi, bila Anda bertanya-tanya “Apa tujuan hidup saya?”,

berikut 3 kunci untuk membantu Anda: Continue reading →

Psikodrama Menjadi Sebuah Perjalanan Memasuki Benteng Pertahanan Diri


Temanku sering kali berkata padaku, ”Hidupmu tu enak banget ya! Ga perlu mikir pusing-pusing besok mau kerja apa, orangtuamu udah punya lahan buat kamu. Kamu tinggal ngelanjutin aja ! ”. Mereka yang tidak tahu-menahu bagaimana sebenarnya hidupku, dengan seenaknya menyatakan keirian mereka. Ketika mereka mulai menggodaku seperti itu, aku hanya bisa tersenyum, pura-pura malu, padahal di dalam hati aku berusaha menahan tangis. Ya, aku menahan tangis keluar dari sudut mata.

Mereka hanya melihat topeng-topeng yang aku dan keluargaku tunjukkan kepada dunia. Alangkah lucunya. Ketika orang lain berkata bahwa keluarga kami begitu harmonis, orangtuaku begitu humoris, kami sangat akur, alangkah lucunya. Jika mereka mengetahui kebenarannya, mungkin mereka tidak akan pernah terbersit untuk mengatakan hal-hal itu. Continue reading →

Bertengkar di Depan Anak #Goresanku 141


Pagi itu, baru saja aku sampai di kantor dan meletakkan tas di meja kerjaku. Datang seorang anak, dia langsung saja mendekapku. Aku kira dia ingin bergurau denganku saja. Ternyata perkiraanku tidak benar. Dia menangis sesenggukan ……. semula terdengar lirih, lama kelamaan semakin keras tangisannya. Sesaat ku biarkan dia menangis dalam dekapanku. Ku elus punggungnya, dengan tujuan agar dia bisa tenang. Setelah agak reda aku berusaha untuk menatap wajahnya. Continue reading →

Membuat Hidup Makin Sulit #Goresanku 140


Ide menulis pengalaman ini berawal dari obrolan bersama seorang teman. Dia bercerita tentang permasalahan hidup yg dialami salah satu kerabatnya.
Sebenarnya masalah tersebut sepele sj. Karena hanya kurang adanya kumunikasi dalam keluarga, masalah menjadi besar dan rumit.
Obrolan saat itu makin asyik saja karena kebetulan masalah tersebut ada sedikit kesamaan dengan masalah yg ada di keluargaku. Continue reading →

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya (ternyata efeknya masih lanjut..) Sharing Psikodrama 2


Sharing ini adalah lanjutan dari sharing sebelumnya, dengan judul artikel yang sama..
Jadi, sekitar sebulan setelah mengikuti psikodrama, saya yang perantau akhirnya pulang ke rumah dan bisa bertemu orang tua. Seperti yang saya ceritakan di sharing sebelumnya, saya memiliki rasa sakit hati yang cukup dalam terhadap ayah saya, yang baru saya sadari sepenuhnya sewaktu mengikuti psikodrama. Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk mengatakan terang-terangan kepada ayah saya, setidaknya supaya saya bisa lega dan beliau mengetahui perasaan saya selama ini. Continue reading →

Teater adalah Proses Belajar Memiliki Karakter


Mengapa tidak kepikiran,…ya?

Sudah dikabarkan oleh banyak media, mengenai pentingnya Karakter,
Dunia pendidikan berusaha menyusun kurikulum
Dunia Industri menyusun program pelatihan
Dan aparatur negara juga diinstruksikan mampu menunjukkan karakter,…

Kesemuanya tidak memilih teater atau drama sebagai cara utama nya,…

Apakah karena teater hanya untuk di panggung pertunjukkan?
Bukan kah cukup banyak orang yang paham bahwa dunia juga panggung sandiwara?
Ataukah bahwa teater adalah cara berpura-pura?
Owh,..betapa dangkal pemahamannya….
Ataukah teater men-simbolkan ” kebebasan”,…
..bukankan semua orang menginginkan kebebasan?
…lalu apakah kebebasan itu tanpa aturan?….owh,…banyak sekali aturan di dalam teater,…

Jelas dituliskan bahwa setiap orang teater, saat proses menuju pentas,…aktor aktornya membangun karakter,…

Menurut kaidah Teater ;
Karakter yang baik adalah yang selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,.. yang tetap terjaga dalam Kesadaran nya,…

Bila orang mampu melakukan hal tersebut di panggung pertunjukan,..dapat dipastikan ia mampu juga melakukan dalam kehidupan nyata nya. Maka ia dapat disebut orang yang memiliki Karakter,…

Karakter seperti apa?
Karakter apa saja,..sejauh selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,..dan terjaga dalam Kesadarannya sebagai Manusia,…maka ia dapat disebut Orang yang ber Integritas,…

Berproses dalam teater dengan benar, akan menuju pada kemampuan memiliki Integritas diri,
Memang proses ini panjang dan tidak mudah,…bahkan bisa berlangsung sepanjang hayat,…karena keselarasan merupakan situasi yg dinamis, akan berubah mengikuti kondisi dan situasinya. Sehingga menuntut individu bersikap ikhlas, rela belajar lagi dari awal.

 

retmono

%d bloggers like this: