Tag Archives: hidup bermakna

Bahagia Menjadi Diriku Sendiri : Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Salam Psikologi
Psikologi untukku
Psikologi untuk kita

 

Pertama kali mendengar kata Psikodrama, rasanya kembali ke masa kecil dimana aku sering memainkan peran serial pendekar …aku suka memainkan peran sebagai kesatria wanita.

Begitu antusias aku mengikuti sesi Psikodrama HARI INI … Begitu semangat …dan bagiku kembali ke masa kecil saat aku harus memainkan sebuah peran adalah kembali ke KEBAHAGIAAN sesungguhnya….

Satu hal yang aku dapat setelah sesi Psikodrama hari ini adalah ” Jadilah dirimu sendiri Mei… karena tidak akan ada yang dapat melakukannya lebih baik dari dirimu sendiri ”

Terimakasih mas Didik atas ilmunya,
Terimakasih sudah mengembalikan kebahagiaan masa kecilku,
Terimakasih juga sudah membuatku sejenak menyadari bagaimana proses PERAN – PERAN yang ada di dalam diriku membuatku bahagia menjadi DIRIKU SENDIRI .

16122018
Mei – DEPOK

Advertisements

Resolusi 2019 Memang Perlu, Kok…….


…..jadi kuputuskan membuat resolusi untuk tahun 2019 nanti. Sebagai arah dan dasar bagi tindakan yang akan aku lakukan. Aku bikin yang paling realistis berdasarkan capaian tahun ini. Juga kupilih cukup satu saja yang itu dapat menjadi indikator bagi aktivitas lain, baik yang mendukung (sebagai prasyarat terwujudnya) atau pun menjadi hasil impact nya. Dengan aku menentukan satu resolusi ini, maka dapat terlihat capaian apa saja yang telah terwujud dan langkah berikutnya yang dapat dicapai lagi.

Oh ya, Resolusi tahun 2019 ku adalah, retmono.wordpress.com dibaca atau dibuka 100 ribu kali (sekarang sudah 65 ribuan kali). Capaian ini dapat dilihat dari statistik-nya yang update setiap saat. Simpel kan? 🙂

Sengaja kubuat sederhana, mudah diingat, namun jelas sesuai dengan tujuanku sebagai Praktisi Psikodrama. Aku ingin makin banyak orang Indonesia mengenal Psikodrama, merasakan Psikodrama, dan mampu menerapkan Psikodrama. Aku ungkapkan ini agar banyak orang tahu dan membantu menyebarkan ke lebih banyak orang lagi.

Mohon saran dan masukannya. Maka dengan demikian resolusi yang kuputuskan ini menjadi bermanfaat.

Terima kasih

 

Retmono Adi

Pengalaman Mengikuti Psikodrama,…. Aku Merasa Lebih Tenang


Hai, Aku Iis. Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku tinggal bersama Ayah dan Adik ku laki laki ku yang baru berusia 10 tahun. Usiaku baru menginjak 21 tahun bulan juli kemarin namun ku kira masalah yang kuhadapi dan kehidupanku begitu berat. Ayahku orangnya kasar dan keras tak pernah aku lihat dia lembut kepadaku atau adik ku, yang kulihat hanya kekerasan, yaaa.. Ini aku dan tanggungjawabku, Aku sebagai mahasiswi semester 5 di fakultas psikologi, aku sebagai kakak dan penengah di keluargaku, aku sebagai seorang pekerja untuk masa depanku dan aku sebagai teman yang mengasyikkan untuk mereka yang mengenalku.

Hai, Aku Iis, Aku sebelum mengikuti kegiatan Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS aku termasuk orang yang bertindak tanpa berfikir, kalaupun aku bisa ya aku lakukan, tanpa berfikir panjang untuk ke depannya. Aku tak begitu peduli dengan nanti bagaimana, yang pasti aku saat itu bahagia. Aku sibuk dengan kegiatan diluar rumah dan organisasi ku, karena dari situ aku bertemu orang baru dan aku bahagia. Aku yang melihat permasalahan begitu rumit bahkan pernah mencoba untuk mengakhiri kehidupan dan marah dengan Tuhan, kenapa kehidupan tak seperti mereka, yang kulihat begitu menyenangkan, dengan keluarga yang harmonis, orangtua selalu di temui di rumah dan nyaman dengan rumahnya, tanpa perlu mencari kebahagian di luar rumah yang sifatnya semu, yang sering ku lakukan sebelumnya.

Hai, Aku Iis, setelah mengikuti kegiatan Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS, aku merasa lebih tenang, karena dapat berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan apa yang telah terjadi di kehidupanku yang lampau. Aku lebih dewasa ketika ada permasalahan tidak cuma melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja, melainkan dari sudut pandang lain atau pun dari global, ketika bertindak aku mulai berfikir untuk ke depannya. Apakah yang ku lakukan tidak mengganggu aktifitasku yang lain atau berdampak tidak baik untuk ke depannya.

Hai, Aku Iis, Aku beruntung saat itu menjadi salah satu peserta workshop Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS, selain bertemu dengan mereka orang-orang hebat aku juga mendapatkan ilmu yang belum kudapat di lain waktu. Waktu itu adalah salah satu hal yang aku syukuri bahwa aku masih ada di dunia ini. Dari apa yang telah aku dapat, aku berencana untuk berbagi dengan yang lain namun dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Psikodrama untuk kegiatan game maupun kegiatan yang menggembirakan lainnya.

Terimakasih semua……

Kendal, 24 November 2018

Iis

Berdamai dengan Diri Membuat Hidup lebih Baik #Goresanku 144


Saya menulis ini berawal dari obrolan dengan salah satu teman guru yang bulan September lalu juga ikut Psikodrama. Sebenarnya dia sudah sering mendengar tentang apa itu psikodrama. Setelah merasakan sendiri dengan ikut Psikodrama, ternyata banyak hal positif yang dia dapatkan.

Ada beberapa teknik yang diberikan dalam ber-Psikodrama. Menurutnya yang paling berkesan adalah saat dia menjadi tokoh Protagonis, yang mana ceritera masa kecilnya direcall dan dimainkan. Di situ dia bisa dengan lepas mengeluarkan semua uneg2 yang ada selama ini.

Selama ini ada perasaan dendam yang sangat dalam terhadap bapaknya, karena merasa diperlakukan tidak adil. Dia merasa bapak pilih kasih dalam memberikan perhatian di antara saudara2 dan dirinya. Bahkan perlakuan fisik pun sering dia terima. Perasaan dendam itu masih terus ada di kala bapak dipanggil Tuhan. Seakan dia tidak bisa terima semua perlakuan yang dia terima.

Dan setelah mengikuti Psikodrama, dia mulai bisa membuka hati untuk membuang rasa dendam yang selama ini tertutup rapat dalam hati. Dia pun sadar bila rasa dendam itu adalah penyakit hati yang bisa merusak diri dan harus segera dihilangkan. Dan dengan memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri itu bisa membuat ” kelegaan hati “.

Yang menarik dari obrolan kami dan itu sempat membuat saya merinding, adalah disaat dia mengatakan ” Psikodrama bisa membuat saya menjadi seorang Pemaaf “.

Benarlah …. bisa berdamai dengan diri sendiri akan mampu membuat hidup lebih baik.

Terimakasih psikodrama …… katanya.

 

Semarang, 24 November 2018

Kusuma

Mengajar dengan Hati #Goresanku 143


Lima belas tahun, selain sebagai kepala sekolah juga mengajar anak-anak balita cukup membuat saya jatuh cinta pada profesi guru anak-anak usia dini atau kelompok bermain. Ada kebahagiaan tersendiri saat mengajar anak-anak, membimbing dan membantu mereka hingga bisa lebih mandiri saat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Sejak mengajar di sini, saya mendapat pengalaman menghadapi anak berkebutuhan khusus. Di sekolah tempat saya mengajar kebetulan menerima juga anak berkebutuhan khusus. Ada pertimbangan tersendiri mengapa kami menerima anak berkebutuhan khusus.

Pada awalnya ada beberapa orangtua datang untuk berharap agar anaknya bisa bersekolah di sini. Dengan alasan, sebagian besar sekolah yang lain tidak bisa menerima anak-anak mereka. Dengan dasar itulah kami bisa menerimanya. Hak anak-anak untuk mendapat pendidikan harus dikedepankan, mereka juga perlu mendapat pendidikan yang layak seperti anak-anak normal lainnya. Sepengetahuan saya, selain belajar di sekolah mereka juga ikut terapi-terapi di tempat lain. Saya salut pada mereka, orangtua yang mau mengupayakan dengan berbagai cara demi kemajuan dan kebaikkan anaknya. Bisa dikatakan mereka tidak malu mempunyai anak berkebutuhan khusus. Mereka tidak menuntut nilai akademik, tetapi lebih mengedepankan sosialisasi dan kemandirian anak.

Memang …. mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Perlu ada ketrampilan khusus untuk menanganinya, disamping pentingnya kerja sama dengan orangtua sang anak.

Sebelumnya,sebagai pendidik saya tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Sebagai penyeimbang, tentunya selalu ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Dengan cara membekali diri, belajar dari berbagai media yang ada kaitannya dengan anak berkebutuhan khusus. Satu hal perlu dimiliki oleh guru, adalah mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus dengan hati.

Mengerti psikologi anak penting untuk membantu mereka keluar dari perilakunya yang berbeda dengan anak-anak lain.
Saya pernah mengajar anak berkebutuhan khusus, ini termasuk penanganan yang sederhana. Sebenarnya ada yang lebih rumit dari ini. Dia berusia 4 tahun, tapi masih minum dengan botol. Kebetulan dia juga belum bisa memegang botol sendiri. Saat minumpun, inginnya dipangku dan ditepuk-tepuk punggungnya. Saya berusaha mengajarinya supaya bisa memegang botol sendiri saat minum. Setelah beberapa waktu, tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat. Dia mulai bisa minum dengan memegang botol sendiri.

Untuk menangani anak berkebutuhan khusus penting melibatkan orangtua. Biasanya saya selalu memanggil orangtua murid untuk berbicara membahas keadaan dan perkembangan anak.

Sebagai guru saya perlu menyadari ketika berhadapan dengan orangtua, adalah membantu mereka melihat sisi positif anak dan tidak selalu melihat keterbatasannya.

Begitulah ….. benar adanya , mengajar anak berkebutuhan khusus adalah ” mengajar dengan hati “.

Kusuma, Maret’17

Pengalaman Mengikuti Psikodrama di UNISS Kendal


Pengalaman mengikuti Psikodrama di UNISS itu sangatlah menyenangkan dan menghibur walaupun disela-selanya terdapat perasaan sedih. Tapi itu semua membuat lelah saya hilang. Selama mengikuti serangkaian acara tersebut Pak Adi mengajak saya dan teman-teman untuk berpikir dan mengutarakan atau mengungkapkan perasaan kita masing-masing. Disitulah bagian yang membuat saya mendadak lemas karena saya harus benar-benar berpikir, hehe.

Namun dengan begitu saya dapat berpikir sesuai dengan fakta bukan kata “mungkin” atau “kita” lagi karena yang merasakan adalah saya. Jujur ketika awal Pak Adi meminta saya dan teman-teman untuk berpikir saya merasa takut karena nada bicaranya tinggi seperti orang galak, hehe, terlebih lagi ketika ada yang menyampaikan jawaban yang kurang tepat.

Dalam mengikuti Psikodrama ini saya benar-benar bersyukur karena saya dapat merasakan seluruh anggota tubuh, yang terkadang saya tidak sadar akan kegunaan tubuh ini, terkadang lupa betapa nikmatnya memiliki anggota tubuh yang lengkap dan begitu berharga dan kuatnya diri ini ketika menjalani hari-hari yang terkadang melelahkan.

Saya sangat berterimakasih kepada Sang Pencipta yang masih memberikan saya nafas dan diberi kesempatan untuk dapat mengikuti Psikodrama. Tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih kepada Pak Adi karena telah meluangkan waktunya dan telah menjadi sutradara dalam Psikodrama di UNISS.

Kendal, 21 November 2018

Aisyah Ai

Psikodrama Memberikan Kebermaknaan bagi Diriku dan Lingkunganku


Awalnya aku tertarik Psikodrama karena aku suka teater. Aku mantap, langkahkan kakiku dari Cirebon menuju pelatihan Psikodrama di Bandung tanggal 24-25 Oktober 2018.

Awal materi..Aku masih pakai topeng untuk melakukan gerak. Aku masih malu untuk menjadi pohon atau apapun itu. Seiring berjalannya waktu, Aku semakin masuk dan mulai bisa menikmati peran yang aku mainkan. Topengku kubuka satu persatu, sehingga aku mulai nyaman. Aku bisa ekspresikan diriku semauku, tidak peduli jelek dilihat orang, yang penting aku nyaman dan terselip rasa bahagia. Aku bisa berbaur dengan teman-teman yang lain yang tadinya tidak aku kenal.

Saat Aku diminta untuk mengucapkan terima kasih pada seseorang. Aku langsung teringat kepada mendiang suamiku. Aku berterima kasih karena sudah diwariskan 5 anak yang baik dan menyenangkan.

Aku katakan pada suamiku, “Terima kasih dengan warisan ini dan aku beserta anak-anak kuat. Kami saling menguatkan untuk meneruskan hidup tanpamu.”

Itu kataku. Rasanya plong, seperti lepas bebanku, dan aku semakin sadar bahwa aku memang kuat untuk diriku dan anak-anakku.

Hari kedua, semakin lepas aku bisa ekspresikan perasaanku lewat gerak. Aku menjadi sebuah kursi yg unik, kuat dan nyaman untuk diduduki. Aku memaknai hidupku bahwa aku harus menjadi diriku dengan keunikanku. Aku harus kuat dan memberikan arti untuk sekelilingku, dan aku makin menyadari untuk lebih peka menangkap segala sesuatu yang bermakna di sekelilingku.

Terima kasih Psikodrama sudah memberikan kebermaknaan akan kehadiranku untuk diriku dan lingkunganku.

Terima kasih buat Mas Didi dan Mba Wiene atas ilmunya…

Cirebon, 1 November 2018
Aku..Mimi Mulyati

NB
Itu pengalaman saya..makasih banyak mas Didi..apalagi waktu mas Didi berperan sebagai suamiku dan mengatakan bahwa aku tenang karena kamu kuat..duh rasanya itu yang akan dikatakan suamiku..makasih banyak ya mas..🙏

Sembuhkan Badan Melalui Pikiran : Sebuah Resensi Buku


Ketika Dokter berkata bahwa penyakit ini tidak ada obatnya,
Maksudnya adalah kamu harus mengobati sendiri penyakitmu.
Louise Hay

Louise Hay adalah pengajar metafisika dan telah menulis beberapa buku dan karya yang telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dan diedarkan di 35 negara. Mengapa karyanya dapat diterima oleh kalangan yang begitu luas? Jawabannya saya peroleh setelah membaca buku tulisannya yang berjudul “ Heal Your Body”. Dalam buku tersebut, Louise berbagi cerita tentang keberhasilannya menaklukkan kanker vagina yang di deritanya alih-alih melakukan operasi seperti yang disarankan oleh dokter kepadanya. Continue reading →

Menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi Relawan Siaga Bencana yang Sehat Mental


Tanggal 10 Oktober dijadikan sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. WHO pertama kali menginisiasi Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tahun 1992, misinya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa. Meningkatkan kesadaran seputar kesehatan mental dan memobilisasi usaha untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik.
Continue reading →

Kami Membuka Emosi : Impressi Mengikuti Psikodrama di Yogyakarta


Jumat tanggal 3 agustus 2018. Pertemuan kami dengan pak didik dimulai dengan satu pertanyaan. “Siapakah kamu?”
Mayoritas dari kami memberikan jawaban yg umum yaitu nama, tanggal kelahiran, hobi (yg beberapa adalah kebiasaan jelek kami). Beliau pun langsung mengatai, “perkenalanmu itu setingkat anak TK.”

Ternyata yg ingin pak didik ketahui adalah “siapakah kami”, identitas yang kami pilih sendiri, bukan yg diberikan oleh orang lain. Lalu beliau menjelaskan bahwa banyak orang muda yg tidak tahu identitasnya, atau perannya sendiri. Tentu pak didik juga mengakui bahwa itu bukanlah sesuatu yg mudah untuk ditemukan karena dirinya sendiri pun baru beberapa tahun lalu menemukan identitasnya. Sebenarnya lebih ke “legacy” sih, apa yg ingin kamu cantumkan di tombstonemu/ sebagai siapa, kamu ingin diingat oleh dunia. Continue reading →

%d bloggers like this: