Tag Archives: bersyukur

Rasa Empatiku Muncul Lagi ; Refleksi Psikodrama di Salatiga


Hari ini tanggal 19 Juli 2017, saya belajar Psikodrama untuk pertama kalinya. Awalnya saya kira psikodrama itu seperti teater, berakting seperti pemain sinetron yang ‘alay’, tapi ternyata tidak seperti itu. Kelas hari ini lebih lama dari biasanya, namun karena banyak praktek, kelas tidak begitu terasa lama. Saya belajar banyak hari ini, di psikodrama ada 3 tahapan yaitu warming up, action, pemaknaan (reflection). Continue reading →

Advertisements

Kesan mengikuti Psikodrama di Yogyakarta


18 Maret 2017 adalah saat pertama saya mengenal Psikodrama. Sebagai seorang mahasiswa Psikologi saya merasa perlu untuk tahu banyak tentang terapi psikologi yang suatu saat akan berguna untuk klien klien saya nantinya.
Tidak sedikitpun terbersit dalam pikiran saya bahwa Psikodrama inilah yg menjadi “obat” bagi rasa marah dan ketidakmampuan saya menerima kepergian papa yg sangat dekat dengan saya. Seriously???? Continue reading →

Membuat Hidup Makin Sulit #Goresanku 140


Ide menulis pengalaman ini berawal dari obrolan bersama seorang teman. Dia bercerita tentang permasalahan hidup yg dialami salah satu kerabatnya.
Sebenarnya masalah tersebut sepele sj. Karena hanya kurang adanya kumunikasi dalam keluarga, masalah menjadi besar dan rumit.
Obrolan saat itu makin asyik saja karena kebetulan masalah tersebut ada sedikit kesamaan dengan masalah yg ada di keluargaku. Continue reading →

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya, Refleksi Psikodrama Bandung 251116


Awalnya, alasan saya mengikuti kegiatan psikodrama yang diadakan oleh pak Didik (begitu sapaan akrab pak Retmono Adi) adalah untuk mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikdorama itu sendiri. Tidak terpikir di benak saya bahwa peserta akan diajak untuk mengalami efek dari psikodrama itu juga. Akhirnya setelah menghubungi pak Didik dan mendapat bocoran kegiatan yang akan dilakukan, saya semakin penasaran karena katanya akan full praktek pada hari H nanti. Ditambah lagi diminta membawa semacam kain, selendang, atau Pashmina. Semakin bertanya-tanyalah saya, bakal ngapain ya nanti?
Hari H pun tiba dan kegiatan diawali dengan berbincang-bincang tentang harapan apa yang ingin didapatkan dari kegiatan psikodrama dengan masing-masing peserta. Rata-rata harapannya mirip dengan saya, yaitu ingin mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikodrama. Setelah pak Didik berkenalan secara umum dengan peserta, masuklah pada sesi perkenalan sesungguhnya. Continue reading →

Refleksi Psikodrama Si Pemalu


Saya Si Pemalu dan tidak enak-an pada orang-orang di lingkungan yang menurutku kurang mendukungku dan selalu berharap adanya keajaiban untuk mendapatkan teman dekat se-fakultas. Jujur saja, saya kurang dekat dengan teman-teman yang berada dalam kelas ini. Saya selalu sungkan meskipun hanya dalam meminjam barang yang mereka miliki. Meskipun kami telah lama bersama dalam satu fakultas maupun kelas, saya belum merasakan kedekatan yang sebaiknya saya dapatkan bilamana dibandingkan dengan kedekatan mereka pada teman-teman yang lain.

Continue reading →

Asal Usut Asal Usul


Sebenarnya darimanakah asal usul seorang manusia? Ehm, manusia, tampaknya kita berbicara tentang sesuatu yang terlalu jauh, terlalu luas ya? Bagaimana kalau kita berbicara tentang sesuatu yang lebih sempit saja, asal usul saya? Saya…siapa saya? Continue reading →

Takut Apa?


Perubahan. Hm, menulisnya mudah saja, tapi tidak mudah menjalaninya. Prinsipnya sih sederhana saja, dari suatu keadaan, menjadi keadaan yang lain, ada yang berbeda di dalamnya. Dilihat di atas kertas, mudah. Masalahnya, ketika benar-benar terjadi dalam hidup, rasanya susahhhhhhhh sekali. Meninggalkan semua kebiasaan, kehilangan pegangan, mungkin ada rasa yang hilang dan tak terbalaskan juga…entahlah, aneh sekali rasanya. Continue reading →

Cukup Hidup


mengenang ibunda teman yang berpulang hari ini 7 juli 2016

Saya sangat sering memusingkan kehidupan, arti hidup, tujuan hidup, segala pernak pernik tentang hidup menggelayuti pikiran. Namun hari ini saya kembali disadarkan, bahwa hidup tidak serumit yang dibayangkan. Hidup, hanya seperti embusan angin, datang dan pergi, terkadang bahkan sebelum kita menyadarinya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengatur awal dan akhir hidup. Sebaliknya saya malah pusing dengan bagaimana hidup ini berproses, memikirkannya seolah saya tahu seberapa panjang hidup berlangsung. Continue reading →

Ada Karena Tiada


Seperti pepatah terkenal, dikatakan setelah gelap terbitlah terang. Beberapa hari lalu adalah gelap pekat, dan bagaimana pun juga saya mencoba untuk percaya bahwa terang akan terbit, rasanya tidak ada titik terang sama sekali. Saya bergumul dalam kesedihan, bergelut dengan air mata. Namun tanpa saya sangka, tidak tahu mengapa dan bagaimana, tiba-tiba terang itu terbit hari ini. Pagi ini saya terbangun dengan harapan, matahari yang saya tatap dari jendela berbeda hari ini, dia memancarkan terang ke dalam hati. Continue reading →

Hikayat Pengemis Harga Diri


Hidup adalah masalah memberi dan menerima. Tunggu, ada yang salah disini. Pernah perhatikan ayat alkitab? Pernahkah disebut kalau manusia seharusnya mengharapkan untuk menerima? Manusia, saya, diharapkan untuk memberi, urusan menerima, itu di luar kemampuan saya, bukan juga hak. Jadi ini bukan hukum hak dan kewajiban; kau memberi adalah kewajiban, maka kau menerima adalah hak. Continue reading →

%d bloggers like this: