Tag Archives: bermain peran

Pengalaman Kelas Psikodrama di Salatiga


Tadi pagi saya baru saja mengikuti pelatihan psikodrama. Awalnya hampir tidak niat untuk ikut karna kelasnya dadakan dan pasti akan banyak yang dikorbankan jika tetap ikut. Tapi rasa penasaranku membuatku tetap ingin ikut dan akhirnya aku ikut. Pas awal masuk kelas, saya langsung dikagetkan dengan kata “frezz” artinya untuk menghentikan gerakan dalam drama. Saya lalu berhenti beserta teman-teman yang juga datang bersama saya. Itu dilakukan bapaknya karna ia mau menjelaskan betapa pentingnya etika ketika kita berada di lingkungan sosial. Continue reading →

Psikodrama adalah Eksplorasi Tindakan


Ini adalah istilah kegiatan kelas yang Saya gunakan untuk menyatakan drama, atau psikodrama. Penerapan drama, pada antologi saya di Interactive & Improvisational Drama. sudah  saya rubah, bagaimanapun saya pikir lebih baik untuk menyebut kategori ini “Eksplorasi Tindakan “-atau, sebagai alternatif, “Enactments Eksplorasi.” Saya menulis kembali dua buku besar untuk Psikodrama, memperbaruinya, dan menggunakan judul itu, untuk beberapa alasan:

Kebanyakan orang berpikir drama disetarakan dengan teater. Di antara seniman teater, drama adalah istilah yang lebih inklusif, tetapi hanya sedikit orang tahu ini. Drama (atau teater) untuk sebagian besar adalah scripted, perform, yang dilakukan aktor sebagai “produk polesan” kepada khalayak yang relatif pasif untuk tujuan hiburan. Dan budaya kita penuh tidak hanya drama panggung, namun juga film, program televisi, segala macam acara , DVD, dan sebagainya. Continue reading →

Realisme, Keaktoran, dan Stanislavski


September 1st, 2008 by M. Fadli, aktif di teater Rumah Teduh

Stanislavsky adalah seniman sejati. Dia meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton tak lagi membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Menurut pendapat saya, begitulah teater seharusnya. (Lenin,1918)

Continue reading →

Refleksi Psikodrama Si Pemalu


Saya si pemalu dan tidak enak-an pada orang-orang di lingkungan yang menurutku kurang mendukungku dan selalu berharap adanya keajaiban untuk mendapatkan teman dekat se-fakultas. Jujur saja, saya kurang dekat dengan teman-teman yang berada dalam kelas ini. Saya selalu sungkan meskipun hanya dalam meminjam barang yang mereka miliki. Meskipun kami telah lama bersama dalam satu fakultas maupun kelas, saya belum merasakan kedekatan yang sebaiknya saya dapatkan bilamana dibandingkan dengan kedekatan mereka pada teman-teman yang lain. Continue reading →

Tugas Refleksi Kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi – Kelas Psikodrama


Pada kelas psikoterapi dan rehabilitasi kali ini, saya memulai hari cukup pagi karena pada jam 8 pagi akan ada kuliah tamu psikodrama dari bapak Retmono Adi yang berasal dari luar kota. Pada awalnya saya pikir saya datang cukup telat dibandingkan dengan teman-teman lain, tapi ternyata saya datang pertama sebelum mereka. Pemikiran tersebut muncul karena biasanya pada jam pagi selalu terjadi kemacetan di jalan yang saya lalui. Sesampainya di kelas, saya langsung membantu ibu Erlyn mempersiapkan segala keperluan untuk kelas nanti. Continue reading →

3 Hal yang Perlu Ada Dalam Latihan Teater dan Saran Menulis yang Lebih Baik


Beberapa hari yang lalu, temen KRST (Keluarga Rapat Sebuah Teater) sebuah kelompok teater Kampus di Fakutas Psikologi UGM, Yogyakarta, mengadakan latihan rutin. Ada pernyataan bahwa latihan rutin kurang diminati, kebanyakan berharap latihan untuk pentas alasannya sudah jelas naskah dan perannya.

Memang beda antara latihan rutin dengan latihan untuk persiapan Pentas, (mengenai bedanya, nanti akan dituliskan pada kesempatan lain). Tulisan kali ini mengungkapkan beberapa kesamaannya.

Ada 3 hal yang perlu dipastikan dalam berlatih teater baik waktu latihan rutin maupun latihan untuk persiapan Pentas, yaitu : Continue reading →

Penerapan Psikodrama untuk Penyampaian Materi pada anak anak


Hari ini, Kamis, 16 Juni 2016, belajar bersama berlatih Roleplay,…

Lembaga Mahasiswa Psikologi Universitas Gadjah Mada, akan melakukan bakti sosial dengan berkunjung ke Panti Asuhan. Mereka akan melakukan Role Play dalam rangaka mengajak kesadaran akan pentingnya Kebersihan.

Pukul 09.09 WIB acara dimulai, meski masih ada yang akan datang tetap dimulai.

Aku buka dengan bertanya, “Tolong ceritakan apa yang diharapkan dari acara hari ini ? Continue reading →

8 Tips: Bagaimana Role Play yang efektif untuk Interviews & Assessments


Jan 19, 2016

Belajar Bagaimana Role Play yang Efektif

Metode Role Play biasanya digunakan sebagai bagian dari proses perekrutan, Assesmen Center dan program pengembangan kepemimpinan, biasanya berpusat di sekitar studi kasus rekaan yang relevan. Tujuan menggunakan role play umumnya untuk melihat bagaimana Anda mengelola orang, berperilaku dan seberapa efektif Anda berkomunikasi dan terlibat dengan orang lain – boleh jadi mereka manajer lini, rekan Sejawat, penerima langsung laporan, pelanggan potensial …dll Continue reading →

Overthinking #10 Life Career Employee Faith


Kemarin sore saya dan atasan saling bicara. Dia bertanya apa yang saya suka dan tidak suka, apa kendalanya, ada masalah dimana, apakah saya happy atau tidak, dan lain-lain. Pertanyaan ini bagus dan sangat saya tunggu-tunggu dari kemarin. Saya stuck dengan pekerjaan ini. Saya tidak bahagia. Saya tidak suka dengan perlakuan orang-orang disini. Saya tidak suka ketidak harmonisan dan ketidak teraturan disini. Kebodohan di meeting. Terlalu hirarki. Banyak hal ingin saya utarakan. Continue reading →

Lelah #9 Life Career Employee Faith


Aku lelah. Setiap orang yang melihatku sekarang bisa melihat dengan jelas kalau cahaya di wajahku berhenti bersinar. Aku bisa tersenyum, berbicara layaknya tidak terjadi apa-apa – normal, namun jiwaku merana kesakitan. Orang-orang mendiagnosis penyakitku adalah cape hati. Secara fisik masih sehat-sehat saja, tapi wajah yang muram ini asalnya jelas dari dalam hati.
Saking lelahnya, aku lupa beberapa nama orang terdekat disini. Aku sulit mengingat-ingat siapa nama mereka. Ada beberapa, jelas-jelas baru kenalan dan jelas-jelas sering berhubungan, aku tidak dapat menyebut nama mereka.
Aku melihat wajah mereka, hati mereka, mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara padaku, namun aku tidak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan. Pikiranku memprogram untuk setiap perkataan ini, adalah jawaban ini. Karena semua hanya di permukaan, memoriku tidak cukup kuat mengingat setiap perkataan mereka. Jangankan perkataan yang baik, perkataan yang menyakitipun tidak mudah kuingat. Hari ini dengar, besok paginya aku sudah tidak ingat kejadian hari ini. Bukan terhapus dari memori begitu saja, tapi kalau ada yang bertanya bagaimana kejadian kemarin, jiwaku tertekan, aku tak mampu mengatakannya.
Jiwaku lesu. Hati yang gembira terbang dariku. Aku tertawa, tapi hatiku tidak merasakan kegembiraan itu. Aku menangis, tapi hatiku tidak benar-benar sedih. Wajah dan prilakuku tidak terkoneksi dengan hati. Aku layaknya robot.
Aku tidak lagi bisa toleran. Ada yang tertawa di sebelah sana, ada sesuatu menggangguku. Ada yang tersenyum padaku, aku tahu senyumannya tidak tulus, dan aku masih harus menghadapi orang itu lagi dan lagi. Aku bertahan. Setidaknya aku mencoba untuk bertahan. Tidak boleh menyerah, kata-kata itu terus menerus mengiang di telinga. Apakah aku bekerja karena aku perlu membuktikan diri kalau aku bisa, sehingga aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri? Apakah aku harus terus bertahan demi tujuan yang aku set untuk orang lain lihat ini tujuanku, padahal bukan ini yang aku inginkan?
Aku makan dan tidak ingat apakah sudah kukunyah. Aku menelpon dan berbicara, tapi aku lupa apa yang sudah aku bicarakan. Aku melihat orang, tapi tak mengenalnya. Aku terdiam dan lebih nyaman terdiam. Aku mencoba untuk gembira. Berusaha memberi kebahagiaan pada diri sendiri, namun mengapa jiwa ini menahan perasaan gembiraku.
Apakah semua karena faktor eksternal yang mempengaruhi diriku begini, atau faktor internalku yang justru membuat aku begini?
Ketika dulu teman cerita begini sama aku, aku akan menyarankannya untuk memperbaiki faktor internalnya dulu. Sekarang, internalku sedang berjuang. Terus melangkah atau harus menyerah. Apapun pilihanku, bukan berarti aku kalah. Benarkah?

 

Rabu, 2 Maret 2016

 

~SJU~

%d bloggers like this: