Category Archives: Refleksi

Pengalaman Psikodrama di Samarinda ; Bersyukur Membuat Bahagia


Pada hari Minggu kemarin saya berkesempatan mempelajari ilmu Psikodrama di kampus saya menimba ilmu dulu Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan beruntungnya saya belajar langsung dari praktisi Psikodrama Bpk. Retmono Adi.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah bagaimana hubungan kita dengan diri sendiri (personal), orang lain (interpersonal), & yang menciptakan saya (transpersonal). Selaras dengan itu saya juga belajar jika saya mau hubungan saya baik dengan orang lain yang pertama harus saya lakukan adalah menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam diri saya terlebih dahulu dengan lembut terhadap diri sendiri.

Saya juga belajar bagaimana cara saya manganalisa suatu permasalahan yang ada di dalam diri saya dengan menentukan apakah permasalahan itu mengenai emosi, kognitif, atau tindakan yang harus segera saya kerjakan & memberi waktu atau batasan sampai kapan masalah ini ada di dalam diri saya.

Saya juga berkesempatan menjadi tokoh protagonis cerita saya pada masa kecil di recall & dimainkan pada saat pelatihan. Ternyata tanpa saya sadari saya kurang mengingat kebaikan orang – orang di sekeliling saya, terutama kedua orang tua saya betapa nikmat syukur saya panjatkan karena dengan Psikodrama saya diingatkan dengan kebaikan dari Bapak & Mamak saya dari kecil hingga umur saya 24’th. Mengingat kenangan – kenangan yang indah mampu membuat saya sangat bersyukur dilahirkan dari keluarga yang selalu mencintai saya & selalu mendukung saya dalam suka duka.

Alhamdullilah….. “Terima kasih Psikodrama”

Samarinda, 11 Oktober 2018

Mira

Advertisements

Menulis Buku : Ide 1 Persen, Selanjutnya 99 Persennya Kerja Keras


Sabtu, 29 September 2018, Aku ikut seminar yang diadakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada, KGM, mengenai bagaimana Menulis Buku. Ada beberapa hal penting yang ingin aku catat dan aku bagikan dalam mengikuti acara itu. menurutku ini berguna untuk menulis buku atau pun untuk berkarya atau membuat Produk yang akan dijual.

Penceramah mengungkapkan 3 hal penting dalam menulis buku, yaitu : Continue reading →

Apakah Kita Sudah Berbaik Hati pada Diri Sendiri ?


Perkembangan zaman menuntut saya untuk berkompetisi satu sama lain dan menjadi terbaik untuk menggapai suatu posisi tertentu.

Seringkali saya diajarkan oleh lingkungan untuk berjuang, kuat dan tidak mengasihani diri sendiri dalam rangka menjadi diri sendiri. Melalui pelatihan psikodrama dengan judul Stress Management and self compassion yang diisi oleh mas Didik (aka Retmono Adi). Saya tidak sendirian, ada 7 orang teman saya yang berlatar belakang psikologi, beberapa dari mereka menjadi praktisi di bidangnya.

Aktivitas terapi melalui psikodrama sangat menyenangkan, kami tak banyak bicara, kami hanya bergerak secara spontan. Kami tertawa, saling menganalisis satu sama lain, menguatkan satu sama lain. Hal yang sedikit mengejutkan bagi saya, teman saya yang selama ini memiliki image tegar dan tangguh dapat menintikkan air mata karena teringat suatu kejadian di masa lalunya. Reaksi emosi dari teman-teman yang mengikuti sesi terapi keluar, tanpa ada rasa canggung, emosi negatif terpendam seperti penyesalan, kebencian, marah dan sedih keluar mengalir begitu saja.

Saya belajar dalam pelatihan psikodrama mengenai kebaikan untuk diri sendiri. Saya mendapatkan pelajaran untuk berbuat baik pada diri sendiri. Saya termasuk orang yang keras pada diri sendiri, saya percaya proses tidak akan menghianati untuk mendapatkan hasil. Untuk berjuang terkadang saya merasa iri dengan pencapaian teman-teman saya yang menurut saya lebih baik. Saya seringkali iri melihat teman saya yang kuliah di kampus keren di luar negeri, iri melihat teman yang bekerja di perusahaan bonofit, iri melihat bisnis teman yang sukses. Rasa iri memacu saya untuk berkompetisi menjadi lebih baik.

Namun rasa iri ini membuat saya menjahati diri sendiri. Saya tidak menghargai usaha saya sendiri karena merasa orang lain lebih baik daripada saya. Menyalahkan diri sendiri, membiarkan diri tenggelam dengan kesedihan, membandingkan diri dengan orang lain merupakan bentuk kejahatan pada diri sendiri. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk berdamai, menerima keadaan diri. Saya mendapatkan satu pemahaman baru bahwa setiap orang punya cerita mengenai dirinya, mereka juga berjuang menjadi diri terbaik.

Hakikatnya hasil yang kamu ingin capai bertujuan untuk dinikmati bukan untuk mempersulit dirimu.

Yogyakarta 16 September 2018

Diana Putri Arini

Psikodrama Parenting dari Diskusi WAG


Berangkat dari sebuah video yang viral tentang kekerasan dalam rumah tangga, lalu muncullah ungkapan perasaan yang menjadi awal dari diskusi yang menarik.

Berikut diskusinya dengan diedit untuk tata tulis dan konfidensialnya.

K : Jangankan Orang lain Mbak,,
Lha Wong anake dewe ki lho…nek dong njengkelke yo di jenggungi😃😜😃

E : Sopo K ? Nek aku ora tau🤭
Soale welinge wong tuaku,sak jengkel-jengkelo mbi anak jok sampe cengkiling…ndak tuman jare
Dadi mpe anakku le cilik kelas 9 aku durung nate cilike njiwit gedhene ngeplak🤭
Ning janagan ditanya…barangng apa yang sudah jadi korban 😜

K : Lha okeh beritane lho ya 😃

J : Aku yo sok esmosi kok, bare, gelone ra ilang-ilang

E : Nah kan,palagi nek ndadak di morotangan,bekase isih ngecap,emosine wis ilang,kari gelone
Tapi ra maido yo,wong nek jengkel mbi anak kiy jiiiaaan😬
Nopo P ?

P : Aku tau mukul nyubit anakku😓

E : Ndak papa P, belum terlambat untuk berubah koq
Btw Yo tergantung si anak juga sih, ga bisa dipadakne mbi anak-anakku
Soale aku jinjo P, pernah duluuu banget,sekaline aku nyubit anakku pas masih TK, ya ampuun le nangis kelara-lara, mingsek-mingsek
Ra tegel aku
Trus ditambahi simak ngomongi ngono, ya wes tak eling-eling terus

P : 👍👍👍👍👍👍

E : Tapi sing no 2 rada tamblek juga😬
Nah iku kudu korban sapu mpe tugel, koco rak tv pecah🤭
Saking esmosine aku

Ch : Ga sama kondisi keluarga satu sama lain… kondisi ortu, anak-anak. Bahkan anak 1 dengan yang lain beda cara memperlakukan… meskipun teori parenting sudah banyak sekarangg. Yang terbaik masing-masing yg tau…
Jangan sampai terjadi seperti yang di video tadi. Amin..amin..amin…

E : Yups betul…..aku juga ga pernah ikut seminar parenting koq 🤭
Asal kita mau tanggap dan memahami karakter anak masing-masing ….pasti aman nyaman dan damai🤪
Kata orang-orang tua,wong pitik sak petarangan wae yo bedo-beda endog e😀
Malah ono le buthuk juga

RA : Pengalaman ini dpt direfleksikan, lalu dapat diceritakan pada si anak ketika usianya sudah mulai mengerti,…maka akan jadi cara memutus rantai kekerasan itu.

E: Yang besar terlalu pendiam om, ga di gong ga omong
Beda ma si kecil,paling suka nanya dulu waktu kecil dia gimana, kakak gimana?
Malah curcol🤭

RA : Ceritakan saja semua, dengan seluruh emosi yg menyertai..sebelum, sesaat, dan sesudah peristiwa itu…

P : Oke

RA : Pengenalan emosi yang menyertai menjadi penting…(karena salah satu dan mungkin yang utama, emosi itu adalah Cinta), selanjutnya dipahami bahwa cara mengungkapkannya mungkin tidak tepat atau menyakitkan. Oleh karena itu, sesal dan maaf juga perlu diungkapkan, agar utuh dalam menangkap keseluruhan “peristiwa” itu. Dengan demikian jadilah Rekonsiliasi, berdamai bersatu kembali.

J : 🙏🙏🙏Biyen bapakku gualak puol, tekane saiki aku yen pas galak kadang eling lha iki khan adegan ro dialog ke bapakku,…. njuk geli kemekelen dewe😂😂😂

RA : Pengalaman dirimu yg kauceritakan padaku, secara jujur dan utuh (melibatkan berbagai emosi yg menyertainya) yang jadi inspirasiku…Bro

P : Iya, aku terus minta maaf, kulihat ada kelegaan semoga tak ada dendam🙏

RA : ….dan semua dari kita paham bahwa Dia Sendirilah, Cinta, itu…🙏🙏🙏

E : Jam istirahat siang buat ngangsu kawruh seko dulur-dukurku👍 tq 🙏

 

Semoga bermanfaat. Terima Kasih

Sebuah Gambaran #Goresanku 142


Ada seorang guru berbicara di depan peserta pertemuan. Tiba-tiba mengeluarkan selembar koran bekas yang bergambarkan peta daerah dimana Dia berceramah. Koran bekas bergambar peta itu disobek menjadi beberapa bagian.
Kemudian guru berkata:” Saatnya kita sayembara, siapakah diantara anda yang dapat menyusun kembali potongan-potongan gambar peta ini ? “.

Banyak peserta yang berminat ikut sayembara dan mencoba untuk menyusun potongan Koran tersebut. Sayang sekali tidak ada peserta yang mampu menyusun kembali.
Kebetulan ada seorang anak kecil maju dan minta ijin untuk menyusunnya. Dan guru tersebut mempersilakan.

” Guru …… bolehkah potongan Koran ini dibalik ? ” kata anak kecil itu.

Guru: ” Maksudnya yang ada gambar peta dibawah ?.”

Anak: ” Iya guru “.

Setelah semua potongan kertas itu diposisikan seperti yang diminta, anak itu diam. Sebentar mengamati potongan kertas berserakan itu. Lalu ia mulai merangkai dan dalam waktu yang singkat dapat menyelesaikannya.

Para peserta yang lain merasa heran.

Guru: ” Bagaimana kamu bisa menyelesaikan dengan waktu yang begitu singkat ?”. Sedangkan kamu tidak bisa melihat gambar peta itu.

Anak: ” Di balik gambar peta itu itu, saya melihat potongan gambar seorang manusia. Berdasarkan gambaran itu saya hanya mencoba merangkai gambar potongan manusia menjadi seorang manusia yang utuh “.

Pesan moral:

Dalam membangun institusi, lembaga, masyarakat, bangsa dan negara, bangun dulu manusianya bukan sebaliknya.

Kusuma, Juli 2018

Obrolan Generasi X tentang Generasi Z, yang Anggap Agama Paling Penting


Tulisan ini berdasar obrolan di WA, karena menarik maka aku ingin bagikan juga di sini. Semoga bermanfaat.

+ Apakah krn dekontruksi tdk juga menawarkan solusi, lalu kembali ke religi?

– Lha.. Itulah… Mungkin juga sudah terlanjur jadi bangsa ‘konsumtif’, tapi tidak punya daya cipta.. Mungkin ‘kehampaan’ itu yg membuat kembali menguatkan ‘identitas religi’…atau.. Itu sebagai sebentuk defends mechanism kolektif juga bisa.. Defends atas dunia digital yg kian mengglobal Continue reading →

…. karena Sukses adalah …..


Aku ingin membagikan tulisan dari Group Telegram mengenai Sukses. Jawaban yang sering diberikan oleh Kids Jaman Now, apabila ditanyakan tentang tujuan hidup atau cita citanya. Semoga dapat menjadikan bahan refleksi.


SUKSES
Setyo Hajar Dewantoro:

Malam ini mari kita merenung tentang arti sesungguhnya kesuksesan. Dan bagaimana kita bisa mencapai kesuksesan yang sesungguhnya. Kita membahas ini karena kata sukses kadung diwacanakan sangat luas dan mau tak mau ada dalam memori kita. Setidaknya itu terekspresikan dalam hasrat pribadi untuk sukses, atau kehendak agar anak anak kita bisa mencapai sukses. Continue reading →

Gusti Nyuwun Kawelasan ; Refleksi Kejadian Hari ini di Surabaya, Sidoarjo Jawa Timur,


Sebelumnya turut berduka untuk Indonesia, dan menyadari bahwa yang terjadi juga oleh anak anak bangsa sendiri. Aku tak ingin turut membenci, dan menawarkan pensikapan dengan refleksi berdasar tulisan dari Tunjung Dhimas Bintoro ini:

Keyakinan

Hampir setiap hari di kehidupan fana ini kita dihadapkan dengan jutaan bentuk paham keyakinan. Sementara setiap hari kita harus kuat merawat satu keyakinan yang kita yakini, entah yang muncul dari sanubari atau paksaan dari suatu sekte-sekte tertentu. Bahkan warisan orang tua yang jatuh turun diikuti begitu saja. Continue reading →

Demi Hari Pendidikan Nasional ; Ilmu Bukan Barang Dagangan


Pernahkah memiliki rekan kerja yang pelit akan ilmunya, ia tidak mau memberikan ilmunya nanti takut tersaingi. Atau pernahkah bahkan memiliki atasan yang tidak mengajarkan bagaimana kerja yang benar namun selalu mencari salah anak buah, agar terlihat pintar dan takut jika nanti digantikan? Atau pernahkah mengikuti pelatihan oleh pembicaranya, tidak boleh mengcopy materinya, takut nanti materi itu dipakai peserta untuk mengajar? Ada memang orang yang merasa bahwa kemampuan dan pengetahuan adalah miliknya, karena tidak mudah mendapatkannya maka tidak mudah juga ia berikan pada orang lain. Continue reading →

Lukaku Menjadi Lukamu (Puisi berdasar KDRT)


Anakku..
aku tahu kau luka,
lukamu mungkin parah
tapi aku ini sudah hancur..
duniaku pecah..
sekeping demi sekeping
kini..
tinggal dia lah satu satunya tempat berpijak
atau aku jatuh dalam jurang tak berujung
meski pijakan inipun rapuh, tajam, dan melukai
tapi..
hanya ini yang kupunya

aku tau kau sakit
dan aku terlebih sakit
aku jauh lebih sakit karena tak berdaya
karena tidak kuasa membela
karena ikut mencerca

oh Tuhan..
aku ibu seperti apa
kenapa tak kukorbankan nyawaku
demi melindungi harkatmu
malah aku diam membatu
melihat kau berjuang seorang diri
bukankah semua ibu akan begitu

aku terlalu takut
kehilangan demi kehilangan yang kualami
membuatku makin miris
tak mampu lagi kutanggung
jika harus merasakan pedihnya lagi

demi apapun
aku harus bertahan

Maafkan aku anakku
Maafkan jiwa rapuhku
Maafkan egoisku

walau mulai saat itu aku tak lagi mampu
tuk menutup mataku dalam tidur yang damai
bagaimana mungkin bisa damai
menyaksikanmu didera masalah
dan aku ikut menambah

kau pergi dengan kepala terangkat..
angkuh dan berani
aku bangga terlebih iri

kau gadis kecilku yang pemberani
sedang berjuang seorang diri
dalam dunia yang terlampau kejam untuk kita berdua.

aku tau kau kuat
dan aku bangga sekali padamu.
meski tak pernah kuucapkan…
tapi itulah yang kurasakan

kau bisa Nak
semangatmu menyala dalam tubuh kecilmu
sementara aku tinggal puing dan abu

pergilah…
kejarlah masa depanmu
pasti jauh lebih cemerlang

atau kebenaran
jika itu yang kau inginkan
meski nanti meluluh lantakkan
jika itu yang kau inginkan

 

MW

%d bloggers like this: