Category Archives: Refleksi

Kami Belajar Bersama Pada Hari Itu ; Tulisan Psikodrama di Surabaya 2019


Ada pepatah yang mengatakan belajarlah sesuatu yang baru setiap hari. Bahkan Albert Einstein pun mengeluarkan pendapat yang lebih keras lagi, “Once you stop learning, you start dying.” Kesempatan untuk belajar selalu hadir mengetuk pintu hati dan pikiran kita. Tinggal bagaimana kita menyadari dan bersyukur atas kesempatan itu dengan menggunakannya sebaik mungkin.

Tapi mudah mengatakan semua itu daripada melakukannya. Musuh terbesarku mungkin adalah rasa kekwatiran apakah bisa melakukannya atau tidak. Pada awal tahun baru 2019 ini saya diberi kesempatan untuk mencicipi belajar sesuatu yang baru itu. Kesempatan itu berupa memberikan materi pelatihan kepada para guru muda di suatu sekolah swasta yang bisa dikatakan nomor satu di kota Surabaya. Saya sangat menghargai para guru muda itu. Saya menganggap mereka istimewa karena merekalah penerus bangsa kita.

Posisi dan peran mereka juga sangat penting karena mereka berada di era waktu awal suatu perubahan besar. Apa yang mereka dapatkan dari pendidikan ilmu keguruan mereka belum tentu sepenuhnya akan membantu mereka menghadapi generasi millennial dan berikutnya yang sangat berbeda. Tantangan mereka besar ke depan sehingga respek saya juga besar kepada mereka. Butuh banyak keberanian bagi guru-guru muda untuk bisa langgeng di profesi mereka.

Tema yang sekolah minta saya berikan adalah etos kerja, tapi dikaitkan dengan menghadapi ketidakpastian di jaman sekarang dan pengaruh teknologi gadget yang sangat besar pada anak-anak didik jaman sekarang. Gurupun perlu adaptasi, tapi adaptasi tanpa pemahaman yang mendalam mengenai etika, moralitas, nilai-nilai, dan keutamaan yang penting mungkin dapat mengganggu proses adaptasi mereka, bahkan bisa saja sampai berujung pada keputusasaan.

Saya berfokus pada kemampuan diri sendiri untuk secara bijak membuat keputusan yang tepat, yang mana keputusan tersebut kadang membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kepekaan dalam memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekeliling mereka, terutama para anak didik, serta ketulusan, kejujuran, dan keutamaan lainnya.

Saya mengawali pemberian materi dengan sesi perkenalan. Kami duduk dalam bentuk lingkaran dan saya meminta satu-persatu untuk memperkenalkan nama dan bidang studi yang diampu, dan kemudian memperagakan suatu pose yang menunjukkan siapa mereka atau bisa juga keadaan hati mereka saat itu.

Proses perkenalan berjalan lancar dan penuh suka cita dengan diselingi berbagai guyon dari peserta karena beberapa dari mereka menambahkan informasi selain nama dan bidang studi (misalnya status kejombloan, dll). Kebanyakan pose yang dipilih, seperti dugaanku, masih pose yang sangat aman dan nyaman. Pose yang belum menunjukkan keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Opini ini saya berikan di bagian akhir sesi perkenalan tapi dengan hanya sekilas saja dan memakai bahasa yang ringan.

Saya kemudian menantang mereka dengan bertanya apakah mau keluar dari zona nyaman. Jawaban mereka secara antusias adalah “Mau!” Maka kemudian saya bawa mereka ke bagian berikutnya.

Pada bagian kedua ini, saya awali dengan pemanasan singkat, yaitu meminta mereka sendiri-sendiri membuat suatu pose sesuai instruksi saya, yaitu membuat pohon. Serentak mereka bergerak, dan hampir semuanya mengangkat tangan ke atas. Hanya ada mungkin sekitar 3 dari 26 orang yang tangannya tetap di samping badan, malah berdiri lurus seperti dalam keadaan siaga, tidak bergerak sama sekali, yang menurut mereka itu juga adalah pohon. Dari yang tangannya ke atas, semuanya membuat pose yang simetris. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, saya memancing dan mendorong mereka untuk mengamati semua pose dan memberikan opini mereka. Mereka akhirnya memahami bahwa masih banyak kemiripan dan serba simetris, padahal dalam dunia nyata pohon bisa beragam rupanya. Saya akhirnya memperagakan beberapa pose yang aneh dengan bertanya apakah pohon bisa berbentuk seperti itu untuk mulai membuka pemikiran mereka.

Kemudian kami lanjut dengan membuat pose pohon dengan berkelompok 3 orang dan 5 orang. Pesan-pesan yang saya berikan selama mereka berpose adalah untuk terus melakukan posenya secara hening, tidak perlu mengatur orang lain tapi berfokus kepada pemikiran sendiri. Ini berarti mereka perlu mengamati, mengobservasi, bahkan menunggu sampai teman kelompoknya menjadi sesuatu dulu baru kemudian menambahi. Saya mencoba berjalan dari satu kelompok ke kelompok berikutnya untuk bertanya kepada anggota kelompok mengenai posenya, perasaan yang dirasakan, apa yang mendorongnya untuk mengambil posisi itu, dan seterusnya.

Karena waktu yang terbatas (bagian bermain ini sekitar 1 jam saja), setelah itu saya memutuskan untuk mengajak seluruh peserta menjadi satu kelompok dan memperagakan suatu adegan yang mereka pahami karena terkait lingkungan sekitar sekolah mereka. Sebenarnya keinginanku adalah untuk mencoba dua adegan, satu mengenai lingkungan warung-warung usai jam sekolah di belakang sekolah di mana banyak siswa dan staf berkumpul, dan satunya lagi mengenai adegan di dalam kelas tapi apa daya waktu mengijinkan hanya adegan pertama.

Adegan berjalan dengan baik, walaupun ada hal-hal yang kurang sesuai. Misalnya ada beberapa peserta yang berkumpul di bagian belakang untuk membuat pintu gerbang keluar dan objek di sekitarnya, dan ada beberapa peserta yang mengadegankan warung, siswa-siswa yang ingin menyeberang jalan dan yang naik motor. Hanya saja, kedua kelompok itu sepertinya secara visual tidak menempatkan posisinya sesuai dengan keadaan realitas karena arah motor-motor bukan ke arah yang tepat. Beberapa peserta akhirnya saat refleksi mengatakan kebingungan mau menjadi apa.

Sambil berjalan dari satu orang ke orang berikutnya untuk bertanya mereka menjadi apa, saya mendengarkan perasaan dan proses berpikir mereka mengapa memilih pose itu. Hampir semuanya mengatakan bahwa sebelum menjadi sesuatu, mereka melihat dulu yang lain jadi apa sebelum melengkapi adegan.

Ada segelintir orang yang menginisiasi gerakan pertama yang memilih langsung untuk menjadi apa dan ini kemudian mereka refleksikan juga bahwa kadang dalam suatu keadaan, harus ada yang menginisiasi untuk bergerak. Bagi yang awalnya kebingungan, ada beberapa pembelajaran juga yang kami dapatkan, yaitu saat mengalami kebingungan, ada yang menyikapinya dengan langsung saja menjadi sesuatu walaupun berisiko tidak pas, tapi ada juga yang memilih sedikit berdiri di luar gerombolan dan tetap menjadi sesuatu tapi sesuatu yang lebih netral (misalnya pejalan kaki). Alasannya adalah karena tidak ingin membuat suasana di tengah gerombolan untuk menjadi lebih keruh dan membingungkan, dan ini langsung saya kembalikan kepada peserta dengan mendorong mereka untuk melihat aplikasi pendapat itu ke dunia nyata. Intinya adalah kita masing-masing punya cara yang unik dalam menyikapi suatu keadaan yang tidak jelas, dan ini semua bisa berujung pada keragaman berpikir dan bertindak dalam komunitas.

Satu peserta berefleksi mengenai pentingnya mengawasi terlebih dahulu, tapi bahwa pada akhirnya tetap harus membuat keputusan walaupun masih belum yakin mengenai keputusannya. Salah satu peserta juga memutuskan untuk menjadi tong sampah karena menurutnya tong sampah juga suatu benda yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan. Kesaksiannya itu kemudian ditanggapi oleh peserta lain yang merasa kagum akan kemampuan dan keberanian untuk menjadi sebuah objek yang mungkin sering dianggap jelek tapi sangat dibutuhkan.

Setelah selesai dengan adegan warung di belakang sekolah, peserta saya bawa kembali ke posisi melingkar untuk diskusi lagi. Kali ini, juga karena pertimbangan waktu, saya hanya bisa meminta mereka satu per satu memberikan satu hal yang paling berkesan bagi mereka. Hal-hal yang mereka ungkapkan adalah hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas tapi lebih mendalam lagi. Hal-hal tersebut kemudian sesudah break sebentar, kami lanjutkan dalam bentuk refleksi tertulis mengenai nilai keutamaan apa yang paling berarti bagi mereka, keutamaan yang sudah mampu mereka imani dengan baik dan keutamaan yang belum mampu mereka lakukan.

Pada akhirnya, syukurlah semuanya berjalan dengan sangat lancar dan indah. Saya benar-benar tersentuh juga di beberapa bagian dan kagum dengan kemampuan para guru tersebut yang dalam jangka waktu pemanasan sangat singkat mampu masuk ke dalam peran-peran dan berefleksi dengan mendalam.

Saya sendiri juga berefleksi bahwa ternyata semua yang saya persiapkan belum tentu bisa terlaksanakan sesuai dengan keinginanku, sehingga saya juga menerima ketidaksempurnaanku dalam melakukan tugasku. Pasti ada pesan yang terlewatkan, tapi tidak apa karena tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, yang pasti, saya belajar banyak pada hari itu. Saya belajar bahwa saya mampu melakukannya, bahwa saya bisa menjiwai apa yang saya katakan. Saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beberapa peserta, dan pesan-pesan yang mereka dapatkan menjadi pembelajaran juga bagiku.

Kami belajar bersama pada hari itu, dan itu sungguh indah. Terima kasih juga kepada Mas Didik yang sudah membimbing dan memberikan banyak masukan untuk semuanya bisa berjalan dengan baik. Berkah Dalem.

Surabaya, Januari 2019
Erlyn

Advertisements

Refleksi Gaya Millennials


Sering aku klo ke tempat umum ngelihat ada sampah bertebaran. Gak ngejijikin, cuman botol minuman, kaleng atau plastik… dengan jarang ke tempat sampah paling 5 meteran (kyknya, pokok mah deket).

Temen mah gak ngelarang, cuman ya mereka kadang ngomongin, “biarin lah. kan nanti ada yg bersihin. mereka lho dibayar untuk itu.”
well, iya sih. Cuman tempat yg kita kunjungin itu luas dan kurasa selain tenaga kerjanya dikit, gak mungkin mereka patroli tiap 5-10 menit cuman buat lihatin meja atau tempat yg rame ada sampah atau enggak.

Alasanku sendiri ya aku tu pengennya ke tempat wisata/umum, dateng, capek ya duduk. Terus tempat duduk yg ada mejanya gak bersih, dengan botol atau gelas plastik masih di atasnya.

“Ya tinggal kamu ambil terus buang kan?”
YES! THAT’S IT! IT’S FREAKING SIMPLE! Terus kenapa yg punya ninggalin gitu aja tu sampah??
The cup! It’s empty! You could just went to the trash bin and throw it there! It’s. Right. There!

Aku mau orang lain gak ngerasain hal itu. Orang dateng ke tempat wisata/umum tu duduk di meja yg gak ada sampah itu bukan kemewahan/luxury… tapi memang sudah semestinya.

Tapi biasanya gak sampai 10 menit, paling ada lagi sampah baru. Poster “buanglah sampah pada tempatnya” mah cuman poster, cuman hiasan.
Apa karena lagi gembar gembornya soal agama diganti jadi “kebersihan adalah sebagian dari iman”? kurasa bukan ide buruk juga.

Dari hal-hal kecil lah kita berbuat baik.
Aku sadar. Ke gereja bolong-bolong, Napas natal paskah aja enggak. masa adven aku bolong sama sekali. Sama temen juga aku sering cuek. Sama ortu kadang klo kiriman telat baru ngechat.

Sering kan tuh, “ah loe ngomongin orang biar berbuat baik, ibadahmu taat gak? Gak bolong2 gak?”
Endak, aku bolong2. Apakah aku harus taat beribadah baru boleh ngomongin orang? Kurasa juga enggak.
Malahan aku ada baca klo kita ngingetin orang, kita jadi inget sama peringatan itu. Sambil nyelam minum air gak?

Kurasa itu aja. Jadi panjang nantinya.
Sorry gak ada punchline, gitu aja. Trims udah mau baca.

Januari 2019

Joshua Emmanuel

Pengalaman Mengikuti Psikodrama,…. Aku Merasa Lebih Tenang


Hai, Aku Iis. Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku tinggal bersama Ayah dan Adik ku laki laki ku yang baru berusia 10 tahun. Usiaku baru menginjak 21 tahun bulan juli kemarin namun ku kira masalah yang kuhadapi dan kehidupanku begitu berat. Ayahku orangnya kasar dan keras tak pernah aku lihat dia lembut kepadaku atau adik ku, yang kulihat hanya kekerasan, yaaa.. Ini aku dan tanggungjawabku, Aku sebagai mahasiswi semester 5 di fakultas psikologi, aku sebagai kakak dan penengah di keluargaku, aku sebagai seorang pekerja untuk masa depanku dan aku sebagai teman yang mengasyikkan untuk mereka yang mengenalku.

Hai, Aku Iis, Aku sebelum mengikuti kegiatan Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS aku termasuk orang yang bertindak tanpa berfikir, kalaupun aku bisa ya aku lakukan, tanpa berfikir panjang untuk ke depannya. Aku tak begitu peduli dengan nanti bagaimana, yang pasti aku saat itu bahagia. Aku sibuk dengan kegiatan diluar rumah dan organisasi ku, karena dari situ aku bertemu orang baru dan aku bahagia. Aku yang melihat permasalahan begitu rumit bahkan pernah mencoba untuk mengakhiri kehidupan dan marah dengan Tuhan, kenapa kehidupan tak seperti mereka, yang kulihat begitu menyenangkan, dengan keluarga yang harmonis, orangtua selalu di temui di rumah dan nyaman dengan rumahnya, tanpa perlu mencari kebahagian di luar rumah yang sifatnya semu, yang sering ku lakukan sebelumnya.

Hai, Aku Iis, setelah mengikuti kegiatan Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS, aku merasa lebih tenang, karena dapat berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan apa yang telah terjadi di kehidupanku yang lampau. Aku lebih dewasa ketika ada permasalahan tidak cuma melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja, melainkan dari sudut pandang lain atau pun dari global, ketika bertindak aku mulai berfikir untuk ke depannya. Apakah yang ku lakukan tidak mengganggu aktifitasku yang lain atau berdampak tidak baik untuk ke depannya.

Hai, Aku Iis, Aku beruntung saat itu menjadi salah satu peserta workshop Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS, selain bertemu dengan mereka orang-orang hebat aku juga mendapatkan ilmu yang belum kudapat di lain waktu. Waktu itu adalah salah satu hal yang aku syukuri bahwa aku masih ada di dunia ini. Dari apa yang telah aku dapat, aku berencana untuk berbagi dengan yang lain namun dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Psikodrama untuk kegiatan game maupun kegiatan yang menggembirakan lainnya.

Terimakasih semua……

Kendal, 24 November 2018

Iis

Berdamai dengan Diri Membuat Hidup lebih Baik #Goresanku 144


Saya menulis ini berawal dari obrolan dengan salah satu teman guru yang bulan September lalu juga ikut Psikodrama. Sebenarnya dia sudah sering mendengar tentang apa itu psikodrama. Setelah merasakan sendiri dengan ikut Psikodrama, ternyata banyak hal positif yang dia dapatkan.

Ada beberapa teknik yang diberikan dalam ber-Psikodrama. Menurutnya yang paling berkesan adalah saat dia menjadi tokoh Protagonis, yang mana ceritera masa kecilnya direcall dan dimainkan. Di situ dia bisa dengan lepas mengeluarkan semua uneg2 yang ada selama ini.

Selama ini ada perasaan dendam yang sangat dalam terhadap bapaknya, karena merasa diperlakukan tidak adil. Dia merasa bapak pilih kasih dalam memberikan perhatian di antara saudara2 dan dirinya. Bahkan perlakuan fisik pun sering dia terima. Perasaan dendam itu masih terus ada di kala bapak dipanggil Tuhan. Seakan dia tidak bisa terima semua perlakuan yang dia terima.

Dan setelah mengikuti Psikodrama, dia mulai bisa membuka hati untuk membuang rasa dendam yang selama ini tertutup rapat dalam hati. Dia pun sadar bila rasa dendam itu adalah penyakit hati yang bisa merusak diri dan harus segera dihilangkan. Dan dengan memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri itu bisa membuat ” kelegaan hati “.

Yang menarik dari obrolan kami dan itu sempat membuat saya merinding, adalah disaat dia mengatakan ” Psikodrama bisa membuat saya menjadi seorang Pemaaf “.

Benarlah …. bisa berdamai dengan diri sendiri akan mampu membuat hidup lebih baik.

Terimakasih psikodrama …… katanya.

 

Semarang, 24 November 2018

Kusuma

Mengajar dengan Hati #Goresanku 143


Lima belas tahun, selain sebagai kepala sekolah juga mengajar anak-anak balita cukup membuat saya jatuh cinta pada profesi guru anak-anak usia dini atau kelompok bermain. Ada kebahagiaan tersendiri saat mengajar anak-anak, membimbing dan membantu mereka hingga bisa lebih mandiri saat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Sejak mengajar di sini, saya mendapat pengalaman menghadapi anak berkebutuhan khusus. Di sekolah tempat saya mengajar kebetulan menerima juga anak berkebutuhan khusus. Ada pertimbangan tersendiri mengapa kami menerima anak berkebutuhan khusus.

Pada awalnya ada beberapa orangtua datang untuk berharap agar anaknya bisa bersekolah di sini. Dengan alasan, sebagian besar sekolah yang lain tidak bisa menerima anak-anak mereka. Dengan dasar itulah kami bisa menerimanya. Hak anak-anak untuk mendapat pendidikan harus dikedepankan, mereka juga perlu mendapat pendidikan yang layak seperti anak-anak normal lainnya. Sepengetahuan saya, selain belajar di sekolah mereka juga ikut terapi-terapi di tempat lain. Saya salut pada mereka, orangtua yang mau mengupayakan dengan berbagai cara demi kemajuan dan kebaikkan anaknya. Bisa dikatakan mereka tidak malu mempunyai anak berkebutuhan khusus. Mereka tidak menuntut nilai akademik, tetapi lebih mengedepankan sosialisasi dan kemandirian anak.

Memang …. mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Perlu ada ketrampilan khusus untuk menanganinya, disamping pentingnya kerja sama dengan orangtua sang anak.

Sebelumnya,sebagai pendidik saya tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Sebagai penyeimbang, tentunya selalu ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Dengan cara membekali diri, belajar dari berbagai media yang ada kaitannya dengan anak berkebutuhan khusus. Satu hal perlu dimiliki oleh guru, adalah mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus dengan hati.

Mengerti psikologi anak penting untuk membantu mereka keluar dari perilakunya yang berbeda dengan anak-anak lain.
Saya pernah mengajar anak berkebutuhan khusus, ini termasuk penanganan yang sederhana. Sebenarnya ada yang lebih rumit dari ini. Dia berusia 4 tahun, tapi masih minum dengan botol. Kebetulan dia juga belum bisa memegang botol sendiri. Saat minumpun, inginnya dipangku dan ditepuk-tepuk punggungnya. Saya berusaha mengajarinya supaya bisa memegang botol sendiri saat minum. Setelah beberapa waktu, tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat. Dia mulai bisa minum dengan memegang botol sendiri.

Untuk menangani anak berkebutuhan khusus penting melibatkan orangtua. Biasanya saya selalu memanggil orangtua murid untuk berbicara membahas keadaan dan perkembangan anak.

Sebagai guru saya perlu menyadari ketika berhadapan dengan orangtua, adalah membantu mereka melihat sisi positif anak dan tidak selalu melihat keterbatasannya.

Begitulah ….. benar adanya , mengajar anak berkebutuhan khusus adalah ” mengajar dengan hati “.

Kusuma, Maret’17

Psikodrama “Sebuah Puisi” dari Bandung


Tertawa
Menangis
Terpancar di wajah
Terasa di hati

Kemampuan mendengarkan
Tidaklah berarti
Tanpa menatap
Tanpa berempati
Banyak bicara
Tanpa mengendalikan diri

Fokus Masalah
Bukanlah solusi
Fokus kenyamanan
Itulah yang dicari

Imeyratu, 2018

(Sebuah Puisi tercipta dari pengalaman ber-Psikodrama di Dispsiad Bandung, 24-25 Oktober 2018. Belajar Komunikasi Non Verbal, dan Empati sebagai dasar melakukan PFA.)

Pengalaman Psikodrama di Samarinda ; Bersyukur Membuat Bahagia


Pada hari Minggu kemarin saya berkesempatan mempelajari ilmu Psikodrama di kampus saya menimba ilmu dulu Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan beruntungnya saya belajar langsung dari praktisi Psikodrama Bpk. Retmono Adi.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah bagaimana hubungan kita dengan diri sendiri (personal), orang lain (interpersonal), & yang menciptakan saya (transpersonal). Selaras dengan itu saya juga belajar jika saya mau hubungan saya baik dengan orang lain yang pertama harus saya lakukan adalah menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam diri saya terlebih dahulu dengan lembut terhadap diri sendiri.

Saya juga belajar bagaimana cara saya manganalisa suatu permasalahan yang ada di dalam diri saya dengan menentukan apakah permasalahan itu mengenai emosi, kognitif, atau tindakan yang harus segera saya kerjakan & memberi waktu atau batasan sampai kapan masalah ini ada di dalam diri saya.

Saya juga berkesempatan menjadi tokoh protagonis cerita saya pada masa kecil di recall & dimainkan pada saat pelatihan. Ternyata tanpa saya sadari saya kurang mengingat kebaikan orang – orang di sekeliling saya, terutama kedua orang tua saya betapa nikmat syukur saya panjatkan karena dengan Psikodrama saya diingatkan dengan kebaikan dari Bapak & Mamak saya dari kecil hingga umur saya 24’th. Mengingat kenangan – kenangan yang indah mampu membuat saya sangat bersyukur dilahirkan dari keluarga yang selalu mencintai saya & selalu mendukung saya dalam suka duka.

Alhamdullilah….. “Terima kasih Psikodrama”

Samarinda, 11 Oktober 2018

Mira

Menulis Buku : Ide 1 Persen, Selanjutnya 99 Persennya Kerja Keras


Sabtu, 29 September 2018, Aku ikut seminar yang diadakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada, KGM, mengenai bagaimana Menulis Buku. Ada beberapa hal penting yang ingin aku catat dan aku bagikan dalam mengikuti acara itu. menurutku ini berguna untuk menulis buku atau pun untuk berkarya atau membuat Produk yang akan dijual.

Penceramah mengungkapkan 3 hal penting dalam menulis buku, yaitu : Continue reading →

Apakah Kita Sudah Berbaik Hati pada Diri Sendiri ?


Perkembangan zaman menuntut saya untuk berkompetisi satu sama lain dan menjadi terbaik untuk menggapai suatu posisi tertentu.

Seringkali saya diajarkan oleh lingkungan untuk berjuang, kuat dan tidak mengasihani diri sendiri dalam rangka menjadi diri sendiri. Melalui pelatihan psikodrama dengan judul Stress Management and self compassion yang diisi oleh mas Didik (aka Retmono Adi). Saya tidak sendirian, ada 7 orang teman saya yang berlatar belakang psikologi, beberapa dari mereka menjadi praktisi di bidangnya.

Aktivitas terapi melalui psikodrama sangat menyenangkan, kami tak banyak bicara, kami hanya bergerak secara spontan. Kami tertawa, saling menganalisis satu sama lain, menguatkan satu sama lain. Hal yang sedikit mengejutkan bagi saya, teman saya yang selama ini memiliki image tegar dan tangguh dapat menintikkan air mata karena teringat suatu kejadian di masa lalunya. Reaksi emosi dari teman-teman yang mengikuti sesi terapi keluar, tanpa ada rasa canggung, emosi negatif terpendam seperti penyesalan, kebencian, marah dan sedih keluar mengalir begitu saja.

Saya belajar dalam pelatihan psikodrama mengenai kebaikan untuk diri sendiri. Saya mendapatkan pelajaran untuk berbuat baik pada diri sendiri. Saya termasuk orang yang keras pada diri sendiri, saya percaya proses tidak akan menghianati untuk mendapatkan hasil. Untuk berjuang terkadang saya merasa iri dengan pencapaian teman-teman saya yang menurut saya lebih baik. Saya seringkali iri melihat teman saya yang kuliah di kampus keren di luar negeri, iri melihat teman yang bekerja di perusahaan bonofit, iri melihat bisnis teman yang sukses. Rasa iri memacu saya untuk berkompetisi menjadi lebih baik.

Namun rasa iri ini membuat saya menjahati diri sendiri. Saya tidak menghargai usaha saya sendiri karena merasa orang lain lebih baik daripada saya. Menyalahkan diri sendiri, membiarkan diri tenggelam dengan kesedihan, membandingkan diri dengan orang lain merupakan bentuk kejahatan pada diri sendiri. Pelatihan ini mengajarkan saya untuk berdamai, menerima keadaan diri. Saya mendapatkan satu pemahaman baru bahwa setiap orang punya cerita mengenai dirinya, mereka juga berjuang menjadi diri terbaik.

Hakikatnya hasil yang kamu ingin capai bertujuan untuk dinikmati bukan untuk mempersulit dirimu.

Yogyakarta 16 September 2018

Diana Putri Arini

Psikodrama Parenting dari Diskusi WAG


Berangkat dari sebuah video yang viral tentang kekerasan dalam rumah tangga, lalu muncullah ungkapan perasaan yang menjadi awal dari diskusi yang menarik.

Berikut diskusinya dengan diedit untuk tata tulis dan konfidensialnya.

K : Jangankan Orang lain Mbak,,
Lha Wong anake dewe ki lho…nek dong njengkelke yo di jenggungi😃😜😃

E : Sopo K ? Nek aku ora tau🤭
Soale welinge wong tuaku,sak jengkel-jengkelo mbi anak jok sampe cengkiling…ndak tuman jare
Dadi mpe anakku le cilik kelas 9 aku durung nate cilike njiwit gedhene ngeplak🤭
Ning janagan ditanya…barangng apa yang sudah jadi korban 😜

K : Lha okeh beritane lho ya 😃

J : Aku yo sok esmosi kok, bare, gelone ra ilang-ilang

E : Nah kan,palagi nek ndadak di morotangan,bekase isih ngecap,emosine wis ilang,kari gelone
Tapi ra maido yo,wong nek jengkel mbi anak kiy jiiiaaan😬
Nopo P ?

P : Aku tau mukul nyubit anakku😓

E : Ndak papa P, belum terlambat untuk berubah koq
Btw Yo tergantung si anak juga sih, ga bisa dipadakne mbi anak-anakku
Soale aku jinjo P, pernah duluuu banget,sekaline aku nyubit anakku pas masih TK, ya ampuun le nangis kelara-lara, mingsek-mingsek
Ra tegel aku
Trus ditambahi simak ngomongi ngono, ya wes tak eling-eling terus

P : 👍👍👍👍👍👍

E : Tapi sing no 2 rada tamblek juga😬
Nah iku kudu korban sapu mpe tugel, koco rak tv pecah🤭
Saking esmosine aku

Ch : Ga sama kondisi keluarga satu sama lain… kondisi ortu, anak-anak. Bahkan anak 1 dengan yang lain beda cara memperlakukan… meskipun teori parenting sudah banyak sekarangg. Yang terbaik masing-masing yg tau…
Jangan sampai terjadi seperti yang di video tadi. Amin..amin..amin…

E : Yups betul…..aku juga ga pernah ikut seminar parenting koq 🤭
Asal kita mau tanggap dan memahami karakter anak masing-masing ….pasti aman nyaman dan damai🤪
Kata orang-orang tua,wong pitik sak petarangan wae yo bedo-beda endog e😀
Malah ono le buthuk juga

RA : Pengalaman ini dpt direfleksikan, lalu dapat diceritakan pada si anak ketika usianya sudah mulai mengerti,…maka akan jadi cara memutus rantai kekerasan itu.

E: Yang besar terlalu pendiam om, ga di gong ga omong
Beda ma si kecil,paling suka nanya dulu waktu kecil dia gimana, kakak gimana?
Malah curcol🤭

RA : Ceritakan saja semua, dengan seluruh emosi yg menyertai..sebelum, sesaat, dan sesudah peristiwa itu…

P : Oke

RA : Pengenalan emosi yang menyertai menjadi penting…(karena salah satu dan mungkin yang utama, emosi itu adalah Cinta), selanjutnya dipahami bahwa cara mengungkapkannya mungkin tidak tepat atau menyakitkan. Oleh karena itu, sesal dan maaf juga perlu diungkapkan, agar utuh dalam menangkap keseluruhan “peristiwa” itu. Dengan demikian jadilah Rekonsiliasi, berdamai bersatu kembali.

J : 🙏🙏🙏Biyen bapakku gualak puol, tekane saiki aku yen pas galak kadang eling lha iki khan adegan ro dialog ke bapakku,…. njuk geli kemekelen dewe😂😂😂

RA : Pengalaman dirimu yg kauceritakan padaku, secara jujur dan utuh (melibatkan berbagai emosi yg menyertainya) yang jadi inspirasiku…Bro

P : Iya, aku terus minta maaf, kulihat ada kelegaan semoga tak ada dendam🙏

RA : ….dan semua dari kita paham bahwa Dia Sendirilah, Cinta, itu…🙏🙏🙏

E : Jam istirahat siang buat ngangsu kawruh seko dulur-dukurku👍 tq 🙏

 

Semoga bermanfaat. Terima Kasih

%d bloggers like this: