Category Archives: Drama Kehidupan

Psikodrama itu Powerfull (Pengalaman di Medan)


Hari 1.
Dulu sekali, kata Psikodrama ini pernah disenggol di mata kuliah Psikologi Sosial namun tidak menarik perhatian saya, karena hanya sekedar disebutkan sebagai salah satu terapi yang sering dilakukan di dalam kelompok. Mengikuti Workshop Psikodrama ini merupakan pengalaman yang sama sekali baru. Heran itu sudah dimulai dari melihat tatanan ruangannya, dimana meja diletakkan lengket di dinding, dan semua kursi disusun menghadap dinding, kami saling memandang dengan alis naik sebelah. Lebih menarik lagi ketika Sang Fasilitator datang dengan gaya yang sangat tidak biasa, baju batik HIMPSI dikombinasi topi kupluk. Continue reading →

Advertisements

Catatan Dinamika Emosional “Bermain” Psikodrama


Sebelum membahas lebih dalam, saya ingin mengungkapkan terlebih dahulu bahwa saya belum pernah sama sekali mengetahui metode Psycho Drama yang dapat dipakai untuk treatment dalam dunia psikologi.

Pada dasarnya, dalam penerapan psikologi memiliki banyak terapan yang dapat dipakai untuk penanganan terhadap bantuan kepada klien. Psycho Drama menjadi jawaban yang sangat praktis namun dapat menggali intens-nya trauma atau dengan kata lain rasa yang kurang nyaman dalam diri (inner seseorang).

Awalnya, saya bertanya apakah dengan metode sesederhana ini dapat memunculkan keadaan diri yang mempresentasikan luka yang telah di-repress? Akhirnya, terjawab sudah dari segala sesi peran yang distimulasikan kepada setiap peserta yang sedang mengikuti pelatihan. Continue reading →

Kesan mengikuti Psikodrama di Yogyakarta


18 Maret 2017 adalah saat pertama saya mengenal Psikodrama. Sebagai seorang mahasiswa Psikologi saya merasa perlu untuk tahu banyak tentang terapi psikologi yang suatu saat akan berguna untuk klien klien saya nantinya.
Tidak sedikitpun terbersit dalam pikiran saya bahwa Psikodrama inilah yg menjadi “obat” bagi rasa marah dan ketidakmampuan saya menerima kepergian papa yg sangat dekat dengan saya. Seriously???? Continue reading →

Pengalaman Kelas Psikodrama di Salatiga


Tadi pagi saya baru saja mengikuti pelatihan psikodrama. Awalnya hampir tidak niat untuk ikut karna kelasnya dadakan dan pasti akan banyak yang dikorbankan jika tetap ikut. Tapi rasa penasaranku membuatku tetap ingin ikut dan akhirnya aku ikut. Pas awal masuk kelas, saya langsung dikagetkan dengan kata “frezz” artinya untuk menghentikan gerakan dalam drama. Saya lalu berhenti beserta teman-teman yang juga datang bersama saya. Itu dilakukan bapaknya karna ia mau menjelaskan betapa pentingnya etika ketika kita berada di lingkungan sosial. Continue reading →

Psikodrama Menjadi Sebuah Perjalanan Memasuki Benteng Pertahanan Diri


Temanku sering kali berkata padaku, ”Hidupmu tu enak banget ya! Ga perlu mikir pusing-pusing besok mau kerja apa, orangtuamu udah punya lahan buat kamu. Kamu tinggal ngelanjutin aja ! ”. Mereka yang tidak tahu-menahu bagaimana sebenarnya hidupku, dengan seenaknya menyatakan keirian mereka. Ketika mereka mulai menggodaku seperti itu, aku hanya bisa tersenyum, pura-pura malu, padahal di dalam hati aku berusaha menahan tangis. Ya, aku menahan tangis keluar dari sudut mata.

Mereka hanya melihat topeng-topeng yang aku dan keluargaku tunjukkan kepada dunia. Alangkah lucunya. Ketika orang lain berkata bahwa keluarga kami begitu harmonis, orangtuaku begitu humoris, kami sangat akur, alangkah lucunya. Jika mereka mengetahui kebenarannya, mungkin mereka tidak akan pernah terbersit untuk mengatakan hal-hal itu. Continue reading →

Saya dan Psikodrama demi Self Compassion


Psikodrama, pada awal mengetahui kata psikodrama jujur tidak terbesit sedikitpun untuk mencicipi, apa lagi hingga terlibat langsung di dalamnya. Ditambah pada awalnya, perkenalan dengan “psikodrama” sendiri terjadi secara kurang baik-baik. Hal ini dikarenakan, sempat saya dan seorang rekan ingin mengadakan kegiatan bertemakan psikodrama, namun tidak berhasil. Hanya ada dua orang peserta pada saat itu yang pada akhirnya, membuat saya harus memutuskan untuk membatalkan kegiatan ini.
Singkat cerita, beberapa tahun kemudian pada suatu siang ada seorang teman yang mengajak saya dan dua orang lainnya yang juga teman saya, untuk mengikuti sebuah workshop yang bertemakan psikodrama. Hingga beberapa hari kemudian, kami berangkat ke salah satu hotel di dekat Tugu Jogja dan mulailah perjalanan saya mengenal psikodrama, DIMULAI…… Continue reading →

Kebohongan, Cinta dan Tipu Daya


Monday, April 18, 2016 11:56PM

Aku bertemu dengan seorang pria baik hati dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Wawasannya luas. Pria ini mengaku jatuh cinta padaku. Memilikinya adalah keberuntunganku sebagai seorang wanita. Dia tahu cara memenangkan hatiku. Dia tahu daerah mana yang boleh disentuh, dan daerah mana yang terlarang disentuh. Dia tahu kapan harus maju, dan kapan harus berhenti. Semua itu terus dilakukan dengan segala upaya untuk mendapatkan hatiku. ATAU menunjukkan cintanya padaku. Aku yang terus terkejut dengan segala upayanya, akhirnya luluh juga. Aku menyukainya. Aku menginginkannya. Alasan apakah? Tidak banyak. Pikiran-pikirannya, perbuatannya, sifat-sifatnya membuat aku membutuhkan pria ini lebih dari seorang teman. Aku jatuh hati padanya, dan memintanya menjadi kekasihku. Continue reading →

Bertengkar di Depan Anak #Goresanku 141


Pagi itu, baru saja aku sampai di kantor dan meletakkan tas di meja kerjaku. Datang seorang anak, dia langsung saja mendekapku. Aku kira dia ingin bergurau denganku saja. Ternyata perkiraanku tidak benar. Dia menangis sesenggukan ……. semula terdengar lirih, lama kelamaan semakin keras tangisannya. Sesaat ku biarkan dia menangis dalam dekapanku. Ku elus punggungnya, dengan tujuan agar dia bisa tenang. Setelah agak reda aku berusaha untuk menatap wajahnya. Continue reading →

Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya (ternyata efeknya masih lanjut..) Sharing Psikodrama 2


Sharing ini adalah lanjutan dari sharing sebelumnya, dengan judul artikel yang sama..
Jadi, sekitar sebulan setelah mengikuti psikodrama, saya yang perantau akhirnya pulang ke rumah dan bisa bertemu orang tua. Seperti yang saya ceritakan di sharing sebelumnya, saya memiliki rasa sakit hati yang cukup dalam terhadap ayah saya, yang baru saya sadari sepenuhnya sewaktu mengikuti psikodrama. Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk mengatakan terang-terangan kepada ayah saya, setidaknya supaya saya bisa lega dan beliau mengetahui perasaan saya selama ini. Continue reading →

Teater adalah Proses Belajar Memiliki Karakter


Mengapa tidak kepikiran,…ya?

Sudah dikabarkan oleh banyak media, mengenai pentingnya Karakter,
Dunia pendidikan berusaha menyusun kurikulum
Dunia Industri menyusun program pelatihan
Dan aparatur negara juga diinstruksikan mampu menunjukkan karakter,…

Kesemuanya tidak memilih teater atau drama sebagai cara utama nya,…

Apakah karena teater hanya untuk di panggung pertunjukkan?
Bukan kah cukup banyak orang yang paham bahwa dunia juga panggung sandiwara?
Ataukah bahwa teater adalah cara berpura-pura?
Owh,..betapa dangkal pemahamannya….
Ataukah teater men-simbolkan ” kebebasan”,…
..bukankan semua orang menginginkan kebebasan?
…lalu apakah kebebasan itu tanpa aturan?….owh,…banyak sekali aturan di dalam teater,…

Jelas dituliskan bahwa setiap orang teater, saat proses menuju pentas,…aktor aktornya membangun karakter,…

Menurut kaidah Teater ;
Karakter yang baik adalah yang selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,.. yang tetap terjaga dalam Kesadaran nya,…

Bila orang mampu melakukan hal tersebut di panggung pertunjukan,..dapat dipastikan ia mampu juga melakukan dalam kehidupan nyata nya. Maka ia dapat disebut orang yang memiliki Karakter,…

Karakter seperti apa?
Karakter apa saja,..sejauh selaras antara Pikiran, Perasaan dan Tindakan nya,..dan terjaga dalam Kesadarannya sebagai Manusia,…maka ia dapat disebut Orang yang ber Integritas,…

Berproses dalam teater dengan benar, akan menuju pada kemampuan memiliki Integritas diri,
Memang proses ini panjang dan tidak mudah,…bahkan bisa berlangsung sepanjang hayat,…karena keselarasan merupakan situasi yg dinamis, akan berubah mengikuti kondisi dan situasinya. Sehingga menuntut individu bersikap ikhlas, rela belajar lagi dari awal.

 

retmono

%d bloggers like this: