MENGAPA TERJADI PERUBAHAN KESADARAN DALAM PRAKTEK PSIKODRAMA ???


Psikodrama, sejatinya merupakan suatu metode yang biasa digunakan sebagai psikoterapi yang menekankan pada aksi /tindakan dramatik dari klien secara spontan (tanpa naskah) untuk mengeksplorasi berbagai situasi spesifik dalam kehidupannya di masa lalu, kini dan masa yang akan datang. Metode yang digagas oleh psikiater Eropa yakni Jacob Levy Moreno yang kemudian dikembangkan bersama-sama isterinya Zerka Toeman Moreno sejak tahun 1920-an ini (Chimera & Baim, 2010), kini mulai diyakini sebagai metode yang powerfull untuk memfasilitasi pertumbuhan pribadi yang lebih baik (personal growth). Sasaran utama yang ingin dicapai dari psikodrama adalah dapat membantu individu untuk mencapai pemahaman yang lebih baik mengenai dirinya hingga individu dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhannya dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan yang dialaminya (Corey, 2005).

Apa yang sebenarnya terjadi dalam sesi-sesi psikodrama sehingga individu bisa mencapai kesadaran peran dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya? Hal ini menarik untuk dikaji lebih dalam, dan akan menjadi topik yang dibahas dalam tulisan ini.

Dalam prakteknya, baik untuk tujuan terapi ataupun pelatihan profesional dalam bidang industri dan bisnis, dalam sesi psikodrama individu distimulasi untuk bebas mengekspresikan emosi, perasaan yang kuat yang terkait permasalahan/ konflik yang belum terselesaikan di masa lalu, mengklarifikasi kejadian-kejadian spesifik yg dialami di masa sekarang ataupun membayangkan masa yang akan datang. Proses pengekspresian tersebut dapat dilakukan individu karena memang situasi aman menjadi persyaratan kunci yang harus diciptakan dalam sesi psikodrama agar individu dapat memunculkan perasaan, ketakutan ataupun kecemasan yang kuat yang sulit dimunculkan dalam situasi normal. Melalui berbagai teknik yang digunakan dalam psikodrama seperti, mirroring, doubling, role reversal, role playing, soliloquy,dan lainnya (Chimera & Baim, 2010) yang memfasilitasi pengekspresian individu dapat membuat individu memperoleh perspektif yang lebih luas dan lebih baik terhadap problem yang dialaminya hingga bisa memunculkan perilaku baru yang lebih kondusif yang lebih menyehatkan dirinya secara fisik maupun psikologis.

Pertanyaan yang menggelitik yang mendorong untuk segera dicari jawabannya adalah bagaimana bisa dalam durasi waktu antara 90- 120 menit yang biasa digunakan dalam aksi pentas psikodrama, individu bisa mengalami perubahan kesadaran? dimensi-dimensi apa yang berperan penting dalam proses tersebut? Sebuah tulisan dari Dr. Eberhard Scheiffele dengan judul “Alteration of Consciousness during Psychodrama and Sociodrama” sekiranya menjadi salah satu referensi yang bisa dirujuk untuk menjelaskan hal ini (Scheiffele, 2003). Dalam tulisan tersebut Scheiffele menegaskan bahwa psikodrama mampu memberdayakan 14 dimensi yang membuat individu mengalami perubahan kesadaran yang dikarakteristikannya sebagai kondisi yang berubah dari kesadaran (Altered States of Consciousness/ASC’s). Menurutnya para partisipan yang terlibat dalam praktek psikodrama khususnya yang berperan sebagai protagonis (tokoh utama yang skenarionya dipentaskan) melaporkan bahwa mereka mengalami perubahan kesadaran selama sesi psikodrama berlangsung. Namun sayangnya hingga kini para psikolog belum menemukan cara-cara yang objektif atau instrumen psikologi yang akurat untuk menentukan bahwa pada diri individu telah mengalami ASC. Terkait hal tersebut maka selama ini yang bisa dilakukan para psikolog baik sebagai praktisi ataupun periset hanyalah mendeskripsikan pengalaman langsung yang dirasakan individu yang terlibat sebagai partisipan dalam psikodrama.

Scheiffele menyebutkan ada 14 dimensi dari Altered Consciousness. Berikut penjelasan singkat dari 14 dimensi tersebut terkait bagaimana dimensi-dimensi tersebut berperan dan menyebabkan terjadinya perubahan kesadaran pada individu

1. Attention (Perhatian)
Dalam psikodrama, dibutuhkan perhatian yang tinggi agar individu bisa fokus memunculkan pengalaman yang terjadi di masa lalu untuk bisa dibawa dan dimainkan kembali di sini dan saat ini melalui interaksi dengan pemeran pembantu (auxiliary egos). Trainer menggunakan berbagai macam teknik untuk membantu protagonis mampu mengalami kembali pengalaman masa lalunya. Perhatian juga perlu difokuskan pada setting lingkungan yang perlu dibuat mirip dengan setting asli saat kejadian yang dialami individu berlangsung di masa lalu. Dengan demikian protagonis dapat merasa benar-benar mengalami kejadian di masa lalu , kemudian dapat mengekspresikan perasaan, ketakutan, kecemasan, konfliknya yang belum terselesaikan, tentunya dalam setting lingkungan yang dirasa aman dan melindungi hingga Ia dapat memperoleh perspektif yang lebih luas dan lebih tepat terkait hal tersebut.

2. Perception
Persepsi protagonis dapat diubah dengan berupaya melihat dan mendengar objek-objek secara imajiner yang harus dihadirkan dalam pentas psikodrama yang mungkin aktualisasinya mirip orang yang mengalami delusi. Untuk itu Protagonis bisa saja merasakan kedinginan dalam setting suasana pentas yang aslinya cukup panas. Hal ini diperlukan untuk membantu protagonis mengalami kejadian yang ingin dimainkan baik di masa lalu, masa kini atau masa yang akan datang. Saat menerapkan teknik pemindahan peran (role reversal), protagonis dapat mengadopsi persepsi orang lain yang pada akhirnya hal ini bisa memfasilitasi munculnya empati pada apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain (tokoh lain yang ingin dimainkan perannya seperti : ayah, guru dan sebagainya). Hal ini dapat membangun kesadaran baru bagi individu sehingga dapat memperbaiki hubungan interpersonal yang selama ini belum efektif.

3. Imagery and Fantasy
Kemampuan untuk membayangkan fantasi secara detail sangat dibutuhkan di atas pentas psikodrama. Individu distimulasi untuk menciptakan cerita fantasi secara spontan tanpa pemikiran dan perencanaan yang lama. Realitas di atas panggung dapat dibandingkan dengan realitas yang ada dalam impian. Semuanya dibuat serba mungkin. Ruang dan waktu dapat diubah di setiap kesempatan, hewan bahkan furnitur dibuat bisa berbicara, ketakutan bisa diubah menjadi keberanian, orang yang telah mati dapat dihidupkan kembali. Masa lalu dan masa kini dapat dihadirkan dan terjadi saat ini dengan berbagai jenis modifikasi. Perbedaan realitas ini oleh Moreno disebut sebagai Surplus reality. Kemampuan untuk menciptakan fantasi merupakan bagian penting dari psikodrama yang berpotensi menyembuhkan sebagai contoh : saat protagonis mampu menyelesaikan persoalan yang tidak selesai dengan orang yang sudah meninggal. Penciptaan mimpi hasil dari fantasi protagonis ini dipandang sebagai perubahan kesadaran yang dialami protagonis tersebut.

4. Inner Speech
Saat protagonis telah menghayati peran secara mendalam dalam adegan psikodrama yang dimainkan, Ia tidak akan banyak bicara pada dirinya sendiri dan kesadaran dirinya akan berkurang dan hanya fokus pada tugas peran yang dimainkan. Dalam hal ini, saat melakukan pemindahan peran (role –reversal) memungkinkan protagonis melakukan inner speech untuk bisa menjadi orang /tokoh lain yang perannya sedang Ia mainkan. Hal ini merupakan bentuk yang kuat dari terjadinya perubahan kesadaran.

5. Memory
Terkadang dalam sesi psikodrama protagonis mengingat kejadian-kejadian yang telah lama dilupakan termasuk mengingat pikiran dan perasaan yang terjadi pada suatu kejadian tertentu.. Misal: dalam role-reversal saat memerankan tokoh ibu yang sedang membawa anaknya ke dokter gigi, protagonis tiba-tiba dapat mengingat kesakitan yang dirasakan anaknya saat itu padahal sebelumnya Ia tidak menyadari hal tersebut. Dalam psikodrama terjadinya perbaikan ingatan, sebagai akibat dari perubahan asosiasi antara kata-kata dan khayalan ataupun kombinasi yang benar-benar kreatif dari ide-ide tertentu sangat mungkin terjadi sebagaimana yang terjadi dalam proses hipnosis. Perbaikan ingatan ini diasumsikan sebagai perubahan kesadaran.

6. Higher-level Thought Processes
Psikodrama, drama therapy dan juga jenis-jenis lain dari improvisational theatre dapat berfungsi sebagai ajang pelatihan untuk proses kehidupan. Protagonis atau kelompok secara tiba-tiba dapat menemukan solusi baru untuk suatu persoalan. Para pendidik menegaskan bahwa metode yang menggunakan role playing seperti psikodrama mampu mengubah kesadaran untuk meningkatkan kesempatan lahirnya terobosan kreatif atas suatu konflik. Secara tidak langsung dalam psikodrama terjadi proses berpikir tingkat tinggi yang diakibatkan dari terjadi perubahan kesadaran yang dialami protagonis ataupun individu lain yang terlibat sebagai partisipan psikodrama.

7. Meaning or Significance of Experience
Dalam psikodrama sering menyebabkan keterlibatan emosi yang mendalam di antara para peserta yang disebut Moreno sebagai tele phenomenon. dari bahasa Yunani yang artinya aksi dari jauh atau yang juga disebut Moreno sebagai feel yang mengalir di antara para partisipan psikodrama yang membuat kelompok ini jadi bersatu. Sering terjadi dalam psikodrama tele phenomenon terlihat dalam pemilihan pemeran pembantu (auxiliary egos) yang ternyata bukan saja orang yang tepat untuk melancarkan proses terapi protagonis tetapi orang yang juga tepat untuk disembuhkan karena memiliki problem yang sama dengan protagonis. Ini merupakan suatu pengalaman yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata atau tidak dapat diverbalisasikan namun terjadi dalam psikodrama. Di atas pentas aktor baik protagonis maupun auxiliary egos dapat lebih bebas mengekspresikan diri sejatinya daripada di kehidupan nyata. Protagonis seringkali tetap dapat mengingat apa yang dimainkan di pentas drama dalam waktu yang lama dan seringkali pula dijadikan pilar dari jurnal kehidupannya. Menurut Farthing, perubahan makna atau pengalaman penting seperti ini sebagai akibat dari perubahan kesadaran jelas sekali dapat terjadi di psikodrama.

8. Time Experience
Dalam psikodrama waktu dapat diubah-ubah secara fleksibel. Protagonis dapat menenun pengalaman yang terjadi di masa lalu untuk dihadirkan dimasa kini kemudian ke masa yang akan datang kemudian balik kembali ke masa lalu dalam hitungan menit. Pengalaman untuk bisa berada dalam waktu kehidupan yang berganti ganti inilah yang mendorong terjadinya perubahan kesadaran pada individu dalam sesi psikodrama.

9. Emotional Feeling and Expression
Salah satu menu utama yang menjadi sasaran dari psikodrama adalah individu dapat menunjukkan afeksi dan pengekspresian yang kuat. Reaksi individu yang terlibat dalam psikodrama bisa berlangsung secara cepat dan bersifat emosional. Afeksi yang kuat dapat meningkatkan memori sekaligus dapat memungkinkan terjadinya pembelajaran karena sejatinya pengalaman yang emosional dapat mengaktifkan hormon adrenergic yang mampu memperkuat ingatan akan kenangan dari peristiwa-peritistiwa tertentu. Saat protagonis sangat menghayati perannya dengan menampilkan ekspresi emosi yang kuat perilaku tertentu dapat dimainkan mungkin saja dengan cara-cara baru tanpa diikuti konsekuensi yang menyakitkan dalam kehidupan nyata. Semua ini dapat terjadi tentu saja dengan dukungan yang kondusif dari partisipan lain dan trainer hingga pentas dirasakan sebagai tempat yang aman untuk bereksperimen oleh protagonis. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa psikodrama dikatakan efektif untuk merubah perilaku seseorang.

10. Level of arousal
Metode –metode psikoterapi yang menekankan pada aksi/tindakan seperti psikodrama sering menghasilkan kegairahan yang lebih besar daripada kondisi normal yang ditandai dengan sinyal-sinyal fisiologis seperti jantung yang berdetak kencang dan fluktuasi pernapasan yang makin kencang. Dalam gairah berkatarsis terkadang bisa mencapai puncak pengekspresian emosi yang pada akhirnya bisa menghasilkan kondisi yang rileks. Misal seperti perasaan lega yang dirasakan setelah menangis histeris. Efek kelegaan yang dihasilkan dari kegairahan yang tinggi ini mampu menghasilkan perubahan kesadaran.

11. Self-Control
Akting spontan seringkali dialami sebagai kondisi yang terjadi begitu saja. Hal ini sering mengejutkan aktor karena sejatinya Ia tidak pernah menyangka sanggup berkata-kata dan bertingkah laku seperti yang secara spontan ditunjukkan dalam pentas. Dalam improvisasi akting/tindakan ini aktor mencoba mengabaikan pemikiran yang terencana dan hanya belajar mempercayai impuls-impuls yang dirasakan hingga tindakan-tindakan terjadi secara otomatis. Hal ini bisa memunculkan self control yang lebih baik hingga individu bisa mengalami perubahan kesadaran

12. Body Image (citra tubuh )
Psikodrama seringkali menyebabkan rasa kesatuan di antara tubuh, pikiran dan perasaan yang kesemuanya itu dapat berperan aktif di atas pentas. Saat protagonis memainkan peran orang lain terutama saat menerapkan teknik role-reversal misal menjadi seorang anak kecil maka Ia dapat merubah citra tubuhnya menjadi anak kecil atau dapat merubah citra tubuhnya menjadi orang yang kurus padahal sejatinya tubuhnya gemuk. Kemampuan merubah citra tubuh seperti ini memudahkan protagonis menghayati peran sehingga bisa membantu terciptanya perubahan kesadaran.

13. Suggestibility (sugestabilitas)
Farthing mendefinisikan sugesti sebagai suatu bentuk komunikasi dari satu orang ke orang tertentu yang menyebabkan orang tertentu tersebut merubah perilaku atau keyakinannya tanpa argumentasi atau tanpa paksaan. Sugesti ini terjadi dalam hipnosis dan juga psikodrama. Hal ini tampak terjadi dalam penerapan surplus reality di psikodrama, mereka dapat menciptakan cerita fantasi atas arahan sugesti dari trainer. Meskipun hal ini memberikan keuntungan yakni bisa membawa keinginan terdalam individu ke tingkat kesadaran namun juga ada efek bahayanya karena protagonis tanpa sadar akan mengikuti sugesti-sugesti yang diberikan trainer tanpa penolakan. Untuk itu harus dihindari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada persoalan-persoalan yang kontroversial. Apapun efek yang ditimbulkan dari sugesti, efeknya tetap mempengaruhi terjadinya perubahan kesadaran pada individu.

14. Sense of Personal Identity (Rasa akan Identitas Diri)
Drama merupakan alat, tidak hanya untuk memberikan pengalaman dan mengintegrasi aspek-aspek baru dari diri individu tetapi juga untuk mengekspresikan aspek-aspek bayangan yang direpres dari diri individu (Emunah, 1994). Protagonis dalam psikodrama mencoba membebaskan diri untuk menemukan sesuatu peran yang berbeda dari yang diperankan dalam kehidupan nyata. Dalam penerapan role-reversal , hal ini sering terjadi dan dalam penghayatan yang dalam terhadap peran orang lain tersebut terkadang sulit bagi protagonis untuk kembali ke peran dirinya. Hal ini mungkin saja merupakan bentuk kesadaran dari penemuan rasa akan identitas diri yang sebenarnya.

Kesimpulannya, dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa dalam praktek psikodrama pengalaman subjektif yang dialami individu sebagai akibat dari peran yang dimainkan 14 dimensi tersebut hingga bisa mengakibatkan perubahan kesadaran pada diri individu yang dikenal dengan istilah Altered States of Consciousness (ASC).

Meskipun demikian intensitas perubahan yang dialami bervariasi antara indiviu yang satu dengan yang lain. Implikasinya para psikodramatis atau pengguna psikodrama baik sebagai trainer maupun sebagai terapis harus memperhatikan efek yang ditimbulkan dari perubahan kesadaran tersebut baik efek yang menguntungkan maupun efek bahaya sebagaimana yang dilakukan para hipnoterapis yang sangat berhati-hati agar tidak meninggalkan ingatan yang salah atau membuat sugesti yang terlalu kuat pada klien. Contoh pencegahan yang bisa dilakukan oleh psikodramatis adalah protagonis disarankan untuk tidak mengemudikan mobil selama kurang lebih 30 menit setelah pentas drama berakhir atau juga disarankan untuk tidak membuat keputusan yang tidak dapat diubah seperti menceraikan pasangannya. Terkadang protagonis juga perlu dilindungi dari pemeran pembantu /auxiliary egos yang berusaha menekan pandangan mereka. Adapun keuntungan yang diperoleh dari perubahan kesadaran dalam psikodrama adalah dapat menjadi cara yang menyembuhkan dan memberikan kesejahteraan psikologis, menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru seperti insight dan inspirasi dan juga memberikan fungsi sosial seperti membangun kohesi kelompok.

 

Semarang, 12 Juli 2015

(Laily Rahmah)

 

DAFTAR PUSTAKA

Chimera, C., & Baim, C. (2010). Introduction to Psychodrama . Workshop for IASA Conference. Cambridge.
Corey, G. (2005). “Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT.Refika Aditama.
Emunah. (1994). acting for real. New York: Brunner/Mazel.
Scheiffele, E. (2003). Alteration of Consciousness during Psychodrama and Sociodrama. British Journal Of Psychodrama and Sociodrama Vol 18 No 2, 3-20.

Advertisements

One response

  1. Aku sarankan ini dimasukin ke grup. Bagus untuk dibaca oleh teman2.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: