Saya dan Psikodrama demi Self Compassion


Psikodrama, pada awal mengetahui kata psikodrama jujur tidak terbesit sedikitpun untuk mencicipi, apa lagi hingga terlibat langsung di dalamnya. Ditambah pada awalnya, perkenalan dengan “psikodrama” sendiri terjadi secara kurang baik-baik. Hal ini dikarenakan, sempat saya dan seorang rekan ingin mengadakan kegiatan bertemakan psikodrama, namun tidak berhasil. Hanya ada dua orang peserta pada saat itu yang pada akhirnya, membuat saya harus memutuskan untuk membatalkan kegiatan ini.
Singkat cerita, beberapa tahun kemudian pada suatu siang ada seorang teman yang mengajak saya dan dua orang lainnya yang juga teman saya, untuk mengikuti sebuah workshop yang bertemakan psikodrama. Hingga beberapa hari kemudian, kami berangkat ke salah satu hotel di dekat Tugu Jogja dan mulailah perjalanan saya mengenal psikodrama, DIMULAI……
Pada awal workshop, saya merasa perlu untuk totalitas agar saya dapat memahami setiap proses, saya sangat menyadari pilihan saya, karena saya memiliki kebiasaan harus melakukan jika saya ingin mendalami sautu ilmu. Sehingga pada tahap spektogram saya memilih pada bagian 100%. Dengan pengetahuan pribadi yang masih sangat minim, atau lebih tepatnya tidak tahu apa-apa terkait psikodrama, saya mulai masuk ke dalam proses, setiap proses, dan mencoba keluar dari yang sering dikatakan orang dengan ZONA NYAMAN.
Tanpa sadar, saya sendiri mulai terbawa efek dari terapiutiknya. Setiap adegan yang saya perankan, ataupun diperankan oleh orang lain, rasanya mengetuk perasaan saya jauh ke dalam, hingga saya tidak dapat menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Namun pada saat itu saya merasa bahwa barangkali terjadinya proses air mata ini disebabkan oleh saya sendiri yang sedang merasa berada pada titik terendah, dimana pada saat itu, saya merasa seolah-olah saya adalah manusia yang terlahir sangat bodoh dan tidak memiliki kepastian masa depan. Semua yang dulu saya lakukan sangat jauh berbeda dengan saya pada saat itu, bahkan saya sampai merasa bahwa pada saat itu, saya berada diantara orang-orang yang kerap mempermainkan perasaan orang lain dan saya mengutuki setiap kondisi yang menimpa saya pada saat itu.
Kali kedua saya mengikuti kegiatan psikodrama, ternyata kejadian yang saya alami lebih parah dari dugaan saya. Pada saat itu, sy datang bukan sebagai peserta, namun sebagai penyelenggara workshop. Dikarenakan semua peserta telah hadir, akhirnya saya bergabung dengan peserta dan berniat (mbanjeli) jika dibutuhkan group untuk mempraktekkan suatu proses. Hingga pada saat itu, fasilitator saya bapak Retmono Adi, menggunakan teknik hand on shoulder untuk menggambarkan “siapakan orang yang dirasa ingin diketahui lebih lanjut tentang dirinya”. Jujur saya sangat terkegut dan tidak percaya, bahwa seluruh energy mengalir pada bahu saya. *cukup mengesankan dan menegangkan pada saat itu…… dalam benak saya, saya berfikir apa yang ingin diketahui oleh para peserta dari saya. Karena saya sendiri merasa bahwa kehidupan saya kurang lebih selama 4 tahun ini tidak ada yang patut dibanggakan (dalam hal pencapaian).
Fasilitator pada saat itu menunjukkan penggunaan teknik empty chair dalam psikodrama. Saya sendiri pada saat itu merasa tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan hingga fasilitator meminta saya memilih sebuah symbol (selendang), untuk diri saya saat ini dan diri saya dimasa depan. Ketika suasana menjadi tenang, kemudian fasilitator meminta saya membayangkan kondisi ketika saya berusia 60 tahun. Membayangkan apa yang terjadi pada saya pada saat itu…… (jujur saya tidak memiliki pandangan sama sekali, karena saya terlalu takut berharap, takut bermimpi) karena harapan dan impian saya selama empat tahun ini, sudah menyakiti banyak orang, terutama orang tua. Kemudian yang saya lakukan hanya menangis…… semakin diminta untuk menatap saya diusia 60 tahun, air mata dan perasaan saya semakin bercampur aduk. Pada saat itu, selain menangis saya hanya dapat mengepalkan tangan dan beberapa kali badan saya terasa berguncang. Di dalam pikiran saya, saya hanya mengutuki orang-orang yang tidak memiliki integritas di sekitar saya. Saya sangat benci dengan mereka semua, mereka yang sangat munafik, tidak menjunjung tinggi kejujuran dan memaksa saya untuk memilih melakukan hal sama dengan orang lain di tempat itu,, bagi saya pilihan saya tersebut sangat memalukan!!! Tapi sekali lagi,, saya tidak memiliki pilihan………….. (karena suatu hal yang tidak bisa saya ungkapkan dengan terbuka).
Fasilitator kemudian meminta saya bertukar posisi dan duduk di kursi saya (yang berusia 60 tahun). Fasilitator kemudian meminta saya (60 tahun) untuk mengatakan sesuatu pada saya di usia (28 tahun). Sambil menangis, namun tidak sehebat (tangisan) saya diusia 28 tahun pada awal role play, tiba-tiba saya mengucapkan kata-kata pada diri saya yang berumur 28 tahun. “Jangan terlalu keras pada diri mu….., bertahanlah……… jangan terlalu keras……”, bahkan ketika menuliskan prosesnya saat inipun, saya masih meneteskan air mata…..,, yaa…. Inilah proses yang harus saya alami. Hehehehehe……
Singkat cerita, pada kesempatan ke tiga saya kembali dikejutkan oleh sebuah tema yakni Self Compassion, yang akhirnya pada saat ini diam-diam saya kerap mencuri waktu untuk tahu lebih dalam tentang bacaan tersebut. Ketika berada di dalam ruangan, saya sempatkan melihat semacam banner atau mmt yang dipasang pada tembok, dengan tulisan “STOP BEATING YOUR SELF UP AND blab la bla”. Kata-kata ini, sontak mengingatkan saya pada kegiatan psikodrama sebelumnya dimana saya yang berusia 60 tahun mengatakan pada saya yang berusia 28 tahun dengan kalimat “Jangan terlalu keras pada dirimu”. Pada awal kegiatan saya terdiam…. Dan memahami makna dari beberapa kali proses terapeutik ini terjadi pada saya.
Menjelang akhir workshop,, saya baru memahami satu hal, ternyata sejak kecil saya dididik oleh orang tua saya dengan sangat permisif dan pada saat itu kedua orang tua selalu menguatkan saya ketika saya jatuh ataupun gagal. Dan mengapresiasi saya dengan sangat baik ketika saya berhasil, belakangan saya baru memahami bahwa hidup saya selama ini tidak di design untuk menerima kegagalan (bukan berarti orang tua saya mengajarkan kecurangan). Dengan berbagai macam prestasi yang saya dapatkan, dan dukungan penuh dari lingkungan, ternyata membuat saya semakin merasa bahwa hidup itu harus selalu benar dan memiliki prestasi yang baik pula. Namun Allah SWT berkehendak lain kemudian, selama 4 tahun ini……., saya ditempatkan pada situasi yang sangat jauh dari kehidupan saya sebelumnya. Tidak ada dukungan dari lingkungan sosial, tidak ada prestasi, tidak ada persaingan yang sehat, saya banyak melihat berbagai macam kecurangan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian satu-satunya yang saya miliki adalah keluarga saya. Dimana mereka (ayah, ibu dan adik-adik saya), sudah tidak begitu memahami kondisi saya sekarang. Dan sayapun tidak memiliki keberanian untuk semakin menambah beban pikiran mereka semua, saya memilih diam.
Saya sangat menyadari bahwa saya sudah terlalu banyak menyalahkan setiap keputusan yang saya ambil, orang-orang yang ada disekeliling saya, kesempatan yang terlewatkan karena saya tidak juga berdamai dengan semua ini, yaaa…… semuanya terlewat begitu saja dan saya masih terus mengutuki setiap keputusan yang saya buat. Terjawablah sudah…. Bahwa selama ini saya terlalu keras dan kejam bahkan terhadap diri saya sendiri, hingga sayapun harus mengorbankan perasaan orang-orang terkasih di sekitar saya, karena saya terlalu sibuk dengan kegagalan yang tidak dapat saya perbaiki.
Namun setelah saya memahami dari beberapa kali proses psikodrama kemarin, bahwa “so what jika hidup saya gagal? So what jika sekarang saya tidak memiliki prestasi apa-apa? So what jika saya berada pada lingkungan yang salah?”. Saya tidak ingin lagi memiliki kehidupan yang penuh dengan penilaian positif, tapi pada akhirnya menyiksa diri saya sendiri.
Berdamai dengan diri sendiri, mulai menerima setiap kejadian yang terjadi, tidak perlu mengutuki diri, yang terpenting dari semua itu, saya menyadari bahwa pada saat ini SAYA SUDAH MEMILIKI APA YANG MEMANG BAIK UNTUK SAYA MILIKI,, CINTA, KASIH SAYANG, PERHATIAN dan DUKUNGAN DARI LINGKUNGAN SEKITAR (yang sempat saya anggap tidak ada). Sejak saya menyadari…., saya menerima semuanya, kehidupan saya mulai berubah menuju kearah yang belum sempat saya duga. Tanpa dipaksa naluri saya yang sempat hilang beberapa tahun ini untuk “berbuat hal positif” kembali dengan sendirinya. Lembutlah pada diri mu, maka kehidupan akan berbuat sama kepada mu. Terimakasih…..

 

Oleh
Admira Eka Ruzelani
Jogjakarta, 27 Maret 2017

Advertisements

6 responses

  1. Dear kak Admira,
    Tulisan yang kakak share ini jujur sangat relevan dengan pengalaman saya sendiri, terkait cara saya dibesarkan oleh orang tua saya. Setelah membaca ini, secara tidak langsung juga kata-kata “Jangan terlalu keras pada dirimu” itu yang paling saya ingat dn mungkin akan saya jadikan semacam mantra di hari-hari kehidupan saya selanjutnya.
    Saya juga pernah ikut pelatihan psikodrama oleh pak Didik, dan saya merasakan dan menyaksikan sekaligus bagaimana pengalaman orang lain punya dampak meringankan/menyadarkan apa yang orang lain alami juga.

    Thanks for sharing 😉

    Liked by 1 person

  2. Kepada Admira Eka: Ini tulisan yang jujur walaupun mungkin tidak mudah untuk menulis semua itu, tapi dengan menulis kamu sudah melakukan langkah pertama untuk melakukan perubahan. Semua manusia punya struggle sendiri-sendiri, punya luka batin. Saya doakan perjalananmu dalam melakukan perubahan bisa berjalan dengan baik. Tidak perlu mulus asalkan rewarding dan membawa kebahagiaan. Kamu tidak sendirian dalam perjuangan itu. Banyak orang lain yang juga berjuang dengan strugglenya, dengan “hantunya.” Hantu ini berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Namun, hantu tetap hantu, berperan untuk menggentayangi, membuat kita takut terhadapnya. Jadi janganlah takut dengannya, tapi dipahami dan diajak berteman saja. Seperti virus yang terus berdiam dalam tubuh, sekali-sekali akan kumat dan ingin menunjukkan kekuatannya saat badan kita lemah. Jadi, mari kita saling mendoakan dan mendukung saja dan teruslah berjuang untuk berubah. Ingat juga bahwa kadang kamu akan merasa sendirian dan sepertinya yang lain meninggalkanmu, tapi saat itulah kamu akan menjadi semakin kuat sebenarnya. Good luck. Silakan mengunjungi blog saya juga di naturewhispering.wordpress.com untuk tulisan saya. Mari saling berbagi. Terimakasih sudah berbagi juga.

    Liked by 1 person

    1. Seperti Tokoh Naruto ya….

      Like

      1. Nggak tahu Naruto.

        Like

  3. Good thoughts, very inspiring:)

    Liked by 1 person

  4. Keep up The Right Work ! 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: