Kebohongan, Cinta dan Tipu Daya


Monday, April 18, 2016 11:56PM

Aku bertemu dengan seorang pria baik hati dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Wawasannya luas. Pria ini mengaku jatuh cinta padaku. Memilikinya adalah keberuntunganku sebagai seorang wanita. Dia tahu cara memenangkan hatiku. Dia tahu daerah mana yang boleh disentuh, dan daerah mana yang terlarang disentuh. Dia tahu kapan harus maju, dan kapan harus berhenti. Semua itu terus dilakukan dengan segala upaya untuk mendapatkan hatiku. ATAU menunjukkan cintanya padaku. Aku yang terus terkejut dengan segala upayanya, akhirnya luluh juga. Aku menyukainya. Aku menginginkannya. Alasan apakah? Tidak banyak. Pikiran-pikirannya, perbuatannya, sifat-sifatnya membuat aku membutuhkan pria ini lebih dari seorang teman. Aku jatuh hati padanya, dan memintanya menjadi kekasihku.
Ditengah-tengah proses momen kebahagiaan itu, aku mengetahui fakta yang mengejutkan. Ini jauh lebih mengejutkan dari semua perbuatan cinta yang dia lakukan padaku. Dia bukanlah pria yang sendiri lagi. Bukan hanya istri yang dia punya, tapi ditambah bayi perempuan yang baru berusia 7 bulan. Apakah cintaku berhenti? Tidak. Aku mempercayainya. Dia berkata ada masalah di keluarganya. Bukan tanpa masalah dimana dia akhirnya memutuskan mencari pasangan lain di luar. Dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Dia berhenti berusaha memperbaiki lagi dan memutuskan mencari kebahagiaan sejati bagi dirinya sendiri. Aku mendukungnya. Aku ingin memberi dia kebahagiaan yang belum pernah dia miliki sebelumnya dalam berumah-tangga. Aku tak akan menyakitinya. Aku bisa menggantikan posisi istrinya di hatinya, memberi kebahagiaan untuknya, membuat hatinya penuh dengan cinta lagi. Aku tetap menginginkannya.
Suatu hari, dimana perasaan itu semakin terbawa jauh, aku mulai hanyut dengan sendirinya. Seperti air sungai yang terus mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah sampai ke sebuah tempat entah dimana, begitupun perasaanku terhanyut dan terbawa jauh. Aku mulai mempertanyakan kenapa aku ingin terus mencintainya? Apa tujuanku? Apakah aku ingin dia mencintaiku suatu saat? Kalaupun iya, Kapan?
Sejak awal cerita, aku sering mendengar dia sedang dalam tahap perceraian dengan istrinya. Aku tak berpikir panjang. Aku pikir hubungannya dengan istrinya akan segera berakhir, dan aku bisa bersamanya. Simple. Namun…. Cerita itu sampai kini masih tetap sama. Proses itu masih terus berlangsung. Mulai dari Mediasi 1, Mediasi 2, hingga Mediasi ke-3 yang terakhir. Dia ingin bercerai baik-baik dengan istrinya. Dia mulai merasa kehilangan anak yang dia kasihi. Dia takut membuat tawar hati anak satu-satunya dari istri yang pernah dia sayangi sebelumnya. Kelihatannya dia mulai terus berpikir.
Aku? Aku mencoba rasional. Ketika aku tahu kejadiannya seperti itu, aku tahu dia juga kesusahan. Aku mencintainya, maka yang aku lakukan adalah mencoba menyelamatkan pernikahannya dengan istrinya. Segala upaya aku kerahkan dengan kata-kata. Mencoba menasehatinya, memberi semangat dan memberi banyak contoh agar dia menggagalkan rencana perceraiannya. Hatinya mulai terbuka. Sepertinya dia akan melakukannya. Tapi entah kenapa, statusnya masih belum jelas. Mengambang. Cerai tidak, masih tinggal bareng istrinya Iya, masih bilang sayang dan ketemu aku juga Iya. Bahkan di WA dari istrinya, masih terkirim gambar-gambar lucu mengenai anak mereka yang saling mereka sharing. Video-video tentang anaknya. Ditambah panggilan mesra istrinya padanya. Saat aku pergi nonton dengannya, istrinya menelpon dan menanyakan kabar dia ada di mana? APA INI? Mereka masih baik-baik saja bukan?
Aku mulai berpikir ini sudah salah. Aku selingkuh dengan suami orang. JELAS! Seharusnya ini aku sadari dari awal, bukannya sekarang setelah semua perasaan terbawa hanyut entah di daerah mana sekarang. Aku belum bisa memilikinya, walau secara status kami berpacaran. Aku mulai uring-uringan. Aku jadi sering marah. Tiba-tiba ingin menghindarinya. Mencurigainya terus-menerus. Hingga akhirnya aku melukainya juga. Aku memberi tekanan yang sama seperti yang dilakukan istrinya (mungkin). Dia pasti lebih stres lagi. maka hal yang dia coba lakukan padaku adalah dengan tidak berjanji. Dia pernah mengucapkan kata-kata. Kata-kata berisi apabila semuanya selesai, aku ingin menikahi kamu. Sekarang dia tidak berani mengucapkan kata-kata itu lagi. Aku melihatnya kabur dari pikiran itu. Aku juga menjadi tidak yakin. Kalau dia jadi cerai, aku akan merasa bersalah, dan apakah benar aku mau menikah dengan seorang duda yang telah memiliki anak? Dimana nanti ditengah-tengah proses rumah tangga kami, anaknya akan selalu menjadi jalan balik ke istri lamanya. Apakah aku rela hidup dengan bayangan seperti itu? Aku bukanlah orang yang dengan rela memiliki barang bekas. Aku tidak suka membeli mobil, handphone, atau peralatan elektronik apapun yang sudah bekas. Aku suka yang masih baru. Masakan untuk seorang pria aku suka yang bekas? Ini pasti hanya salah paham antara diri ku dan egoku.
Kalau dia tidak jadi cerai dan kembali ke istrinya, harusnya aku senang. Program pengembalian hatinya kepada istrinya terjadi. Itu yang aku ingin dia lakukan. Akan tetapi, aku harus menghancurkan hatiku sendiri untuk kepentingan orang lain. Aku yang punya ego menang ini harus mengalah. Puaskah diriku? Aku kok gak yakin ya…
Selama sebulan lebih ini aku tidak lagi menjadi pribadi yang menyenangkan untuknya. Aku jadi seperti kembang api, meletus di udara lalu hilang. Aku jadi seperti mercon sumbu pendek, kadang senang, kadang marah, kadang mengucapkan kata-kata pisah. Tidak jelas. Benar sekali. Aku jadi tidak jelas mauku apa. Aku jadi orang yang gampang sekali curiga. Tidak percaya barang sedikitpun dari semua perkatannya. Suatu hari dia bilang mau jemput mamanya di airport jam 12 malam di malam minggu, setelah aku dan dia bertemu dan makan malam. Sebelum sampai airport dia terus menelponku. Aku minta kalau sudah bertemu mamanya, foto…aku ingin melihat. WA yang aku dapat adalah dia tidak sempat foto, lalu dia telpon dengan suara panik, aku gak bisa foto ya..kamu baca wa aku. Ok, setelah itu perasaan yang timbul dalam diriku adalah perasaan tertipu. Aku tidak percaya dia jemput mamanya. Aku terus mempertanyakan ini dan itu dalam pikiranku. Aku mencoba menghakiminya dengan minta jawaban akurat dan setidaknya jawaban atas kebohongannya melalui WA. Dia tetap pada pendiriannya. Dan aku? Aku berpikir dia itu pintar berbicara, pintar mencari alasan, pintar membuat bohong-bohon putih, pintar berdrama, pintar memainkan perannya, bahkan mungkin tanda kutip dia pintar membohongi perasaannya seolah-olah mencintaiku padahal Bohong. Perasaan dibohongi itu menjalar dari hati hingga tulang-tulangku. Rasanya tubuhku meremukkan tulangku sendiri. Apapun yang dikatakannya aku akan tetap curiga. Aku tetap tidak percaya, dan belum mau percaya.
Hingga akhirnya aku merengek dan memintanya putus juga. Kami menyatakan status sebagai teman. Ini adalah waktunya dimana aku harus keluar dari lingkaran hidupnya. Tidak lagi memperdulikan dimana setiap malam dia tidur, entah bersama istrinya atau di rumah mamanya. Entah dia harus keluar dulu dari rumah yang mana hanya untuk mendengar suaraku di HP. Entah dia berjanji bertemu dengan siapa di luar sana. Aku melepaskannya. Dengan melepaskannya, mungkin aku tahu apa yang akhirnya aku mau dari dia. Aku jauh lebih damai. Aku tidak lagi menghancurkan diriku sendiri. Aku berdamai dengan Aku.
Refleksiku
Apakah kebohongan itu?

Kebohongan adalah suatu motif; Tipu daya. Kenapa juga dia harus berbohong padaku? Untuk mendapatkan cintanya padaku? Apakah aku segitu diinginkannya sehingga dia harus terus berbohong? Kenapa aku harus mengeluarkan kata-kata memojokkannya terus menerus hingga dia mengakui kebohongannya? Kalau pada akhirnya dia tetap tidak berkata jujur, hati dia sendiripun yang akan meremukkan tulangnya. Rohnya tak akan bertahan. Seseorang yang terus menerus berbohong tidak akan bertahan pada hati nuraninya sendiri. Dia akan berupaya melakukan kebaikan padaku untuk menebusnya. Semakin itu terus dilakukan, dia akan kena penyakit tidak mengenali dirinya sendiri. Dia sendiri akan rapuh, jatuh, dan mati. Kenapa aku harus memaksanya, ketika dia memang tidak berani berkata jujur padaku? Ketika dia tidak membohongiku dengan maksud membuat diriku sengsara, lalu So what?
Apakah aku benar mencintainya? Mencintainya berarti aku tak mengharapkan kembali. Aku memberi. Aku mendengar. Aku percaya. Aku melepas segala kecurigaanku menggantinya dengan percaya dengan apa yang dia ucapkan melalui kata-kata. Melepaskan kemarahanku dengan kasih yang terus berbuat baik. cinta adalah pemberian dari Tuhan. Aku pun harus memberikannya tanpa imbalan. Ini bukan cinta transaksional. Berikanlah apa yang bisa aku berikan hari ini. Balasannya bisa jadi bukan melalui dia, tapi melalui hal lain. Alam membantuku.
Berhentilah bertanya dan jadilah jawaban bagi jiwa yang dahaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: