Efeknya Masih Bekerja Selepas Acaranya, Refleksi Psikodrama Bandung 251116


Awalnya, alasan saya mengikuti kegiatan psikodrama yang diadakan oleh pak Didik (begitu sapaan akrab pak Retmono Adi) adalah untuk mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikdorama itu sendiri. Tidak terpikir di benak saya bahwa peserta akan diajak untuk mengalami efek dari psikodrama itu juga. Akhirnya setelah menghubungi pak Didik dan mendapat bocoran kegiatan yang akan dilakukan, saya semakin penasaran karena katanya akan full praktek pada hari H nanti. Ditambah lagi diminta membawa semacam kain, selendang, atau Pashmina. Semakin bertanya-tanyalah saya, bakal ngapain ya nanti?
Hari H pun tiba dan kegiatan diawali dengan berbincang-bincang tentang harapan apa yang ingin didapatkan dari kegiatan psikodrama dengan masing-masing peserta. Rata-rata harapannya mirip dengan saya, yaitu ingin mengenal lebih dalam tentang hal teknis dari psikodrama. Setelah pak Didik berkenalan secara umum dengan peserta, masuklah pada sesi perkenalan sesungguhnya.
Kami semua diminta untuk memperkenalkan diri secara singkat dan menampilkan sebuah pose yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Selain itu, diminta menanyakan satu pertanyaan pada pak Didik dan boleh apapun. Hmm.. menarik, pikirku. Lalu, majulah satu per satu peserta dengan pose-pose unik dan pertanyaan-pertanyaan yang cukup unik juga. Saat tiba giliranku, aku pun memperkenalkan diri dan menampilkan pose orang yang sedang marah dengan menunjuk, sambil memegang secangkir kopi, karena diminta oleh pak Didik. Hal yang saat itu terjadi pada saya adalah saya merasa kurang bebas. Kenapa? Karena saya diminta untuk menambahkan pose memegang cangkir yang tidak saya rencanakan di awalnya. Tapi, saya menjadi lebih kenal dengan diri saya lebih dalam lagi, bahwa saya lebih nyaman jika diberi kesempatan untuk bebas berekspresi, tapi dalam waktu yang sama ketika saya diminta untuk mengubah rencana saya, saya berusaha untuk menyesuaikan diri agar bisa nyaman dengan hal tersebut.
Setelah itu, kami mulai masuk ke sesi Warming Up, dengan materi Sosiometri. Dari Sosiometri sendiri ada yang namanya Spektogram dan Lokogram. Pada saat Spektogram, pak Didik mengambil dua kain dan menaruhnya di dua tempat yang berjauhan. Posisi kedua kain itu menjadi dua kutub ekstrim 0 dan 100, yang di antaranya adalah gradasi dari titik satu ke titik lainnya. Kami pun diminta untuk memilih posisi, 0 adalah 0% keterlibatan dalam kegiatan psikodrama yaitu hanya menjadi penonton, dan 100 adalah 100% keterlibatan aktif dan mau terbuka selama kegiatan. Peserta banyak yang memilih di tengah yaitu 50%, dan saya sendiri memilih 70%. Setelah kami menempati posisi masing-masing, kami diminta untuk menjelaskan alasan pemilihan posisi tersebut dengan “Saya merasa…”. Menurut pak Didik, kata “Saya merasa..” melatih kita untuk bertanggung jawab dengan apa yang kita rasakan. Alasan saya memilih 70% adalah karena saya ingin belajar tentang psikodrama, tapi karena di ruangan tersebut ada beberapa orang baru, maka saya belum ingin terbuka secara penuh dalam mengekspresikan diri.
Kegiatan pun berlanjut pada Lokogram. Kali ini pak Didik menaruh kain di tiga titik pada awalnya. Titik pikiran, perasaan, dan fisik. Kemudian menaruh lagi di antara ketiga titik tersebut, titik perbatasan pikiran-perasaan, perasaan-fisik, dan fisik-pikiran. Lalu satu lagi di tengah yaitu perpaduan pikiran-perasaan-fisik. Permintaannya adalah dalam sebulan terakhir, bagian aspek mana yang paling banyak terpakai dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Saya memilih perbatasan antara pikiran-perasaan. Hal yang terjadi pada saya adalah saya akhirnya sadar posisi dan masalah yang saya hadapi belakangan ini. Dan hal ini berlanjut pada solusi yang saya temukan dalam perenungan saya sendiri bahwa hal yang harus saya lakukan agar mendapatkan keseimbangan kembali (hal ini saya temukan ketika kegiatan sudah selesai dan sudah sampai di rumah).
Lalu berlanjut pada sesi di mana kami diminta untuk menepuk satu orang yang mencerminkan karakter atau hal yang mirip dengan sosok ibu. Di sinilah saya mulai merasa efek dari psikodrama secara emosional. Setiap dari peserta diminta untuk mengungkapkan hal yang sekiranya ingin kami ungkapkan pada ibu. Saya pun mengungkapkan sedikit uneg-uneg saya, yang belum pernah saya sadari sebelumnya. Di situ mata saya mulai berkaca-kaca, merasa sangat sedih, sekaligus sadar bahwa ternyata hal ini yang saya rasakan selama ini pada ibu saya. Yang lebih aneh lagi, orang yang saya tepuk, merupakan seorang ibu pula dan karakter dari salah satu anaknya sangat mirip dengan saya.
Setelah itu kami istirahat dan melanjutkan dengan sedikit permainan, yaitu kami diminta untuk membuat rumah, tapi dengan cara satu per satu maju membentuk bagian perbagiannya. Kami tidak diperbolehkan berbicara secara verbal, sehingga yang terjadi adalah keanehan dalam konsep rumah tersebut. Kemudian, kami diminta untuk membuat truk sampah, lalu konsep royal wedding, dan terakhir diminta untuk membuat suasana bermain voli. Dari keseluruhan permainan ini, saya mendapatkan pelajaran, yaitu penyesuaian diri dengan lingkungan dan jangan takut salah.
Sedikit refleksi tentang pelajaran yang saya dapatkan itu, saya adalah orang yang sejak kecil dijaga dengan overprotektif oleh ayah saya. Baik dari segi pergaulan, maupun diatur dalam tingkah laku. Bagi ayah dan ibu saya, angka 70 ke bawah itu jelek dan selalu mendapat marah kalau mendapat angka tersebut. Saya selalu harus mengikuti norma atau aturan dari lingkungan, karena kalau tidak, ayah dan ibu saya akan marah. Ketika saya melakukan kesalahan, saya selalu langsung dimarahi, walaupun saya tidak tahu bahwa hal itu salah satu tidak. Alhasil, saya selalu takut untuk melakukan sesuatu, saya selalu berusaha untuk mengikuti aturan, padahal sebenarnya saya tidak suka. Termasuk dalam lingkungan sosial, saya merasa bahwa saya aneh dan tidak pantas mendapatkan sesuatu yang baik, karena mungkin konsep diri yang saya dapatkan adalah saya tidak pernah melakukan hal baik di mata ayah dan ibu saya. Untungnya, ketika SMA dan jauh dari orang tua saya (saya pindah ke kota lain untuk bersekolah), saya mulai bisa melihat alasan-alasan mengapa saya menjadi menarik diri dari lingkungan atau selalu berusaha sesempurna mungkin melakukan sesuatu. Apalagi ketika saya benar-benar tinggal sendiri ketika masuk pendidikan S2 saat ini. Saya melakukan banyak perenungan dan mulai bisa menerima kelemahan diri saya dan mulai merasa tidak apa-apa ketika melakukan kesalahan. Nah, pada kegiatan psikodrama ini, saya diingatkan lagi bahwa sangat tidak apa ketika melakukan kesalahan, karena pasti ada hal yang dapat dipelajari. Saya pun menjadi bisa lebih menepuk pundak saya sendiri dengan lebih lembut saat-saat ini, ketimbang dulu saat saya masih remaja, apabila saya melakukan kesalahan.
Setelah permainan, pak Didik melanjutkan dengan teknik yang sama dengan memilih satu orang yang mirip ibu, tapi kali ini adalah memilih seseorang yang mirip dengan orang yang pernah menyakiti kita. Saya memilih satu orang yang mewakili sosok ayah saya. Jujur, walaupun saya sudah mencoba mengerti tindakan ayah saya waktu saya kecil, tapi saya masih selalu merasa bahwa ayah saya adalah dalang dari semua karakter negatif saya saat ini (negatif menurut saya yaa). Maka, saya mencoba mengungkapkannya dan hal yang terjadi pada saya saat itu adalah saya ingin memberitahu ayah saya tentang hal yang saya ungkapkan saat kegiatan itu. Selain ingin memberitahu ayah saya, saya juga menjadi lebih sadar bahwa maksud ayah saya sebenarnya baik, namun mungkin caranya saja yang kurang tepat.
Kemudian dilanjutkan pada sesi Action, dengan banyak materi-materi. Dari pemilihan Protagonis, Mirroring, Alter Ego, dan Empty Chair. Pada sesi ini pula saya mendapat refleksi lebih dalam tentang hal yang bergejolak dalam saya terkait kedua orang tua saya, khususnya ayah saya. Saya mendapatkan kesadaran bahwa apapun yang saya lakukan selama ini, dari gaya tomboy, banyak bergaul dengan anak laki-laki, banyak diam, selalu mandiri dan tidak membutuhkan pertolongan atau sandara orang lain, menarik diri dari lingkungan, senang menonton film di bioskop, tertarik dengan mesin dan segala hal yang maskulin, bahkan keputusan untuk menunda tidak memiliki pacar dulu, adalah cerminan dari usaha saya untuk mendapatkan pengakuan dari ayah saya (walaupun saya pun tidak pernah bercerita pada ayah saya). Hal-hal yang saya sebutkan tadi adalah hal-hal yang ayah saya senangi, pesan dan nasihat dari ayah saya , atau yang saya asosiasikan dengan ayah saya, Itu betul-betul baru saya sadari setelah merenungkan lebih mendalam ketika kegiatan sudah selesai. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan hasil perenungan tersebut, tapi akhirnya saya sadar dan sebenarnya hal itu yang membuat saya menjadi saya sekarang ini yang unik.
Intinya, hal yang saya dapatkan dari kegiatan psikodrama ini adalah penerimaan diri yang lebih mendalam lagi pada kelemahan saya, dan kesadaran akan hal janggal yang selalu saya rasakan terhadap ayah dan ibu saya. Dan tentunya mendapat bekal tentang hal teknis dari psikodrama itu sendiri.

– E

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: