Saya Flashback pada Masa Kecil Saya


Tanggal 25 Oktober 2016 pukul 08.00 WIB, saya mengikuti kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi. Hari itu kuliah sedikit lebih spesial karena kelas diadakan sampai sore dan mengundang dosen tamu. Materi perkuliahan pada hari itu adalah Psikodrama, waktu saya mendengar psikodrama saya langsung teringat ketika saya bertemu dengan Ki Heru Cokro untuk penentuan pemain panggung boneka milik fakultas. Saya dan teman-teman diminta untuk membuat serangkaian cerita menggunakan benda-benda yang digunakan sehari-hari dan tidak boleh menjadi benda itu sendiri. Namun ternyata, psikodrama sedikit berbeda dengan apa yang saya bayangkan.
Teknik psikodrama adalah suatu hal baru yang saya dapatkan, sebelumnya saya hanya mendapatkan secara teori saja pada mata kuliah Psikologi Klinis. Saya cukup antusias ketika akan memulai belajar teknik psikodrama, harapan saya waktu itu ingin mendapatkan pengetahuan baru dan pengalaman baru. Setelah itu saya masuk dalam salah satu tahap psikodrama yaitu warming up.

Saat itu saya diukur menggunakan Spektogram (sosiometri), saya memberikan 80% kemampuan saya untuk belajar psikodrama, karena sebenarnya saya masih ditutupi oleh pemikiran-pemikiran saya yang lain (seperti yang saya jelaskan di paragraf pertama). Setelah itu masih menggunakan Lokogram (sosiometri), saya diminta untuk menggolongkan apa yang sering saya fokuskan dalam 3 bulan terakhir, saya awalnya memilih Rasa namun setelah saya berfikir lagi ternyata bukan hanya Rasa, tapi Rasa dan Fisik. Karena sebenarnya saat itu saya memiliki permasalahan dengan ibu saya serta skripsi saya yang tidak segera rampung serta fisik saya yang kadang-kadang suka mendadak biduran tanpa sebab. Perasaan saat itu cukup lega, karena setidaknya “beban” saya bisa saya ceritakan.

Berikutnya adalah tahapan yang saya tidak terlalu fokus saat itu, karena saya kurang mendengarkan dengan jelas instruksi yang diberi oleh pak Didik. Saya menanyakan 3x pada 2 teman saya, saya masih bingung dan tidak terlalu menghiraukan, yang ada dipikiran saya “pokoknya milih saja” ternyata diminta untuk memaafkan orang lain yang bersalah dengan saya. Karena awalnya saya kurang mendengarkan instuksi, maka saya mengerjakan asal saja, selain itu saya merasa saya tidak terlalu sering memaafkan karena saya merasa sesuatu terjadi dan itu salah besar kemungkinan karena kesalahan saya, maka saya lebih sering meminta maaf kepada orang lain.

Setelah itu diminta untuk membuat pohon dari diri kita sendiri. Saat itu yang saya rasakan adalah fun karena boleh menjadi pohon apapun, seperti apapun, tidak ada yang menyalahkan, seperti membebaskan saya untuk berekspresi. Setelah itu membuat suatu peristiwa/ tempat, yang pertama taman kota, yang kedua pasar, yang ketiga pertandingan smackdown, lalu kelas make up. Senang, karena tetap bisa menjadi apapun yang saya mau, bertindak sesuka hati dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Selain itu juga terdapat 1 hal yang mirip dengan apa yang saya pikirkan, waktu itu diberikan sebuah sandal swallow dan diminta untuk membuat sebuah barang tapi tidak boleh menjadi sandal dan teman-teman yang lain diminta untuk menebak. Sangat seru, sangat senang, lebih bisa berekspresi, malah cenderung dipaksa untuk out of the box, menjadikan sandal tersebut menjadi suatu barang yang mudah untuk ditebak oleh orang lain bukanlah hal yang mudah. Berikutnya hampir sama, hanya ditambahkan menggunakan teman-teman sekitarnya, waktu itu saya berfikir mau menjadikan sandal ini apa, tapi akhirnya saya membayangkan arena latihan tembak dan menjadikan sandal sebagai pistol saya. Hal itu sangat menyenangkan buat saya, karena teman-teman menjawab dengan berteriak, tertawa, sendau gurau, dan seolah-olah benar-benar tidak menyangka bahwa sandal tersebut bisa menjadi hal tersebut. That’s so fun for me.

Berikutnya masuk dalam action, waktu itu saya memerankan menjadi pohon, dan tidak menyangka akan digali lebih dalam seperti bagaimana rasanya menjadi pohon, apakah terdapat pengalaman lain, hal ini termasuk hal baru karena saya tidak bisa menjawab secara langsung, perlu berfikir berkali-kali untuk menjawab. Setelah itu, saya melihat salah satu teman saya bertukar-tukar peran dalam waktu yang berdekatan dan saya melihat hal itu seperti refleksi, merefleksikan atau memantulkan kembali perkataan yang sudah terucap kepada orang tersebut. Saya cukup berkesan waktu itu (walau bukan saya yang melakukan refleksi) tapi seolah-olah seperti mengembalikan kembali pemikiran yang dipikirkan oleh orang tersebut dan membuat orang tersebut berfikir kembali mengenai pendapatnya. Berikutnya saya menjadi kursi, waktu itu walau tidak terlalu masuk menjadi bagian dari cerita, saya malahan merasakan perasaan lain. Waktu Yulong menangis karena ditinggal oleh ayah dan ibunya, saya flashback pada masa kecil saya yang sering seperti itu, ingin rasanya menangis, benar-benar seperti saya yang ditinggal oleh ayah dan ibu untuk bekerja. Saya tidak terlalu fokus dengan menjadi kursi.

Berikutnya saya menjadi sofa, kali ini saya senang karena bisa tertawa bersama teman-teman yang lain, teman-teman juga terlihat larut dalam peran, pun dengan saya. Senang bisa tertawa-tawa bersama mereka. Berdasarkan serangkaian aktifitas hari itu, sangat senang, mendapat pengalaman baru, tidak seperti apa yang saya bayangkan, senang bisa beraktifitas dan akrab bersama teman-teman, lebih mengenal 1 sama lain, dan saya berharap itu semua tidak hanya berhenti sampai pada kelas Psikodrama saja, melainkan kelas-kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi yang lain, kalau perlu pada kelas-kelas mata kuliah lain. Sangat menyenangkan dan baru, itulah kesan saya selama mengikuti kelas teknik Psikodrama hari itu.

 

~Sekian~

Ning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: