Tugas Refleksi Kelas Psikoterapi dan Rehabilitasi – Kelas Psikodrama


Pada kelas psikoterapi dan rehabilitasi kali ini, saya memulai hari cukup pagi karena pada jam 8 pagi akan ada kuliah tamu psikodrama dari bapak Retmono Adi yang berasal dari luar kota. Pada awalnya saya pikir saya datang cukup telat dibandingkan dengan teman-teman lain, tapi ternyata saya datang pertama sebelum mereka. Pemikiran tersebut muncul karena biasanya pada jam pagi selalu terjadi kemacetan di jalan yang saya lalui. Sesampainya di kelas, saya langsung membantu ibu Erlyn mempersiapkan segala keperluan untuk kelas nanti.
Pada sesi awal, saya dan teman kelas lainnya diajak untuk lebih mengenal bapak Adi ini. Beliau mempunyai karakter yang bagi saya cukup unik, karena menganggap suatu kegilaan sebagai hasil dari psikodrama yang ia ajar dan dalami. Akan tetapi, saya menangkap kegilaan tersebut sebagai suatu ungkapan positif yang merajuk pada kesehatan mental seseorang. Saya cukup canggung pertama kali berinteraksi dengan beliau, karena ia kerap mempertanyakan tema skripsi saya yang jujur belum terselesaikan dan belum saya pahami secara baik. Tak lama setelah perkenalan, kelas pun dimulai.
Sesi awal kelas ini dimulai dengan berbagai kegiatan warming up yang terdiri dari sosiometri, yakni pengukuran kondisi kelompok melalui skala manusia yang hidup. Lalu ada pun spektogram yang dapat mengukur kondisi tiap individu kelompok dalam hal permasalahan fisik, pikiran, atau perasaan. Saya pribadi mengaku bahwa saya ada masalah dari gabungan ketiga kondisi tersebut. Kemudian, ada pula saat warming up, dimana saya dan teman-teman diminta membuat pose-pose yang tidak biasa sebagai bentuk ekspresi diri. Kami semua dikritik Karena masih menggunakan bentuk pose yang terlalu umum dan simetris. Saat dikritik, saya merasa terkejut sekaligus terkesan dengan pemikiran pak Adi, Karena saya juga heran mengapa saya cenderung mengikuti bentuk yang sudah umum. Dari sesi tersebut saya belajar untuk berpikir di luar kotak. Ada pula warming up yang lebih mendalam, dimana saya diminta untuk mencari sosok yang paling banyak membuat kesalahan terhadap diri sendiri, dan saya juga diminta untuk memaafkan kesalahannya. Saya merasa sangat bingung, karena saya malah berpikir bahwa saya lah yang memiliki kesalahan terhadap diri saya sendiri, sehingga tidak dapat menunjuk sosok dari teman saya. Namun, saya terpaksa untuk menunjuk satu teman saya yang mewakili figure teman yang pernah meninggalkan diri saya saat SD. Di akhir sesi tersebut, saya mengungkapkan pemikiran dimana saya yang banyak berbuat salah pada diri sendiri di hadapan teman-teman. Ternyata saya mendapat feedback dari pak Adi, bahwa seharusnya saat sesi tadi saya harus menunjuk diri sendiri sebagai orang yang dimaafkan. Inilah saat dimana saya terkejut kedua kalinya. Saya tersadar bahwa sampai saat ini saya masih kesulitan memaafkan diri saya sendiri.
Selain warming up, ada pun sesi action, dimana kami bersama-sama melakukan tindakan psikodrama, dengan berbagai kemungkinan latar cerita. Ada latar masa lalu saat kecil dulu yang mungkin bahagia ataupun menyedihkan, dan juga latar masa depan yang merupakan harapan saya. Di dalamnya, hanya ada satu orang yang membuat scenario, yakni yang secara sosiometri dapat mewakili pilihan teman-teman saat itu. Teman yang lainnya yang berperan sebagai actor di dalam drama tersebut.
Seusai satu-dua cerita, kemudian kami melakukan refleksi diri terhadap peran yang kami jalankan dengan menyangkutkan peran atau cerita yang telah dijalani bersama dengan kisah hidup kami sebelumnya, dan dari situ kami mencoba mengangkat perasaan dan pembelajaran yang dapat diambil, dengan tujuan menyelesaikan permasalahan masa lalu. Sangat menyenangkan pengalaman psikodrama hari ini. Apabila ada kesempatan lain, mungkin saya akan mencoba untuk mendalaminya karena bagi saya psikodrama ini merupakan media atau aplikasi yang dapat mengungkapkan keinginan alam bawah sadar yang selama ini mungkin telah direpresi oleh saya. Saya percaya dengan mengungkapkan represi tersebut akan mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan atau kesejahteraannya.

 

Oktober 2016

 

KJ

One response

  1. Kesempatan untuk menganalisa diri sendiri jarang datangnya, sehingga memang sebaiknya digunakan sebaik mungkin. Pemikiran yang sudah cenderung berpikir secara psikoanalisa.🙂 Lanjut terus menulisnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: