Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama


Selasa, 25 oktober 2016, aku melangkahkan kaki menuju lantai 10.. Awalnya aku merasa ogah untuk melangkahkan kaki di ruang relaksasi, 8 jam harus berkutat materi, sepintas itu yang terbayang dibenakku. Meski terpaksa, aku meyakinkan diri, semua akan berjalan menyenangkan (nggarepnya sih gitu). Pak Didik, begitulah aku memanggilnya, lengkap dengan ekspresi datarnya. Lewat beliau, aku menemukan istilah baru yang tidak pernah kudengar. Lewat beliau, aku meraih ilmu yang tak pernah kutau (agak alay kayaknya hehe). Menit demi menit berlalu, aku terlarut dalam tawa bersama mereka. Kami berbagi tentang apapun yang telah berlalu dan berlangsung. Menit demi menit berlalu, aku bahagia menghabiskan waktu bersama mereka.
Sejak hari itu, kami mengenal lebih dari hari kemarin. Aku melihat hal yang tidak biasa didepan pandanganku, itu tingkah mereka. Aku mendengar suara asing yang tidak biasa kudengar, itulah tawa mereka. Terimakasih Pak Didi, telah menyatukan kami dalam perbedaan. Sejak hari itu, aku semakin mengenal diriku. Aku semakin dewasa memandang kehidupan. Terimakasih Pak Didi, telah mendamaikanku dengan masa lalu. Sejak hari itu, aku belajar tentang manusia dan ketakutannya. Terimakasih Pak Didi, telah mengajarkanku tentang pengukuran kehidupan melalui hal- hal sederhana.
Forgiveness, saat-saat yang paling mengesankan bagiku. Aku teringat dia, pria bertubuh semampai dengan kulit sawo matang. Aku ada karena dia, aku bahagia karena dia, dan aku hancur karena dia. Tingkahnya mampu membuatku tertawa, namun tingkahnya mampu membuatku terluka. Dia pergi tanpa kuminta, berlari tanpa memandang kami. Langkahnya pasti, meninggalkan kami tanpa kembali. Dia adalah alasan ibuku menyerah, mengakhiri catatan kehidupan Tuhan tentangnya. Dia, pencipta masa- masa hitam di hari- hariku. Dia, begitulah aku mengenangnya. Ayah, begitu aku menyebutnya. Aku benci dia, aku kecewa. Perlahan aku beranjak dewasa, aku mulai tegar menengok kisah yang lampau. Aku tidak ingin terlena dengan amarah dan kecewa. Aku mulai menerima kisahku yang tak sempurna. Tapi aku benci diriku, aku tidak bisa mencintainya pada porsinya.
Forgiveness, saat-saat yang paling mengesankan bagiku. Aku tidak mampu menahan air mata yang tumpah tanpa mampu kukendalikan. Malu, amarah, kecewa, lega, semua melebur bersama. Saat itu, aku tidak mampu menyuarakan luka yang amat menyesakkan. Kisahku yang lalu, datang kembali dengan sebongkah rasa kecewa. Seketika itu, aku merasa lemah di hadapan mereka yang memandangiku, aku tidak menyukai hal itu. Mungkin inilah diriku, tertawa bukan berarti tidak pernah terluka. Tersenyum bukan berarti tidak pernah berduka. Mungkin inilah saatnya, berdamai dengan diriku. Mungkin inilah saatnya, dewasa menapaki hari- hari ke depan. Terimakasih Pak Didi, untuk semua yang telah aku terima.

Oktober 2016

SM

3 responses

  1. terima kasih pak Didik, semoga dilain kesempatan Bapak bsa datang lagi ke kampus kami tercinta…

    Like

    1. dengan senang hati,….

      Like

  2. Ini sangat mendalam, dan psikodrama ini baru mengusik permukaan saja. Semoga refleksi dan renungan bisa terus berjalan melalui kegiatan menulis. Menulislah terus. Keluarkan perlahan-lahan apa yang ingin dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Tidak perlu dipaksakan, tapi yang penting menulis terus.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: