Menemani Rekoleksi OMK di Sukamantri


Dengan membawa thema Nature Is Me, OMK Lingkungan Yohanes Pemandi, Paroki Santa Clara, Bekasi, melakukan Rekoleksi bersahabat dengan alam, 9 -10 September 2016. Mereka memilih tempat di Camping Ground Sukamantri, tempat perkemahan yang tepat untuk melihat matahari terbit, lereng Gunung Salak, Bogor, yang menghadap ke Timur.
Aku juga belum pernah di lokasi itu. Aku minta tolong temen yang sudah lama di Bogor, untuk mengantar dari bogor kota ke lokasi. Perjalanan yang menantang. Jalan berbatu berkelok-kelok menanjak. Naik kendaraan roda dua,..wuihs..badan serasa digoncang-goncang.
Perjuangan itu terbayar saat tiba di tempat. Aku sampai di lokasi sekitar lewat tengah hari. Sejuk udara, suasana yang lama tidak kurasakan, pepohonan di sekitar, monyet berkeliaran, tenda tenda sudah didirikan. Meilhat ke Timur, pandangan lepas, jauh di bawah nampak rumah-rumah. Aku merasa seperti waktu dulu kuliah, sering berkemah, sejenak lepas dari rutinitas. Sedikit berbeda bila melihat ke arah belakang sudah berdiri warung-warung kopi dan Mie Instans, meski kurang alami namun tetap dapat dinikmati. Paling tidak kami tidak perlu mamasak air untuk menyeruput kopi dan menganjal perut dengan Mie.
Setelah rehat sejenak ditemani kopi, Aku diajak bergabung masuk dalam lingkaran, berkenalan, dan saling berbagi harapan selama di sini. Aku sampaikan rasa senangku, dapat berkenalan dengan temen-temen Muda, yang ingin bersahabat dengan alam. Harapanku kusingkat dengan mengajak mereka memahami perbedaan “Tahu” dengan “Peduli. Aku meminta mereka mengungkapkan pemahamannya, dengan berbicara satu-persatu. Kemudian aku rangkum, bahwa “Tahu” tentang Alam merupakan awal yang berada di pikiran, selanjutnya dibawa ke perasaan akan keindahannya, dengan demikian akan timbul “Peduli” berupa tindakan untuk terlibat menjaga dan melestarikannya. Aku tekankan pada kawan-kawan muda untuk bertindak aktif dalam menjaga keindahan alam ini.
Malam menjelang diikuti gerimis, seakan menguji kesetiaan kami dengan dinginnya. Untunglah gerimis tidak berlangsung lama. Api unggun menyala, mereka diberikan tugas kelompok, demi saling bekerjasama, saling mengenal dan menyatu dalam rasa, sebagai saudara, dan merasa menyatu dengan alam sekitarnya.
Makan bersama disekitar api unggun, bernyanyi lagu lagu nostagia dan cinta. Aku lihat sekeliling banyak juga tenda-tenda didirikan bukan dari kelompok kami. Ada juga yang sekeluarga dengan membawa anak-anak. Aku ingat hari ini memang libur panjang, sehingga menjadi waktu yang tepat unutk berekreasi bersama keluarga. Timbul perasaan senang dalam diriku, banyak keluarga membawa anak-anaknya berkemah dialam terbuka. Mengajak anak-anak mengalami dingin malam demi menyambut matahari pagi, dapat diartinya mengajarkan kesetiaan dan kesabaran dalam menjalani kehidupan hingga dapat meraih kesuksesan. Serta membangun keyakinan pada Harapan esok pasti kan datang.
Tidak seperti waktu lalu, biasanya aku akan berjaga hingga fajar tiba. Kali ini aku putuskan masuk tenda dan tidur untuk persiapan agar bugar saat bangun sebelum fajar. Alarm membangunkanku tepat jam 5 dini hari. Aku buka sleeping bag yang telah disediakan panitia untukku, lalu kugulung rapi kumasukkan kedalam tasnya. Aku keluar tenda, suasana remang dan dingin masih menusuk tulang. Aku dekati api unggun yang telah padam, dan kunyalakan lagi, kupakai menghangatkan diri. Sementara kulihat kawan-kawan muda sudah siap bermeditasi. Menyatukan diri dalam suasana pagi, nikmati udara segar, dan dalam hening diri menatap Sang Timur, lambang Harapan, Kebangkitan, Hari Baru, Hidup Baru. Aku merasa Spiritual kawan-kawan muda ini dapat diandalkan.

Jakarta, 13 September 2016
Retmono Adi

2 responses

  1. Spiritual kaum muda hanya bisa berkembang dan diandalkan hanya kalau spiritualitas para pembimbingnya juga ikut berkembang dan diasah terus. Beruntunglah para kaum muda masih ada orang2 seperti dirimu yang mau terus terlibat untuk berkarya dengan mereka.

    Masukanku untuk penulisan, bagi aku yang agak sedikit perfeksionis mengenai tata tulis, baca punyamu ini jujur membuatku agak sedikit gregetan. Tapi kemudian aku sadar kalau cara tulismu mirip sekali dengan cara berbicaramu. Saat membaca itu aku membayangkan seperti kamu berbicara langsung, dan pas. Aku rasa itulah stylemu.

    Di tulisan ini, Mas Didik terlihat lebih bebas mengungkapkan perasaan. Malah yang terasa sangat jelas itu adalah perasaanmu dalam tulisan ini. Aku jadinya bisa membayangkan suasana di tempat itu kayak gimana.

    Lanjut!🙂

    Erlyn.

    Like

    1. terima kasih atas masukannya,…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: