Pelacur Hati


Kemarin aku bertemu lagi dengannya. Dia, lelaki pertama yang membawaku ke dalam kehidupan seksual. Sejak pertama kali bertemu, entah sudah berapa kali kami melakukan hubungan badan. Dia, lelaki pertama yang memberiku bayangan bahwa cinta dan seks adalah satu, lalu seks dan kenikmatan adalah satu. Bagiku, dia adalah sosok lelaki yang kuinginkan, entah….mungkin aku termakan bualannya. Entah juga bualannya yang mana, tentang amannya cinta, atau tentang nikmatnya seks.
Dia, adalah lelaki yang tidak bisa kugapai. Pola pikir kami berbeda, jiwa kami tidak pernah benar-benar menyatu, dan rasa nyaman saat bersamanya tidak pernah benar-benar sempurna. Namun kemarin, kami tetap mencoba satu suara, mencari cinta di atas ranjang. Mungkin ada batas yang butuh didobrak, agar cinta menampakkan wujudnya? Katanya, yang dia cari adalah wanita yang dapat memberinya kenikmatan sempurna, sama seperti dia akan memberi wanitanya kenikmatan itu. Aku, yang kucari adalah cinta yang dapat menemaniku mengarungi hidup, termasuk di dalamnya kehidupan seks yang konon katanya sakral.
Ah iya, berbicara tentang seks yang sakral, rasanya konsep itu sudah mulai pudar dariku. Aku menjadikan seks sebagai sumber kenikmatan belaka, menipu cinta, lalu mengusungnya bak piala kemenangan. Ketika cinta yang sakral itu hilang dariku, aku mencari kenikmatan, dimana pun bisa kutemukan. Masalahnya, setelah sekian lama baru kusadari, sesuatu yang kucari di tempat yang salah, dengan niat yang salah pula, tidak akan pernah kutemukan. Yang terjadi, seks hanya membawaku semakin jauh dari apa yang kucari, cinta….alih-alih kenikmatan!
Yang kutemukan hanya kehampaan, aku hilang dalam diriku. Aku hilang dalam setiap desahan napasku, aku hilang dalam setiap eranganku, aku hilang dalam bulir-bulir keringatku, dan kusebut itu kenikmatan bercinta? Dimana letak nikmatnya bercinta bila di tengahnya tidak ada cinta? Aku memaksa cinta untuk muncul di tengah ritual kami, namun di tengah helaan hawa nafsu, di tengah ciuman yang memanas, di tengah desahan dan erangan yang menggema di telingaku, aku hilang.
Aku tenggelam ke dasar diriku, megap-megap mencari kehidupan di tengah kematian, dan di tengahnya aku temukan aku. Ya, aku! Aku yang mencari cinta, aku yang mengkhianati cinta! Cinta yang kutinggalkan, hanya demi mengejar waktu. Aku menyongsong apapun yang ada di depanku, seks, harta, rasa aman…kulakukan apapun untuk melawan waktu.
Dalam kematianku, aku melihat pasangan-pasangan di sekitarku, bertanya-tanya cintakah yang membuat mereka berjalan bergandengan tangan? Ataukah surga yang dibawa oleh seks, atau mungkin rasa nyaman yang diboyong oleh harta berlimpah, atau apa? Ah, aku hanya manusia yang naif, yang meninggalkan cinta karena waktu, lalu berkawan dengan seks yang palsu, bersahabat dengan harta yang munafik.
Aku megap-megap di tengah kematianku, aku megap-megap dalam usahaku kembali ke puncak. Seketika aku merasakan ledakan rasa! Aku tahu siapa aku! Lalu, segalanya menjadi jelas bagiku. Aku tahu lelaki pertamaku tidak akan pernah menjadi cintaku. Aku melihat kekecewaan tergambar jelas di wajahnya, tapi bukan dariku akan dia dapatkan cinta, bahkan tidak meskipun hanya sekedar kenikmatan seks belaka.
Aku membiarkan lelakiku pergi, sudah saatnya aku kembali. Cukup sudah aku mencoba, tunduk pada waktu, tunduk pada napsu, aku bukan manusia dalam cerita dongeng! Kini aku tahu cinta tidak bersembunyi dalam desah napas kekayaan, tidak pula disimpan dalam erang nikmat orgasme. Cukup sudah, biarkanlah aku setia mencari cintaku! Bila cinta menerima tobatku, akan ada saatnya dia mengajariku kenikmatan dalam sakralnya bercinta.

 

Jakarta, 13 Agustus 2016

Sebut saja Mawar

2 responses

  1. Selamat Pagi Mas Adi….

    Gila… parah… kena banget pas saya baca postingan ini… seakan akan menampar saya, mengingatkan saya pada masa lalu yang dianggap banyak orang surga, dan ternyata inilah kenyataannya, mungkin sebagian besar dari cerita tersebut adalah keadaan yang pernah dia alami, sungguh teramat naif kami berdua, kami yang tidak bisa memilah cinta itu, dan akhirnya pun terjadi perpisahan…

    Tolong sampaikan salam saya kepada wanita yang memberikan kisah itu, yang membuat sadar dan membuka mata saya…

    Berkah dalem…

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih sharing nya,….akan saya sampaikan pada penulisnya,….Berkah Dalem,…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: