Dialog Alam


Aku lelah, aku benar-benar lelah. Bergantung pada harapan, hanya untuk dihempaskan pada kekecewaan. Sebatang pohon harapan di hadapanku, terus aku panjat, dengan kesadaran penuh bahwa yang kupijak hanya ranting rapuh. Setengah aku memanjat, kebahagiaan mulai kurasakan, kilau cakrawala perlahan nampak. Lalu aku terjatuh, dihempaskan ranting rapuh kembali ke tanah. Sakit. Tapi berapa lama aku si manusia dapat mengingat rasa sakit?
Perlahan aku teringat impian tentang silau cakrawala, dan aku bebal hati memanjat kembali, pohon yang sama. Ah, aku hanya mencoba peruntunganku, mungkin ranting yang ini tidak rapuh, mungkin aku dapat mencapai ujung harapanku? Maka aku menggantungkan harapan yang sama, kuteguhkan kembali tekadku, aku panjat lagi pohon harapanku. Tidak butuh jeda lama sebelum kau melihatku kembali terempas ke tanah. Kali ini aku dapat ganjaran lebih, kepalaku terantuk batu. Sakit. Rasa sakit yang sama.
Nah katakanlah padaku, bebalkah aku bila kukatakan aku akan menenangkan napasku, menghela pergi semua rasa sakit, lalu mengertakkan gigi dan kembali memanjat? Atau seharusnya aku berlaku selayaknya manusia, meratap di tanah, pergi melupakan harapanku, meyakinkan diriku bahwa kecewa takkan lagi menghampiriku? Atau kau akan berkata, bijaksanalah, mengapa tidak kau panjat pohon lain yang kokoh untuk melihat cakrawalamu? Akankah cakrawalamu nampak lebih indah bila kau melihatnya dari pohon rapuh yang satu ini? Ah pikiranmu dan pikiranku, siapa benar siapa salah!
Aku menghayati rasa sakitku, aku meresapi kekecewaanku, lalu aku berpikir, siapa yang harus kubunuh? Pohon rapuh atau harapanku? Bila hidupku kuhabiskan untuk jatuh bangun keletihan memanjat pohon rapuh, berhargakah? Benarkah akan pernah kulihat cakrawalaku? Lebih indahkah cakrawala dari pohon rapuh, setelah jatuh bangun tak terhingga? Aku menimbangnya, aku berpikir, aku merenung.
Akhirnya hanya muncul sepatah kata, lepaskan. Seperti angin, seperti air, yang bertiup, yang mengalir; mereka tidak berpikir, dan banyak hal terjadi. Tanyakan pada angin, sudahkah dia lihat cakrawalanya? Tanyakan pada air, sudahkah dia lihat cakrawalanya? Maka aku tanyakan pada diriku, tanpa bertiup, tanpa mengalir, dapatkah aku lihat cakrawalaku? Pertanyaan yang salah, jawaban yang salah. Pertanyaan yang benar, sedari awal, mengapa harus bertanya?

Jakarta, 5 Agustus 2016

Lalalala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: