Ilmu Padi : Berani Tegak Berani Merunduk


…….sambungan China

Bila kita melihat ke belakang, kita akan tahu seberapa jauh kita telah berjalan, seberapa berhasil kita yang hari ini dibandingkan dengan kita yang kemarin. Namun, apa itu keberhasilan? Saya yakin masing-masing orang memiliki tolak ukurnya sendiri. Mungkin ada yang berkata bahwa keberhasilan adalah memiliki banyak uang, yang lainnya berpendapat bahwa keberhasilan adalah memiliki jabatan tinggi, sedangkan yang lainnya lagi menganggap bahwa keberhasilan adalah menjadi terkenal. Yah, masing-masing orang boleh memiliki pendapatnya sendiri.

Bagi saya sendiri, keberhasilan saya temukan maknanya dalam perjalanan pulang kampung ke negeri China. Sebenarnya bukan saya yang pulang kampung, saya hanya mendampingi serombongan keluarga yang pulang kampung untuk menjenguk saudaranya. Karena judul saya sebagai “pendamping” itulah, saya diharuskan untuk melayani permintaan rombongan ini, baik yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal. Awalnya saya terganggu dengan permintaan-permintaan menjengkelkan mereka, karena saya harus mengesampingkan segala macam ego dan harga diri untuk “melayani”.

Namun seiring berjalannya waktu, saya mengalami banyak kejadian yang membuat saya sadar bahwa melayani bukan berarti menunduk, menjadi sederhana bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Di rombongan keluarga ini, ada seorang yang paling kaya di antara semuanya (mungkin bahkan bisa digolongkan sebagai anggota klub konglomerat di Indonesia) namun justru orang ini yang paling jarang menuntut, mengayomi semuanya, bahkan mengalah demi kepentingan yang lainnya. Sikapnya yang membumi membuat saya belajar, bahwa mengalah tidak sama dengan kalah, justru mengalah adalah sikap yang hanya bisa dilakukan oleh orang besar.

Lalu saya perhatikan lagi anggota keluarga lainnya, mereka-mereka yang “ternyata” memiliki banyak uang, jarang pamer kekayaan, jarang menuntut, karena mereka tahu bagaimana bersikap, tidak ada aksi unjuk kekuasaan yang butuh dipamerkan. Sebaliknya, mereka yang kurang mampulah yang terus merepotkan orang lain, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka yang sudah membayar harus dilayani bak raja. Bisa jadi, karena mereka merasa uang yang sudah dikeluarkan cukup besar sehingga mereka harus mendapatkan pelayanan seperti itu. Dari sana saya belajar, menjadi kaya bukan hanya berarti memiliki banyak uang, namun juga memiliki sikap seperti seorang yang sepantasnya memiliki kekayaan melimpah…tidak sombong, pengertian.

Di tengah  perjalanan kembali ke tanah air, sekali lagi saya diberi contoh tentang apa itu keberhasilan, apa itu artinya menjadi “orang besar”. Kebetulan, pesawat yang kami tumpangi mengalami kerusakan sehingga harus berputar balik ke bandara semula. Setibanya di bandara, terjadi antrian panjang di kalangan penumpang, orang-orang panik untuk mendapatkan layanan terbaik. Di bagian paling belakang dari antrian, berdiri seorang anak muda dengan penampilan mencolok (rambutnya dicat biru), saya tahu tadi dia duduk di kelas bisnis. Alih-alih “panik” menuntut haknya sebagai penumpang kelas bisnis, anak muda ini mengantri dengan santainya di belakang.

Penasaran, kami pun berbincang. Ternyata dia anak seorang konsulat jendral, ayahnya bertugas mewakili Indonesia di kota ini. Anehnya, terlepas dari ayahnya yang bisa dikatakan mengepalai seluruh Indonesia di sini, gayanya justru sederhana, bukan jenis anak pejabat yang hobi pamer kekuasaan ataupun pamer harta. Bahkan, dia memilih untuk berjuang sendiri agar bisa mendapatkan kamar di hotel bandara untuk bermalam, ketimbang menelepon orangtuanya dan meminta dijemput ajudan. Saya melihat sendiri, dia hampir menangis untuk mendapatkan kamar karena kendala bahasa, namun dia tidak memutuskan untuk memakai hak “anak pejabatnya”. Dia pun tidak pulang ke rumah naik taksi, karena ternyata hanya diberikan uang jajan sebesar 100 RMB (setara dengan dua ratus ribu rupiah) oleh orangtuanya untuk bekal di jalan. Di tengah maraknya sindrom “anak pejabat” di tanah air, ternyata Sang Konjen masih mengajarkan sesuatu yang luhur pada anaknya, bahwa yang penting adalah kemandirian individual; keberhasilan bukan sesuatu yang bisa diturunkan, jabatan bukan sesuatu untuk dipamerkan.

Lalu, apabila kekayaan hanyalah sesuatu yang tidak untuk dipamerkan, dan pangkat, jabatan, serta pengakuan masyarakat bukanlah sesuatu untuk dibanggakan, apalah gunanya manusia mengejar keberhasilan? Saya menemukan jawabannya dalam penerbangan kembali ke tanah air keesokan harinya.

Karena penerbangan kami ditunda hingga keesokan harinya, kebijakan penerbangan mengharuskan maskapai penerbangan untuk memberikan ganti rugi. Sebagai ganti rugi, kami yang seharusnya duduk di kelas ekonomi dinaikan kelasnya menjadi penumpang kelas bisnis. Wah, lumayan…..ini pertama kalinya saya duduk sebagai penumpang kelas bisnis. Berbagai fasilitas kami dapatkan, mulai dari akses untuk ruang tunggu premium dengan makanan melimpah, jalur naik pesawat prioritas tanpa antrian, tempat duduk yang jauh lebih nyaman di pesawat (dengan berbagai macam tombol untuk mengatur tinggi rendah tempat duduk), sampai makanan dan minuman mewah sekelas hotel bintang 5 yang dimasak langsung oleh koki selama penerbangan. Bandingkan dengan tempat duduk sempit yang membuat kaki pegal, makanan dingin yang sudah dimasak sehari sebelumnya, antrian yang mengular…itulah fasilitas yang didapatkan oleh penumpang kelas ekonomi.

Di titik inilah saya tersadar, ternyata itu artinya keberhasilan! Keberhasilan adalah memiliki cukup banyak uang untuk menikmati hidup, untuk membahagiakan keluarga, untuk menolong masyarakat sekitar. Keberhasilan adalah memiliki pengaruh yang cukup besar untuk membantu orang yang lemah di saat dibutuhkan, memiliki kekuatan untuk membela yang tertindas dari orang-orang yang menyalahgunakan jabatannya. Menjadi kaya bukan berarti saya harus memamerkan kekayaan saya; menjadi kaya hanya memberikan saya sarana, untuk memilih jenis hidup yang saya inginkan untuk saya, keluarga saya, dan masyarakat lainnya secara luas. Memiliki jabatan tinggi bukan berarti saya harus menindas orang-orang yang berada di bawah, justru memberikan saya kesempatan untuk berbuat lebih banyak dalam membangun komunitas, masyarakat, bangsa dan negara, dan seterusnya.

Pada akhirnya, semua yang kita miliki, tidak ada gunanya bila hanya kita gunakan untuk egoisme dan kepuasan pribadi. Sebesar-besarnya keinginan dan egoisme kita sebagai manusia, masih jauh lebih kecil dibanding kekayaan yang bisa kita hamburkan, kekuasaan yang bisa kita salahgunakan, pengakuan dari masyarakat yang hanya sekejap saja jangka waktunya. Perasaan puas tersebut hanya dapat muncul ketika kita mengerti dan melaksanakan ilmu berbagi. Keberhasilan yang dicapai, tidak akan hanya menjadi keberhasilan kecil bila target penikmatnya adalah orang-orang di luar kita, baik itu keluarga, komunitas sekitar, masyarakat, maupun warga dunia. Pertanyaannya, sudah siapkah kita untuk menjadi kaya, menjadi terkenal, berpangkat tinggi, terkenal di masyarakat, dan seterusnya? Saya pikir-pikir lagi, bila itulah wajah asli keberhasilan, mengapa tidak?

 

23 Juli 2016

 

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: