Asal Usut Asal Usul


Sebenarnya darimanakah asal usul seorang manusia? Ehm, manusia, tampaknya kita berbicara tentang sesuatu yang terlalu jauh, terlalu luas ya? Bagaimana kalau kita berbicara tentang sesuatu yang lebih sempit saja, asal usul saya? Saya…siapa saya?

Saya seorang warga negara Indonesia, lahir di ibukota Jakarta. Tapi kalau di buku-buku, koran-koran, majalah-majalah, berita TV dan radio, saya akan disebut sebagai warga negara keturunan, bukan pribumi artinya. Jadi begini, kakek nenek saya, datang dari negeri bambu berpuluh-puluh tahun lalu untuk mengadu nasibnya di bumi nusantara. Lalu kemudian lahirlah ayah dan ibu saya, kemudian lagi lahirlah saya. Karena ajaran keluarga, saya masih menganut banyak kebiasaan yang berasal dari nenek moyang, termasuk budaya, bahasa, dan lain-lain.

Nah, jangan bayangkan bahwa kakek nenek saya berasal dari kota besar di China. Tidak seperti itu….mereka hanya berasal dari suatu daerah kecil di bagian selatan China. Seperti banyak orang yang berasal dari daerah kecil lainnya, mereka menganut kebiasaan lokal, berbicara dalam bahasa daerah setempat, juga membiasakan diri dengan makanan lokal. Seperti juga banyak orang daerah, mereka mewariskan berbagai kebiasaan budaya yang kental tersebut kepada anak-anak mereka, kepada cucu mereka, dan akhirnya saya pun memiliki semua kebiasaan tersebut. Jadilah saya seorang Indonesia, anak kota besar, sekaligus anak kampung dari China.

Dulu saya sering berpikir, posisi ini agak sulit. Di Indonesia, saya tidak akan pernah benar-benar diakui sebagai warga negara sejati, saya hanya pendatang kok, bukan pribumi. Di China, saya tidak akan diakui juga sebagai warga negara, buktinya saya butuh paspor dan visa untuk memasuki negara China. Di belahan dunia lain, tidak ada juga orang yang menyangka saya orang Indonesia karena perawakan saya, saya akan selalu disangka orang China. Ini posisi yang serba tanggung, sampai-sampai saya sempat merasa tidak diakui sebagai warga dunia karenanya, asal usul saya rumit!

Nah, minggu ini saya pulang kampung ke China. Tidak disengaja, hanya karena kebetulan ada tugas untuk membawa satu keluarga keturunan mengunjungi anggota keluarga yang sakit. Jujur saja, saya sudah berkali-kali ke China, kota besar, kota kecil, ah banyaklah kota yang sudah saya kunjungi di sini. Namun belum pernah terpikir sama sekali untuk melihat kampung kelahiran nenek moyang, saya tidak berniat juga untuk melakukannya. Tidak disangka, justru di kampung ini saya menemukan jawaban dari pertanyaan sulit selama ini, asal-usul saya.

Awal tiba di kampung terasa aneh karena saya mendengar penduduk kota ini berbicara dengan bahasa daerah yang akrab di telinga saya. Jarang, karena biasanya seluruh China akan berbicara dengan bahasa Mandarin, atau bahasa daerah kota tersebut yang tentunya adalah bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Ini pertama kalinya, saya berada di luar negri, namun saya merasa akrab, saya mengerti setiap kata yang mereka ucapkan dalam bahasa kampung! Begitu juga dengan makanan kampung yang dihidangkan, rasanya persis dengan makanan yang biasa dihidangkan di rumah. Ah, serasa saya benar-benar adalah penduduk kampung ini!

Tapi saya baru benar-benar mengerti asal-usul saya ketika kami mengunjungi sebuah kuil Budha di kota. Kuil ini memiliki seribu arca Budha di dalamnya, lengkap dengan pagoda di atasnya. Berbeda dengan kuil Budha lainnya di berbagai belahan China, kuil ini dikelola sepenuhnya oleh bikhuni, biksu wanita. Kami tiba di kuil ini agak sore, banyak bagian dari kuil sudah mulai ditutup, tidak ramai pengunjung. Entah kenapa, begitu memasuki area kuil, tiba-tiba ada perasaan damai yang muncul, perasaan seperti pulang ke rumah. Ini aneh, karena jelas-jelas saya bukan penganut agama Budha.

Bersamaan dengan perasaan damai, muncul juga banyak pemikiran yang melintas di kepala, pemikiran yang lebih dalam tentang hidup. Tepat ketika saya bingung dengan perubahan mendadak ini, pemandu kami berkata, “Tempat ini selalu berhasil membawa kedamaian, membuat manusia memiliki pemikirannya masing-masing, pertanyaan dan jawaban tentang hidup.” Ah, rupanya dia bisa membaca isi hati dan pikiran saya, persis! Jadi ternyata bukan saya satu-satunya orang yang merasakannya, dia juga.

Kalimat berikutnya yang maut, “Semua manusia pada dasarnya sama, hanya ingin hidup damai, itulah rasanya pulang ke rumah.” Pada akhirnya saya tahu, tidak masalah dimana saya dilahirkan, tidak masalah juga dari mana asal orang-orang yang telah melahirkan saya, tidak peduli dimana rumah saya, tidak peduli dimana saya dibesarkan dan tinggal, pada akhirnya…..saya adalah warga dunia! Kita, manusia, berasal dari satu dunia. Kita, manusia, saling terkait, dimanapun kita berada. Kita pun berbicara bahasa yang sama, bahasa jiwa. Ketika matahari akhirnya tenggelam sembari menyinari puncak atap kuil dengan sinar terakhirnya, saya tahu…darimana pun kita berasal, hanya ada satu tempat untuk kembali, kedamaian yang abadi.

 

17 Juli 2016

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: