Takut Apa?


Perubahan. Hm, menulisnya mudah saja, tapi tidak mudah menjalaninya. Prinsipnya sih sederhana saja, dari suatu keadaan, menjadi keadaan yang lain, ada yang berbeda di dalamnya. Dilihat di atas kertas, mudah. Masalahnya, ketika benar-benar terjadi dalam hidup, rasanya susahhhhhhhh sekali. Meninggalkan semua kebiasaan, kehilangan pegangan, mungkin ada rasa yang hilang dan tak terbalaskan juga…entahlah, aneh sekali rasanya.
Keadaan menjadi sulit, karena saya tahu perubahan ini akan terus terjadi, seumur hidup. Cepat atau lambat, saya harus mengetahui cara untuk mengatasinya. Kalau tidak, saya akan terus terseret dalam arus perubahan, tanpa saya memiliki cara untuk mengatasinya. Sebenarnya kalau mau dipikirkan secara positif, perubahan membawa banyak sekali peluang, kesempatan, kemungkinan, yang bisa jadi berkali-kali lipat lebih menarik, lebih menguntungkan, bahkan jauh lebih baik daripada keadaan yang sekarang. Mungkin bisa diproyeksikan segala macam hal yang indah-indah tersebut di dalam kepala, lalu perubahan itu akan menjadi mudah, karena adanya kepercayaan (dan iman) bahwa perubahan tersebut pada akhirnya pasti membawa kebaikan. Namun di titik ini, di tempat saya berdiri sekarang, tidak ada tanda-tanda kebaikan sama sekali, saya harus berusaha keras mengimajinasikannya. Sementara itu, perasaan takut, kesepian, ditinggalkan, sedih, terus menerus menggerogoti hati.
Apa jalan keluarnya? Oke, mari dicoba lagi. Proyeksikan ujung yang indah. Tinggalkan perasaan terpaksa. Hargai diri sendiri, pastikan bahwa perubahan adalah berkat yang diberikan karena sudah saatnya naik level kehidupan. Positifkan diri dengan membuka pergaulan lebih luas, komunikasi dengan lebih banyak orang, dengar pengalaman mereka. Buang energi negatif, buang kelebihan energi dengan olahraga, percaya tidak percaya keringat membantu meningkatkan suasana hati. Semalas dan setidak enak apapun perasaan saat itu, sibukkan diri dengan kegiatan positif, bekerja dengan hati, disiplin dengan rutinitas. Percaya, imani, rasakan bahwa Tuhan baik adanya, dan Dia selalu ada dalam hati, tidak pernah pergi, setia. Ehm, ok, terdengar masuk akal, terasa benar juga di hati….seharusnya bisa dilakukan.
Baiklah, ini saatnya berhenti berpikir, berhenti mengeksplorasi terus menerus perasaan yang membuat tertekan…lakukan saja sesuatu. Saya jadi ingat, tadi saya sempat terinspirasi seorang supir taksi. Bapak supir mengantarkan saya dalam jarak yang dekat saja, kurang dari 10 menit, tapi ceritanya cukup menggugah. Ceritanya Bapak ini bekerja 15 tahun di sebuah perusahaan, namun perusahaan ini diambil alih oleh pemilik lain, singkat cerita terjadi pengurangan karyawan, dan bapak tadi pun menjadi supir taksi. Kalau mau dibilang jauh lebih enak dulu, iya! 15 tahun bukan waktu yang singkat, berapa banyak kenangan ada di dalamnya…tapi bapak tadi baik-baik saja loh. Dia menjadi supir taksi yang baik, senang dengan pekerjaan barunya.
Saya tidak pernah bekerja sampai 15 tahun, pasang surut kehidupan saya belum menciptakan gelombang sebesar itu. Jadi, apa yang saya khawatirkan? Hidup masih panjang, perubahan masih akan terus terjadi. Bila perubahan adalah berkat, mengapa harus takut untuk diberkati? Bila memang ada saatnya untuk merasa sedih, kesepian, rindu, mengapa tidak dinikmati saja? Ketimbang takut menghadapi ombak kehidupan yang menerpa, mungkin sudah saatnya mengambil papan selancar, naik ke atas ombak dan menikmati adrenalin yang terpompa? Kalaupun harus jatuh berulang kali, ya sudah….menangis, tertawa, masih banyak hal untuk dinikmati, langit batasannya.

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: