Bercermin dari Nisan


Pemakaman. Apa yang terbayang? Kematian, suasana suram, isak tangis? Dulu itu yang ada di benak saya, namun ternyata pemakaman lebih dari sekedar itu. Hari ini saya menghadiri pemakaman ibu seorang teman, beliau meninggal mendadak karena sakit 2 hari yang lalu. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya, pemakaman dengan budaya dan agama yang berbeda. Segalanya terasa lebih membingungkan, terlebih lagi saya datang sendirian. Saya bingung bagaimana menempatkan diri di tengah suasana duka ini, rasanya tidak nyaman sama sekali!

Ketika pagi hari saya tiba di rumah teman tersebut, pihak keluarga sedang bersiap-siap memandikan jenazah. Setelahnya jenazah disemayamkan dan didoakan di ruang musholla. Tidak lama kemudian iring-iringan mobil bergerak bersama menuju TPU Pondok Rangon. Ketika prosesi pemakaman berlangsung, berkali-kali saya berusaha mencoba menahan air mata, namun rasanya dada tetap sesak, seperti ada air bah yang ingin menerjang keluar. Jangan salah, air mata ini bukan karena saya mengenal baik almarhumah, hanya satu kali saya bertemu dengan beliau, itu pun tidak menimbulkan kesan yang mendalam. Air mata ini bukan juga karena saya merasakan kesedihan pihak keluarga, saya bukan jenis manusia yang akan menangis hanya karena melihat kerumunan manusia lain di sekitar saya menangis.

Justru, yang membuat saya menangis adalah diri saya sendiri. Ya, diri saya sendiri! Kenapa? Saya iri pada almarhumah! Kematiannya mungkin mendadak, namun kenangan dan jejak yang ditinggalkannya sedikit demi sedikit membekas di hati kerumunan manusia yang mengiringi pemakaman. Saya yakin tidak sedikit manusia yang hadir di sana bahkan belum pernah berjumpa dengan almarhumah semasa hidupnya, namun mereka menangis untuknya! Kenapa????

Kontras dengan proses pemakaman yang berlangsung cepat, kenangan dan perbuatan baik yang ditinggalkan tidak menghilang begitu saja. Bahkan ketika tanah telah menutup jenazah, saya melihat cinta masih bersemi, jenis cinta yang tidak akan pernah mati. Cinta yang mungkin awalnya romantis, menjadi kuat ketika badai kehidupan menerpa, lalu berubah menjadi cinta yang kekal ketika salah satu pasangan telah tiada. Saya melihat ayah teman saya mengelus lembut wajah almarhumah, seakan ingin membisikkan kata cinta terakhir, kata keabadian. Lalu saya melihat anak-anak almarhumah, saya juga melihat cinta di mata mereka. Jenis cinta yang berbeda, namun sama kekalnya.

Tatapan saya berpaling pada kerumunan manusia lainnya yang hadir. Tidak, saya tidak peduli pada isak tangis mereka! Namun saya dapat merasakan, kesedihan mereka yang menguap di udara, kehilangan sesosok manusia yang mereka anggap baik? Mungkin banyak dari mereka yang pernah merasakan keramahan dan kebaikan almarhumah, saya tidak tahu. Tapi saya tahu, banyak dari mereka datang untuk berbagi kesedihan dengan suami yang ditinggalkan, dengan anak-anak yang kehilangan sosok ibunya.

Saya iri lagi! Betapa banyak yang telah dicapai almarhumah, lihat suaminya, lihat anak-anaknya, lihat kerumunan manusia yang peduli! Istri seperti apakah yang telah membuat seorang suami dapat begitu mencintainya, ibu seperti apakah yang melahirkan dan membesarkan anak-anak yang disayangi setulus-tulusnya oleh demikian banyak orang? Pemakaman kali ini seperti rapor yang dibagikan di akhir kehidupan, dan almarhumah mendapatkan nilai yang memuaskan. Pada akhirnya, pemakaman ini memaksa saya untuk berkaca, bagaimana rapor saya? Kehidupan berlalu secepat kedipan mata, dalam satu hitungan napas bisa saja saya yang terbaring di dalam liang kubur, lalu bagaimana nilai saya?

Seperti anak yang ketakutan melihat rapornya, dada saya berdebar-debar, berikutnya sesak, lalu muncul seberkas air mata. Saya bukan siapa-siapa, saya tidak mencapai apa-apa! Jangan salah kaprah, ini bukan masalah pencapaian, saya tidak peduli dengan nilai, saya tidak peduli ada berapa banyak manusia yang berkerumun di pinggir kubur saya. Air mata ini muncul karena saya menemukan jawaban, mengapa saya tidak pernah benar-benar hidup. Saya terlalu egois, saya tidak pernah peduli, saya tidak sudi berbagi.  Semua yang saya pikirkan, yang saya pedulikan, siapakah yang akan menangisi saya, tersisakah sesuatu untuk dikenang? Pada akhirnya, apakah ada yang peduli, adakah yang sadar bahwa saya pernah hidup di muka bumi?

Bukan, sudah saya katakan jangan salah sangka, saya tidak butuh pengakuan! Pun bukan kenangan yang saya harapkan! Secepat tanah ditutup dan mengering, saya percaya secepat itu juga hidup kembali berlanjut. Tapi saya percaya saya diciptakan untuk sesuatu yang lebih dari itu, bukan untuk dikenang setelah mati, tapi untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Waktu yang selama ini terbuang percuma, tidakkah seharusnya saya kembalikan kepada keluarga, kepada Tuhan, kepada semesta? Pikiran untuk bersedih dan mempertanyakan dunia, tidakkah seharusnya saya gunakan untuk menciptakan keindahan? Dan kesepian yang setia menghantui, bukankah seharusnya kau datang nanti ketika sudah saatnya manusia terbaring sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: