Cukup Hidup


mengenang ibunda teman yang berpulang hari ini 7 juli 2016

Saya sangat sering memusingkan kehidupan, arti hidup, tujuan hidup, segala pernak pernik tentang hidup menggelayuti pikiran. Namun hari ini saya kembali disadarkan, bahwa hidup tidak serumit yang dibayangkan. Hidup, hanya seperti embusan angin, datang dan pergi, terkadang bahkan sebelum kita menyadarinya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengatur awal dan akhir hidup. Sebaliknya saya malah pusing dengan bagaimana hidup ini berproses, memikirkannya seolah saya tahu seberapa panjang hidup berlangsung.

Sekejap mata. Ya…hanya sekejap mata saja saya diberi kesempatan untuk menikmati hidup, mengecap kebahagiaan, lalu bersusah payah, kemudian kembali bersungut-sungut. Tak disangka, dalam kurun waktu yang sesingkat itu, dapat terjadi begitu banyak perubahan. Namun, waktu yang dibutuhkan bagi sesosok manusia untuk mengalami perubahan ternyata memang sesingkat itu. Sadar tak sadar, mau tak mau, tidak ada perpanjangan waktu. Dalam satu hembusan napas, bisa saja tiba-tiba saya tidak lagi dapat menikmati udara bebas. Dalam satu helaan asa, bisa juga tiba-tiba saya menemukan pasangan jiwa, lalu (konon katanya) menemukan kebahagiaan yang hakiki. Dalam sepersekian detik saja, bila diijinkan, ada begitu banyak perubahan yang dapat terjadi, namun waktu tidak akan pernah berputar mundur.

Lalu, saya masih di sini, memikirkan tentang proses, memikirkan kebahagiaan, merenungkan kesedihan, kesepian, berusaha menentukan tujuan? Saya takut dalam hitungan sepersekian detik itu, saya belum menikmati semua kebahagiaan, saya berlari tanpa tujuan, saya melayang hilang dalam kesedihan! Tapi bila saya tidak memiliki kuasa atas perubahan, dan perubahan itu selalu datang tanpa diduga, apa yang saya takutkan? Hanya objek semu! Sesemu hidup saya, yang mungkin saja berubah seiring dengan jatuhnya sehelai daun ke tanah, atau bisa juga mendadak seperti lilin yang tertiup angin, mati.

Saya terperangkap dalam pikiran abstrak tentang proses hidup yang panjang, walaupun saya sepakat bahwa jangka waktu hidup saya ternyata singkat. Saya takut hilang, tapi saya lebih takut lagi hilang tanpa arti. Saya takut mati, terlebih lagi mati sia-sia. Begitu banyak ketakutan, lantas apa artinya hidup? Sudahlah lupakan saja semua itu, semua toh hanya berlangsung dalam satu kedipan mata. Mengapa tidak hidup sehidup-hidupnya, tanpa butuh berpikir apa itu hidup sendiri? Mencintai, dicintai, membenci, dibenci….apa artinya bila semua berlangsung secepat itu?

Hidup adalah saat ini, satu helaan napas yang kini, kebahagiaan di detik ini, kesedihan di detik ini….hidup adalah sekarang! Nikmati hidup, tangisi hidup….saya ada di sini, saya sadari saat ini. Orang-orang boleh datang dan pergi, cinta, benci, saya tetap bercinta, saya tetap berkarya. Saya setia tertawa, juga tak ragu menangis. Ketika satu hembusan napas ditarik, saya mau berkata, “Satu hembusan napas sudah cukup!”

 

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: