Ada Karena Tiada


Seperti pepatah terkenal, dikatakan setelah gelap terbitlah terang. Beberapa hari lalu adalah gelap pekat, dan bagaimana pun juga saya mencoba untuk percaya bahwa terang akan terbit, rasanya tidak ada titik terang sama sekali. Saya bergumul dalam kesedihan, bergelut dengan air mata. Namun tanpa saya sangka, tidak tahu mengapa dan bagaimana, tiba-tiba terang itu terbit hari ini. Pagi ini saya terbangun dengan harapan, matahari yang saya tatap dari jendela berbeda hari ini, dia memancarkan terang ke dalam hati.
Suasana cerah tersebut terbawa sepanjang hari; saya menjadi lebih sabar, lebih ceria, saya bisa tersenyum kepada dunia. Dan ternyata, ketika kita menghadapi dunia sambil tersenyum, semuanya berbeda. Saya tidak butuh menyiksa manusia lainnya untuk mendapatkan kepuasan, pun tidak butuh terburu-buru seakan dikejar jarum detik yang terus berlari….saya melepaskan semuanya.
Saya menikmati kesendirian saya hari ini, seperti tahanan yang baru dibebaskan. Bebas dari apa? Bebas dari belenggu yang saya ciptakan sendiri! Tidak ada yang dapat membuat saya marah, sedih, bosan, atau kesepian, bila saya tidak menghendakinya. Saya menginginkan, maka terjadilah!
Saya sibuk sedari pagi, bertemu dengan banyak orang, menyempatkan diri pulang ke rumah, dan lain-lain. Begitu banyak hal yang malas saya lakukan selama beberapa bulan terakhir, saya selesaikan hari ini. Saya bertemu dengan beberapa supir salah satu taksi online dalam perjalanan, mengobrol dengan mereka, berbagi, dan dengan ikhlas mensyukuri apa yang mereka bagikan kepada saya. Saya melihat senyuman, saya merasakan semangat, saya melihat orang-orang yang mencari dan mendapatkan impian mereka, saya belajar!
Pengalaman dengan supir-supir tersebut mengajari saya, bahwa bila saya rela meluangkan sedikit waktu untuk dibagikan dengan orang-orang lain, banyak hal yang bisa saya dapatkan, maka saya mencoba berbagi lebih banyak hari ini. Saya fokus, tidak terpaku pada gadget, tidak memikirkan segala sesuatu atau siapa pun yang tidak butuh saya khawatirkan, saya berada di ruang dan waktu yang tepat. Rasa penasaran saya bangkit kembali, rasanya ada dorongan yang meluap-luap untuk berbagi, atau mendapatkan sesuatu dari orang lain. Saya mengobrol dengan penjual tiket bioskop (yang dengan malu-malu mengakui bahwa ia menonton setiap film yang diputar, namun hanya awal dan akhirnya saja), saya bergurau dengan petugas purna jual kartu komunikasi, saya mempertahankan interaksi.
Indera saya menjadi lebih tajam, saya memperhatikan, mendengarkan, merasakan, mengecap dengan sepenuh hati. Saya sudah memutuskan untuk memuaskan diri saya sendiri hari ini, maka saya pun melangkah masuk ke sebuah restoran cepat saji, jenis makanan “sampah” yang sudah lama tidak saya konsumsi. Saya memesan sebuah paket besar, menikmatinya suap demi suap. Dengan tangan saya sendiri, saya memasukkan sepotong besar “sampah” (alias : kenikmatan) tersebut ke dalam mulut saya…..ehm, surga begitu dekat! Ah, ternyata ini rasanya makan menggunakan tangan langsung, tidak dengan sendok, garpu, pisau….atau alat apapun yang biasanya membuat tangan saya bersih. Saya berinteraksi dengan ayam goreng, bulir-bulir nasi, bahkan dengan lemak gurih yang biasanya menakutkan bagi saya.
Terakhir saya memutuskan untuk menonton film di bioskop, dan ternyata tiket yang saya genggam di tangan saya adalah tiket untuk film yang salah. Ah sudahlah, siapa yang peduli, semua keceriaan tidak berakhir hanya karena sebuah kebetulan kok. Namun ternyata itu bukan sebuah kebetulan, film tersebut sangat menghibur, bahkan membuat saya merasakan euforia! Wow, sudah berapa lama saya tidak merasakan perasaan ini. Kata film tersebut, semua orang adalah pahlawan untuk dirinya sendiri, bila dia dapat menjadi dirinya yang sebenarnya. Nah, cocok….saya suka menjadi pahlawan!
Tidak puas, keluar dari ruang teater saya kembali lagi ke loket, membeli tiket untuk film yang saya inginkan tadi. Wuah, film satu ini ternyata tidak berbeda jauh topiknya, tentang pahlawan juga. Bedanya film pertama tadi tentang pahlawan yang tak terlihat, kalau yang ini kentara sekali, topiknya pahlawan menyelamatkan dunia. Garis besarnya sama, pahlawan, pengorbanan….haha, renungan yang bagus untuk menutup hari.
Pulang, mengobrol lagi dengan supir taksi online yang berbeda. Mendengar lagi cerita tentang perjuangan, melihat lagi kebaikan dan ketulusan, ternyata itu energi yang dibutuhkan untuk hidup. Hari ini saya banyak belajar, banyak mengajar, banyak tertawa, banyak menikmati. Bila saya dapat menutup hari dengan hanya sedikit mengeluh, sedikit sombong, sedikit curiga, sedikit menghakimi, apalagi yang tidak dapat saya syukuri? Sedikitnya, hari ini hati kecil saya terbujuk untuk percaya, pada dirinya sendiri dan pada hati manusia-manusia lainnya.

Jakarta, 27 Juni 2016

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: