Hikayat Pengemis Harga Diri


Hidup adalah masalah memberi dan menerima. Tunggu, ada yang salah disini. Pernah perhatikan ayat alkitab? Pernahkah disebut kalau manusia seharusnya mengharapkan untuk menerima? Manusia, saya, diharapkan untuk memberi, urusan menerima, itu di luar kemampuan saya, bukan juga hak. Jadi ini bukan hukum hak dan kewajiban; kau memberi adalah kewajiban, maka kau menerima adalah hak.

Rasanya hukum ini sudah saya pelajari berpuluh-puluh tahun, namun belum juga saya mampu menguasainya. Saya menganggap bila saya bisa memaksakan pemberian saya, maka saya juga bisa memaksakan pihak yang diberi untuk menerima, syukur-syukur memberikan balasan pemberian. Tapi saya hanya manusia, bagaimana caranya saya tahu bahwa yang saya berikan adalah yang dibutuhkan oleh manusia lain, terlebih memaksakan apa yang saya berikan? Lalu saya memaksa lagi manusia tersebut untuk berterima kasih!

Saya ulang lagi topik ini. Cinta, memberi, dan menerima! Rupanya saya belum banyak maju di sini, saya masih berputar-putar di kesalahan yang sama, memberikan derita yang sama bagi saya sendiri (mungkin juga orang lain). Kenapa sih cinta saya tidak bisa tulus? Seperti yang ditulis di buku-buku, memberi, dan hanya gembira saja melihat kegembiraan sang penerima? Memberi, tanpa batas? Saya selalu menjadi pihak yang tidak mau kalah, malas berpikir, keluar dari masalah, menghindari pembelajaran….dan hasilnya saya berkutat di lumpur ini lagi.

Kalau begitu kita balik cara berpikirnya, apa yang sebenarnya diinginkan orang yang ingin dicintai? Sanggupkah itu saya berikan? Apa sebenarnya cinta yang tulus itu? Apakah kalau saya bisa memberikan cinta tulus itu, saya lalu bisa menemukan diri saya? Hei, lihatlah dirimu sendiri! Apakah kamu bahagia? TIDAK! OK, berarti ada yang salah.

Kenapa butuh ada begitu banyak perenungan? Kenapa kamu butuh memaksa dirimu sebagai pihak yang kalah? Kenapa harus merasa marah? SUDAHLAH. Tidak ada yang butuh direnungkan, otakmu belum sebijaksana itu, hatimu belum setulus itu. Kenapa tidak begini saja? Lihat alam yang selalu bergerak selaras, pikirkan dirimu, nikmati detik ini, saat ini….melebur dalam jiwa semesta, mungkin suatu saat nanti kamu akan bisa menjawab berbagai tanda tanya itu? Carilah, maka kamu akan menemukan. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Maka saya pun pergi, menikmati hidup ini, seakan hari ini hari terakhir dunia. Oh dan tolong ingatkan mantra itu lagi , saya cantik, saya pintar, dan saya baik….niscaya saya akan tetap bahagia dan tersenyum😀

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: