Penerapan Psikodrama untuk Penyampaian Materi pada anak anak


Hari ini, Kamis, 16 Juni 2016, belajar bersama berlatih Roleplay,…

Lembaga Mahasiswa Psikologi Universitas Gadjah Mada, akan melakukan bakti sosial dengan berkunjung ke Panti Asuhan. Mereka akan melakukan Role Play dalam rangaka mengajak kesadaran akan pentingnya Kebersihan.

Pukul 09.09 WIB acara dimulai, meski masih ada yang akan datang tetap dimulai.

Aku buka dengan bertanya, “Tolong ceritakan apa yang diharapkan dari acara hari ini ?

“Jadi begini, Mas,” kata salah satu mahasiswa itu, “Kami akan berkunjung ke Panti Asuhan, dan akan memberikan nilai nilai Kebersihan kepada anak-anak.  Kami akan melakukan roleplay bersama anak anak, dengan cerita tentang kota Kotoria.”

Ia lalu menceritakan sinopsisnya, “Kota Kotoria adalah kota yang kotor, dikuasai oleh Nona Sampah yang menjijikkan dan tidak suka akan keadaan kota yang bersih. Nona Sampah muncul dengan menyebarkan sampah di setiap sudut. Keadaan yang kotor menimbulkan seorang kena sakit kulit gatal. Muncul seorang yang gatal-gatal dengan bergerak seperti Zombie, menyentuh rekan yang lain dan menularkan penyakitnya. Anak-anak dilibatkan dan mulai berkejar-kejaran, berusaha menyentuh temannya agar tertular.

Setelah beberapa saat permainan tersebut, Narator menginformasikan munculnya kesadaran untuk membersihan sampah yang disebar oleh Nona Sampah. Dengan tetap dikejar “Zombie Penyakit Kulit” anak-anak dan Pendamping memunguti sampah yang berserakan dan dibuang di tempat sampah.

Maka bersihlah Kota Kotoria. Narator mengatakan bahwa kota sudah bersih, maka sekarang yang tidak sakit kulit, berbalik menyentuh “Zombie” agar menjadi sembuh.

Penduduk Kota menjadi sembuh semua, dan sadar pentingnya kebersihan, maka mereka menangkap Nona Sampah.

Nona sampah bertobat, Ia akan selalu menjaga kebersihan, dengan mengungkapkan pertobatannya,

Ungkapan tobatnya berupa kata-kata yang berisi pesan pesan pentingnya kebersihan yang akan menghasilkan kesehatan.”

“Cerita yang bagus,” Kataku, “lalu apa masalahnya?”

Jawabnya, “Bagaimana membuat anak anak, tertarik dan terlibat serta memahami pesan-pesannya?

“Baiklah,..mari kita diskusikan,” Aku mulai memahami apa yang diharapkan oleh temen temen mahasiswa ini.

“Tepat!, temen-temen memilih Roleplay, dalam menyampaikan pesannya. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain berarti semua gembira. Mengapa kalian serius dan tidak menampakkan kegembiraan?” Aku bercanda memecah kebekuan mereka, yang serius dalam mendengarkan.

Bergembiralah!

Tularkan kegembiraan itu pada anak anak,…!

Anak anak sangat peka. Jika kita tegang atau cemberut mereka akan merasakan dan bisa jadi akan takut untuk berinteraksi, maka jika sedang ada masalah serta belum dapat meletakkannya, masalah itu akan terbawa dalam suasana Roleplay. Kondisi begitu akan sulit membangkitkan kegembiraaan anak anak.

Selanjutnya silahkan praktekkan sekarang, ada yang jadi anak anak usia SD, dan sebagian ada yang berperan tetap sebagai fasilitator ”

Aku membagi peran temen-temen Mahasiswa. Mereka yang menjadi anak-anak aku suruh membayangkan, saat mereka berusia Sekolah Dasar, dan bertingkah-laku seperti waktu mereka Sekolah Dasar.

Suasana jadi ramai, mereka bermain seperti anak-anak lagi, gembira dan bercanda. Aku suruh yang fasilitator untuk segera memulai mengajak Roleplay.

“Freezzzz ! ” teriakku, beberapa saat setelah praktek, menghentikan seluruh aktifitas mereka.

“ya,..cukup…gimana rasanya jadi anak-anak ?”

“Menyenangkan, Asyik,” jawab Mereka.

“Bagaimana dengan pendongeng dan pendampingnya?”

“Ribut dan susah dapat perhatian mereka,” keluhnya

“ya,..memang begitu,…namanya juga anak-anak,…” jelasku sambil tersenyum penuh permakluman.

“Paling tidak temen-temen sudah sedikit merasakan dan dapat gambaran lebih nyata suasananya nanti, ada yang ingin ditanyakan, atau didiskusikan sebelum kita lanjutkan?” Aku beri kesempatan mereka bertanya.

Seorang mengangkat tangan dan bertanya,

“Bagaimana jika ada anak yang menolak terlibat dengan anak lain, ia hanya mau dengan temen teman yang sudah akrab saja?”

“Ikuti saja kemauannya,’ jelasku, “biarkan anak itu bersama temen yang ia rasakan akrab, ia masih merasa belum “aman”,…beri ia waktu, bersama dengan proses waktu bermain ia akan mulai asyik,..kemudian akan larut dalam permainan maka dengan sendirinya akan meluas lingkup ruang amannya. Ia akan membuka diri dan akan bermain dengan siapa saja. Prosesnya akan terjadi alami bila suasana sudah cair, tumbuh rasa aman, rasa saling percaya,…permainan akan menyenangkan, tanpa sadar mereka sudah berbaur dan saling bermain, belajar dan gembira.”

Selanjutnya aku sarankan untuk memulai Roleplay-nya.
Sekarang semua jadi pendamping dan kursi-kursi yang ada di sini dianggap sebagai anak anak, silahkan berdiri berpencar agar dapat mengcover seluruh anak, pastikan tidak ada yang terabaikan, pastikan seluruh anak terlibat. Cara memastikannya lihat apakah semua anak sudah bergerak, berinteraksi,..bila ada yang diam saja,..silahkan didekati dan langsung diajak terlibat. dengan disentuh diertai kata-kata yang lebut.”

Aku beri waktu 15 menit untuk merapikan adegan roleplaynya, aku sarankan beri tambahan iringan musik yang dapat membantu dalam membangun suasana. Fasilitator juga diharapkan bergerak aktif serta berlebihan sehingga terlihat lucu dan dapat mengajak tertawa.

Roleplay berjalan lancar,…
Secara umum sudah bagus dan menarik

Aku beri beberapa catatan (teknis tenis kecil) untuk nantinya.

Pastikan nanti musiknya dapat membangun suasana.

Akan menarik jika punya kostum khusus.

Tulis pesan pesan inti yang nanti akan disampaikan saat memberikan kesimpulan.
Pesan nilai nilai ini buatlah dengan kata-kata yang sederhana, berupa slogan slogan yang mudah diingat, misalnya; bersih itu sehat, aku akan sikat gigi, aku akan rajin mandi,….(disesuaikan dengan aktifitas anak anak)

Intinya memberikan kesan bahwa Roleplay ini dipersiapkan dengan serius. Selain anak-anak gembira dan mendapatkan pengalaman serta pelajaran, Pihak Panti juga merasa dihargai. Terakhir dan tidak kalah penting adalah panitia dan fasilitator mendapatkan pengalaman dan bepajaran yang dapat dijadikan bekal hidup nanti.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: