Dialog Hari lni : Puisi Horor


Hari ini, 23 Juni 2015

Setelah berkegiatan akademis aku kembali ke kamar dan merebahkan tubuh, sulit juga untuk tertidur maka aku sibukan diri dengan melamun dan bermain pikiran. Semakin dalam melamun, yang muncul di kepalaku hanya ketakutan dalam hidup, semakin dalam lagi, ketakutan itu berpadu dengan skema dan sketsa yang runtut menjadikan ketakutan itu bertambah kuat dan membuat jantung dan rambut halus bereaksi.

Aku semacam memilih ketakutan, “ahh ini saja ketakutan yang abstak”. Ketakutan pada hal metafisik. Mencoba mengarungi pikiran dan menebarkan persepsi wujud nampak dari metafisik, akhirnya meletup kata yang mampu menyimbolkannya. Cukup puitis aku pikir, kata-kata yang muncul itu bahkan belum pernah masuk dalam barisan puisiku. “Ketakutan? Metafisik? Kata-kata? Puisi? Hmmm puisi horror? Pertanyaan yang bagus otak! Ada film horror cerpen horror, novel horror, apa ada puisi horror?”

Lalu otak minta teman untuk berpikir. Baiklah otak kita lakukan telepati berbayar saja pada sahabat tua.

Apa pendapatmu tentang puisi horror? Apakah ada seniman yg menggandrungi?

Apa yang kau maksud dengan Horror? Apakah roh gentayangan atau mengusik ketenangan penikmat puisi dengan ketakutan?

Dunia spiritual ataukah bermain dengan mahkluk astral?

Puisi selalu menepi, atau sesekali di persimpangan, bukan di tengah arus apa lagi mengarunginya.

Bila akhirnya tempat puisi menepi menyeruak arus, maka biasanya puisi akan mencari tepian lain dan memilih tepian yang senyap.

Niatan puisi adalah mengungkap gejolak, bukan untuk mengangkat layar.

Mengoyak dunia mental bukan untuk terkenal.

Seketika ada hasrat dan motif maka hilang makna, terdegradasi.

Tetapi ketakutanku nyata, muncul mengkontaminasi rasa.

Setiap puisi adalah teror bagi jiwa-jiwa mapan dan bagi pujangga ketakutan adalah tetesan tinta, bahan dasar utk mengguratkan karya.

Dengan kata lain puisi tak berkategori?

Kategori dicipta para pewarta, memudahkan ia dirasa dan dicerna pembaca

Sesaat lalu aku berpikir mempuisikan sebuah ketakutan yang metafisik apakah menjadikan ia terkategori?

Ibarat alunan nada Klasik yang akan bertahan sepanjang masa dan Populer yang meraja dalam kurun waktu sebatas senja

Apakah masalah jika puisiku tentang ketakutan metafisikku?

Perkara kategori biarlah pewarta yang menakari. Menujulah pada rasamu dan mainkanlah.

Lalu apakah bisa aku meminjam rasa dari mahluk lainnya?

Ia bercengkrama aku yang melukisnya?

Pahamilah simbol, lambang, dan tanda tanda. Bukankah para pujangga terdahulu sempat melukiskan rasa duka di sekitarnya?

Ya paling tidak kita menyelami rasa itu dan tenggelam, merasakan lara tanpa udara

Pernahkah kau tuliskan surat imajiner pada sang proklamator?

Atau menuang curahan yang tertahan pada Tuhan?

Belum, aku sibuk berdialog dengan otak, hingga lupa banyak guru guru di masalalu.

Seperti mengembalikan rasa rasa yang telah hambar. Mencuri kacamata mereka dan menatap ke sekitar.

Ya dalami karakternya, lalu masuk dalam karakter itu, atau karakter itu kau masukkan dalam dirimu dan biarkan ia merangkai kata.

Dan begitulah otakku terbantu oleh otak lain.

 

Rifky Prasetya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: