Wajah Kasih


Pekan ini saya mengikuti retreat, 3 hari 2 malam di Ungaran. Tujuannya adalah untuk berdamai kembali dengan Tuhan, untuk mencari saya yang hilang. Dalam retreat ini, saya membaca dan merenung, mencoba menemukan apa yang salah. Jawabannya saya temukan tadi malam di kapel, lalu diperkuat lagi, tadi pagi dalam misa. Berkaca pada kisah hidup Salomo, ia meminta hikmat pengetahuan pada Allah. Saya meminta hal yang sama, karena bagi saya yang terpenting adalah otak, pengetahuan. Saya selalu mengadili, menghakimi segala sesuatu apakah itu baik atau jahat, hitam atau putih harus jelas. Maka, yang selalu saya minta adalah hikmat pengetahuan, pun dengan hikmat ini saya berusaha menemukan siapa diri saya, mencari Tuhan.
Saya lupa, di atas hikmat, terlebih dulu ada kasih. Kasih yang memungkinkan manusia bersikap rendah hati di hadapan Allah dan sesama, kasih membuat adanya damai sejahtera. Kasih memungkinkan manusia untuk memiliki hati yang paham, hati yang mendengarkan apa kata Tuhan. Kasih, itu adalah sesuatu yang tidak penting bagi saya, nomor entah kesekian dalam hidup. tanpa kasih, saya tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan, tidak mampu bersyukur, dan akhirnya saya kehilangan damai sejahtera. Saya tidak sanggup mengasihi diri sendiri, terus menerus merasa berkekurangan. Saya juga tidak bisa membahagiakan orang-orang yang saya cintai, karena jelas saya tidak memiliki cinta kasih untuk dibagikan.
Di atas semua hal yang saya hilangkan, saya melihat pagi ini, apa jadinya hal yang saya banggakan, kepintaran! Misa pagi ini bersama dengan para romo sepuh dan suster-suster, suatu kebanggaan rasanya menjadi umat dalam satu misa yang diikuti oleh para Romo, biasanya kan mereka menjadi imam memimpin misa di depan! Namun ketika saya perhatikan lagi, banyak dari Romo sepuh ini ternyata tidak “sekeren” yang saya lihat. Ada yang tertidur, ada yang mengorok, ada yang menanggapi bacaan di saat yang salah, sungguh tidak terbayangkan sebelumnya. Beberapa tahun lalu mungkin mereka masih memimpin misa dengan penuh wibawa, menanggapi masalah-masalah hidup umat dengan bijaksana. Saya tertegun, ternyata inilah akhir dari kebijaksaan, akhir kepintaran.
Padahal saya tidak ragu sedikitpun, dulu mereka memiliki kepintaran yang berkali-kali lipat di atas saya, kebijaksanaan yang juga jauh melebihi saya. Ketika bahkan seorang imam yang beroleh kuasa dari Tuhan tidak ditugasi untuk menghakimi umatnya, namun untuk terus mengasihi dan memberi pengampunan, siapakah saya yang hanya seorang berdosa berani menghakimi sesama, menghakimi diri sendiri?
Pelajaran ini membuat saya melihat, ternyata kasih lebih kekal dibanding pengetahuan. Kalau bagi Salomo yang diminta adalah hikmat untuk paham, hati yang mendengar apa yang diinginkan Allah atas umatnya, hikmat apa yang saya minta? Hikmat yang sombong, hikmat yang digunakan untuk menghakimi, hikmat yang meninggikan hati! Sebaliknya, Tuhan yang ditampilkan dalam kepercayaan saya adalah Tuhan yang penuh kasih, Tuhan yang tidak memperhitungkan dosa. Kemarin saya mengikuti retreat untuk mencari tujuan hidup, mencari kedewasaan. Hari ini, saya belajar bahwa menjadi dewasa adalah menjadi pribadi yang penuh kasih, damai dengan diri sendiri, dan mampu membagikan wajah kasih Allah kepada dunia.

Pengelana

One response

  1. Tumben…religius..hi..hi..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: