Aku hanya ingin punya Keluarga dan Bahagia #14 Life Career Employee Faith –


Monday, April 11, 2016
5 tahun sudah aku bertahan di perusahaan multinasional dengan segala macam manfaat, kebaikan dan fasilitas mewah yang kuterima. 4 tahun yang lalu aku sudah ingin berhenti, dan bertanya kemana arah hidupku. Apa yang kuinginkan. Aku akan mengejarnya. Namun yang terjadi aku masih tetap bertahan 1 tahun kemudian. Tahun lalu aku merubah pikiranku tentang hidup seorang diri. Aku ingin menikah dan mempunyai keluarga. Tak disengaja teman kuliah lamaku menghubungiku, setelah lama ketemu dan ngobrol setelah beberapa tahun tidak pernah aku ladeni, akhirnya dia jadi pacarku. Sudah hampir 6 tahun aku tidak menjalani hubungan serius dengan seorang pria. Kali ini aku ingin serius, karena aku ingin punya sebuah “rumah”, ingin menjalani hidup sebagai Ibu bekerja yang punya masa depan dengan suami, dan anak-anakku sendiri. Hidup sebagai orang pada umumnya. Ditambah lagi aku diberi kenyamanan sebagai seorang calon Ibu dengan bekerja di perusahaanku sekarang. Kalau ada apa-apa dengan masalah kesehatanku, atau kalau nanti aku hamil dan akan melahirkan, suamiku tidak perlu keluar uang, semua ditanggung oleh perusahaan. Aku akan sangat dimanja menjadi seorang Ibu bagi suamiku, dan tetap bekerja di perusahan yang sangat menghormati Ibu hamil, ibu punya anak dengan segala macam fasilitas yang mendukungnya. Aku bisa menjaga baik-baik keluargaku dengan penghasilanku di kantor dan tetap menjadi istri yang baik bagi suamiku.
Akhirnya semua harapan itu belum terwujud. Aku putus dari pacarku, namun aku tidak patah semangat, karena tujuanku adalah kehidupan nyaman di kantor, menikah, punya suami yang menyayangiku, punya keluarga. Suami yang akan menghormatiku dengan pekerjaanku. Suami yang akan bangga dengan diriku. Rasanya itu adalah kebahagiaan yang aku inginkan. Maka dari itu aku mencoba lagi dengan mulai membuka diri di segala touchpoint yang ada. Mulai dari minta dikenalkan teman, saudara, atau siapa saja. Buat profile akun di online, lihat cowo kemana kemari, dan lain sebagainya. Buka jalur sebanyak-banyaknya. Sampai tiba di akhir tahun 2014 aku dapat keajaiban. Aku menyukai seseorang yang aku rasa cocok jadi pasangan hidupku. Aku teruskan hubungan kami sampai tiba aku mendapat kejutan. Dia seorang suami dan bapak dari 1 orang anak perempuan. Dia telah punya keluarga. Luar biasa!
Patah hati? Yes, aku patah hati. Akhirnya aku lelah, dan mulai kabur. Aku mulai berpikir mungkin mempunyai suami dan keluarga belum saatnya bagi tujuan hidupku. Terlalu mudah, atau bahkan terlalu sulit buatku menemukan kebahagiaan seperti yang orang lain rasakan. Akan tetapi dari pacarku yang salah ini aku belajar mengetahui orang seperti apa yang aku inginkan untuk jadi pasangan hidupku kelak. Dia mendekati kesempurnaan seorang teman yang aku butuhkan untuk jadi suamiku. Seperti dia lah patokannya. Tapi harus jauh lebih baik, dan sekarang lebih hati-hati memilih. Harus yang masih single.
Ketika aku sudah tahu patokannya, aku mulai berpikir mungkin ini saat yang tepat aku move on. Aku tidak ingin bekerja disini terus, dan berusaha menemukan pangeranku sampai suatu saat mungkin aku sudah lumutan, jamuran, dan saat itu tidak pernah datang. Aku tidak melakukan sesuatu yang aku inginkan.
Saatnya aku mengganti arah hidupku. Aku akan tetap mencari pasangan hidup, tapi aku ingin belajar hal lain. Belajar sesuatu yang sangat aku inginkan diluar sana. Aku akan bertahan hidup.
Aku takut. Jelas aku takut. Keluar dari kenyamananku saat ini. Aku juga merasa kalah dan merasa gagal, karena aku menyerah sebelum waktunya. Aku juga mengecewakan pacarku yang salah ini, karena aku melihat dia menyukaiku karena dalam pekerjaan yang kujalani ini aku terlihat berani, mandiri, tidak mudah menyerah. Namun ternyata aku mengecewakannya dengan bilang aku sudah finish di kantorku sekarang karena begini dan begitu. Aku malah merasa bersalah karena aku menceritakan semua yang aku rasakan, semua yang terjadi. Aku merasa gagal. Dia pasti kecewa dan menganggap aku wanita biasa pada akhirnya. Aku tidak spesial lagi. Tidak akan menjadi masalah kalau aku tidak menyukainya. Aku tahu benar kalau aku sangat menyayangkannya dan membutuhkannya. Tapi secara logika aku belum bisa memilikinya. Dia bukan milikku. Aku kecewa padanya, tapi lebih takut kalau aku bukanlah wanita yang sebenarnya diinginkan pria. Aku hanya berharap tidak bertemu dulu dengan siapapun dikala aku sedang jatuh begini. Aku khawatir kekasihku akan menganggapku sampah dan bukan siapa-siapa. Aku takut. Maka dari itu aku ingin bangun diriku, bangun kejayaanku, bangun semuanya…aku ingin menjadi kebanggaan bagi calon pasangan hidupku nanti.
Kalau aku sudah tidak bisa memberi yang terbaik dengan jadi karyawan perusahaan multinasional yang bonafit ini, tidak menyusahkannya dengan membiayai kelahiran anak kami nanti, pasti ada cara dimana calon pasanganku nanti bisa bangga menikah denganku. Mencintaiku apa adanya, bukan karena statusku, bukan karena pencapaian apa yang telah kumiliki, tapi karena aku. Aku lah yang dia cintai. Kalau bukan sekarang, mungkin besok, mungkin nanti. Ya sudah percaya saja selalu ada jalan. Aku jalani hidupku yang masih muda ini untuk mencari sesuatu yang bisa membuatku ceria lagi. Aku gantung dulu cintaku. Tuhan, aku berharap menemukannya.

 

SJU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: