Mulai Lagi dari Nol ? #13 Life Career Employee Faith


Monday, April 11, 2016
Aku bangun dari tidur. Tadi malam aku tidur pukul 10.30. Lebih pagi dari kebiasaan tidur setiap malamnya. Beberapa hari ini aku tidur diatas jam 12 pagi. Setiap hari aku mengalami kelelahan. Entah apa yang kulakukan seharian, baik itu bekerja ringan, maupun berat, lelahnya sama saja. Tadi malam tanpa ngapa-ngapain lagi, aku langsung tertidur lelap. Tersadar sudah pagi, kulihat jendela langit berwarna biru kelabu. Masih terlalu pagi. Matahari belum menyilaukan. Kutengok hp, baru jam 6 lewat. Alarm 6.30 yang sudah kupasang sebelumnya belum berbunyi. Mataku berkeliling melihat seluruh ruangan kamar. Tembok kamar kos ini berwarna krem, teralis jendela berwarna putih. Di depan ranjang terdapat TV. Ada meja belajar di samping kiriku dengan kursi warna putih. Sejuk rasanya beradanya disini. Kamar kos ini hampir mirip kamar hotel budget – nyaman, dan minimalis. Aku tidak ingin segera bangun dari ranjang. Aku masih ingin berbaring, memeluk bantal, memegang lembutnya selimut sutraku. O indah sekali pagi ini. Kamar yang kusewa seharga 3jt perbulan ini, layak rasanya untuk ditempati.
Aku tidur lagi. Baru bangun jam 7.45. Mandi, siap-siap menuju ke kantor. Baju kantor di lemari ada 9. Jadi kalau dihitung-hitung senin – jumat setiap minggunya kemungkinan untuk memakai baju sama 1 banding 1. Belum sempat beli baju baru. Alasan klise.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, seharusnya sudah berangkat ke kantor. Akan tetapi aku memilih sarapan dulu di kamar sampai waktu menunjukkan pukul 8.45, segera sesudah sarapan aku siap-siap keluar kamar dan segera ngacir ke parkiran mobil. Suasana hati biasa saja. Aku minta diberi semangat melalui doa. Hari ini harus bekerja dengan baik dan mendapat pelajaran baru. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.
Sesampainya di kantor setelah menaiki lift menuju lantai dimana biasa aku bekerja, perasaan mulai gundah gulana lagi. Yeah, tidak se-stres hari-hari biasanya. Ini hanya perasaan meyayangkan. Bertanya-tanya dan kembali mengkaji ulang.
Beberapa hari lalu aku mengajukan surat resignku di kantor. AKHIRNYA ya?
Surat resign yang pernah kubuat beberapa tahun lalu, baru berani kuajukan di bulan ini, saat aku mulai kos dengan harga segitu.
Benarkah keputusanku? Apa yang akan aku lakukan setelah keluar dari kantor ini nanti? Apakah keluar dan menjadi pengangguran nanti adalah pilihan yang bijak? Aku belum melamar pekerjaan ke perusahaan manapun.
Apakah ini keputusan gegabah? Nekad? Ceroboh? Apalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Belum punya rencana, IYA. Belum punya perhitungan sendiri, hmm Gak juga. Aku hanya merasa ini waktu yang tepat. Instingku mengatakan inilah saatnya.
Aku sedang berpikir saat kakiku dengan sepatu highheels berjalan diatas lantai marmer yang mengkilap mengenai: lift yang kugunakan setiap harinya; satpam yang selalu menyapa setiap pagi; satpam yang selalu membantu; satpam yang selalu menahan lift kalau aku mau turun; Office boy/girl yang membantu membawakan makanan atau minuman saat meeting, memberi air putih di meja setiap pagi, mencucikan kotak makanku kalau aku tidak keburu cuci sendiri.
Meja kayu yang di pernis rapi, tempat duduk ergonomis yang aku tempati sebagai meja kerjaku. Buku-buku, ATK, telpon yang kapan saja bisa dipakai, printer, dan barang-barang lainnya diatas meja.
Fasilitas lainnya adalah kalau aku sudah menikah dan hamil. Saat nanti melahirkan aku dapat cuti hamil 4 -6 bulan. Asuransi kesehatan diri sendiri sampai untuk suami dan ke -3 anak-anakku semua ditanggung perusahaan. Ada gaji yang masuk setiap tanggal 25 di akhir bulan. Gedung mewah di tengah kota Jakarta Selatan. Ditambah dengan level jabatanku di perusahaan multinasional ini memungkinkanku mendapatkan banyak pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri, fasilitas-fasilitas eksklusif lainnya, bertemu dengan banyak orang menggunakan nama perusahaan bonafit ini. Hm sangat bergengsi ya?
Lalu setelah 5 tahun bertahan disini, aku akan melepaskannya begitu saja. Apakah layak? Benarkah keputusanku? Apa yang harus kulakukan setelah ini? Ini adalah pertanyaan yang terus mengiang di kepalaku. Setelah ini aku tidak punya apa-apa lagi. Aku mulai dari NOL.
Tadi malam aku bermimpi ada seorang penyihir yang menyihir semua orang dewasa menjadi bayi lagi di suatu desa. Aku melihat diriku diubah menjadi bayi oleh si penyihir. Aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa aku harus menjadi bayi lagi? Kembalikan diriku yang sekarang! Aku meronta-ronta, tapi si penyihir pergi kembali ke kerajaannya membawa diriku yang bayi itu. Seorang pengembara mengatakan padaku, kalau aku ingin mengembalikan diriku ke posisi sekarang, aku harus berjuang pergi ke kerajaan si penyihir dan menghancurkannya. Aku yang dewasa pergi berpetualang untuk mencari si penyihir. Aku berharap menemukannnya dan mengembalikan diriku ke dewasa lagi. Walau itu adalah perjuangan, aku harus mendapatkannya.

 

SJU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: