Hidup Hari Ini


Hari ini apa yang sudah saya lakukan? Bangun pagi, melihat Pasir (bukan nama sebenarnya) masih tidur, lalu tidur lagi. Kenapa? Karena saya tidak ingin dia terbangun karena saya bangun pagi. Guling-guling kiri kanan, mulai bosan, melihat apakah Pasir  sudah bangun….belum, lalu memutuskan untuk tidur lagi. Kenapa? Karena Pasir tampak lelah, saya tidak ingin dia terbangun karena saya membuat gerakan-gerakan di ranjang. Akhirnya Pasir bangun, jam 8 lebih, mukanya letih, saya pijat dia sedikit, berharap bisa mengurangi letihnya. Lalu dia bangun, pindah ke kamar sebelah, ngobrol ceria lewat jempolnya dengan Batu. Tidak lama, Pasir bertanya, sarapan apa? Ya, sarapan, makan siang, dan makan malam, adalah tugas saya….pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus saya jawab, dan saya selalu melakukannya untuk menyenangkan Pasir.

Pagi itu, jempol saya sibuk memencet-mencet gojek, mencari makanan yang dapat diantarkan ke unit apartemen. Pasir bukan jenis yang mudah dipuaskan, saya harus berusaha ekstra bahkan hanya untuk masalah sarapan pagi, toh saya rela. Beberapa waktu kemudian, saya pun memesan baso lewat gojek, menanyakan alamat apartemen kepada Pasir, hanya untuk menerima kenyataan bahwa sang tukang baso belum berjualan sepagi itu. ok, tidak masalah, bisa dicoba lagi dengan yang lain. Akhirnya saya memesan siomay, karena katanya Pasir ingin makan siomay, ok….tidak masalah. Saya menanyakan kembali alamat apartemen kepada Pasir, kembali dijawabnya lagi, kali ini dengan agak kesal karena saya bertanya 2 kali untuk hal yang sebenarnya sudah saya ketahui.

Ehm, dibentak pagi-pagi? Tidak masalah, toh memang salah saya, kenapa pula harus bertanya berkali-kali untuk hal yang saya sudah tahu. Hanya saja, saat itu saya agak kesal, karena sebenarnya ketika itu pikiran saya memang tidak sedang terfokus disana, itulah sebabnya saya bertanya 2 kali. Namun tidak apa-apa, hanya persoalan kecil. Yang menarik, justru dengan kemarahan Pasir, entah kenapa saya merasa dia sedang tidak beres, karena saya tahu tidak semudah itu dia marah biasanya. Saya mulai was-was, ada apa dengannya?

Sambil menunggu siomay datang, kami menonton eyes wide shut, film yang belum selesai ditonton dari kemarin. Saya menjelaskan beberapa bagian film pada Pasir, berpura-pura belum pernah menonton film itu, hanya karena saya ingin dia menyelesaikan menonton film tersebut. Tidak lama setelah selesai menonton, siomay pun datang. Pasir mengatakan tidak napsu makan, lalu mulai menyapu dan mengepel. Sebenarnya saya kelaparan, tapi saya memilih memakan siomay tersebut bersama Pasir. Akhirnya kami pun memakan siomay tersebut, sambil berbicara di meja makan. Pasir tampak tidak focus, entah kenapa saya merasa ada yang tidak beres dengannya saat itu, saya melihat matanya, seperti tidak ada perasaan di pancaran matanya. Saya tidak ingat pembicaraan apa yang kami lakukan, tapi sepanjang pembicaraan tersebut perasaan saya tidak enak, saya merasa Pasir lupa, dia tidak tahu siapa saya, dia hanya melakukan semuanya dengan insting, tanpa perasaan. Kalau mau dikatakan, itu bukan salah satu saat-saat cerianya, moodnya tidak terlalu baik.

Dan entah kenapa, saat itu juga, apa yang saya lihat dan saya rasakan, merasuki saya. Perasaan Pasir yang tampak hampa, juga membuat perasaan saya hampa. Yang saya pikirkan saat itu, betapa sulitnya untuk berada bersama Pasir, betapa sulitnya untuk membuat dia ingat kenangan-kenangan dalam hubungan kami. Aktivitas berlanjut seperti biasa, perasaan saya tidak enak, entah perasaan Pasir. Saya ingin memeluknya, memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ketika dia mengepel, saya ikut berjongkok, melihat dalam-dalam kedua bola matanya, dan saya menemukan kekosongan disana. Saya ingin sekali memeluknya, tapi saya tidak berani, dan saya kecewa, saya tidak melihat perasaan apapun di dalam matanya.

Tidak lama, Pasir pun buru-buru mandi, karena dia ingin bertemu Batu hari ini. Saya mengurung diri di kamar, bingung dengan perasaan saya yang kacau balau, rasanya hampir gila, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Di dalam kamar, saya mendengar Pasir bernyanyi kencang-kencang, entah mengapa saya malah merasa lebih ketakutan saat itu, seperti terjadi perubahaan mood yang besar dalam sekejap dalam dirinya. 5 menit, saya dengar dia muntah di kamar mandi. Saya benar-benar tidak habis pikir, apakah saya yang menerjemahkan terlalu dalam, ataukah Pasir memang sebegitu cepat berubah.

Ini bukan pertama kalinya, saya terjebak dalam situasi demikian. Ketika saya khawatir setengah mati akan kondisinya yang (menurut saya memprihatinkan), ternyata sejurus kemudian dia  baik-baik saja. Perubahan kondisi Pasir dari buruk menjadi baik, tidak secepat perubahan kekhawatiran saya dari cemas menjadi lega, akibatnya rasa lelah dan bingung luar biasa sering menyerang saya. Sering saya katakana pada diri saya sendiri, jangan cemaskan dia, jangan khawatirkan dia, PASIR BAIK-BAIK SAJA. Tapi entah kenapa, setiap melihatnya bermasalah, otomatis perasaan khawatir itu muncul begitu saja.

Siangnya Pasir bertemu Batu, saya kembali ke kosan. Otak saya seperti mau pecah, saya menyimpan kemarahan yang meledak-ledak, tapi tidak saya lampiaskan….saya hanya tidur. Handphone saya matikan, tidak ingin ada gangguan dari dunia luar sama sekali, dan terutama tidak ingin memikirkan bahwa Pasir tidak menelepon saya, tidak mencari saya lewat telepon genggamnya. Dulu ada saatnya hubungan kami tidak pernah terputus, dimana saya begitu penting baginya, tapi sekarang sudah saatnya untuk menerima bahwa dia sudah lupa. Akan selalu ada begitu banyak orang lain yang lebih penting, masa-masa yang lalu sudah lewat, yang baru akan datang. Mungkin Pasir bisa melupakan dengan mudah, mungkin saya tidak….tapi pasir yang sudah ditiup angin tidak mungkin dapat diraih lagi. Bila tiba saatnya melupakan, sesakit apapun…sudah saatnya saya berhenti berjuang untuk peduli, sekarang saatnya saya berjuang untuk melupakan, dan melangkah lagi ke depan.

 

 

Jakarta, 7 Maret 2016

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: