Membunuh untuk Hati


Ya, aku mengakuinya, aku jatuh cinta 5 tahun lalu, dan aku pun menjadi buta selama 5 tahun. Aku bermain dengan perasaanku, terluka, disembuhkan, terluka lagi…disembuhkan lagi. Terus menerus begitu, sampai akhirnya hatiku penuh carut marut, membekas dan mengeras. Apa yang harus aku lakukan dengan hati yang sudah sekarat ini? Mempertahankannya? Berusaha menyembuhkannya kembali? Rasanya di titik ini aku tidak mampu, aku memilih untuk membunuhnya saja!

Sayang? Iya pasti, bagaimanapun juga ini hatiku. Tapi rasanya dia sudah begitu memberatkan hidupku selama 5 tahun ini. Aku mengakuinya, hari-hariku diwarnai warna-warna cerah selama aku membiarkan hatiku jatuh cinta, tapi ada juga warna-warna kelabu bermain disana. Tangisan-tangisan dalam diam yang tidak pernah dimengerti orang lain, tidak juga dia yang kukasihi dengan hatiku. Di saat lain, aku bahkan menertawakan hatiku, dia yang sudah merepotkan aku, menjerumuskan aku dalam penderitaan. Oh cukup sudah, aku tak butuh lagi tangisan, sedu sedan, juga tawa dan cemoohan untuk mengasihani diri sendiri….aku memilih untuk membunuhmu, hati.

Lalu, tanpa hati, apakah aku akan menjadi pribadi yang berbeda? Nah, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mau hidup sehidup-hidupnya, tidak ada lagi yang mau aku khawatirkan. Ketika aku ingin berteriak, aku akan berteriak sekencang-kencangnya, biar saja dunia tahu. Ketika aku akan menangis, aku akan menangis sekeras-kerasnya, toh air mata bukan sesuatu yang memalukan. Kupikir-pikir, kalau dulu, aku akan ketakutan setengah mati berkata seperti ini, ketakutan meninggalkan dia yang kusayangi, takut dia lupa lalu berpaling dan pergi untuk selamanya. Tapi sekarang tanpa hati, aku sudah dapat berpikir. Apa pula yang bisa kulakukan bila dia memang akan lupa? Kepergiannya adalah hal yang akan terjadi cepat atau lambat….itu bukan sesuatu yang butuh kurisaukan dengan hati. Sudah, cukup tentang dia!

Masalahnya sekarang, aku takut aku akan hilang, hanyut terbawa permainanku sendiri. Aku takut suatu saat nanti, aku tidak tahu lagi siapa aku, tidak tanpa kau yang memberitahuku, hati. Tapi aku tidak tahu cara lain lagi, selain membunuhmu hati, maafkan aku. Maka aku menulis ini untukmu Sahabatku, tolong ingatkan aku bila suatu saat nanti aku hanya bisa bersimpuh dengan mulut menganga, tercenung memikirkan siapa diriku. Ingatkan aku tentang aku yang pintar, cantik, dan baik. Bila suatu saat nanti topeng kepura-puraan itu tidak bisa aku lepas, bila aku kelelahan memasang riasan tebal untuk menutupi kesedihan di mukaku, bila tawaku menggema ceria namun tanpa rasa, tolong…tolong Sahabatku…ingatkan aku siapa diriku!

Saat ini, aku ketakutan seperti seorang pembunuh ketakutan sebelum membunuh korbannya, menggigil dibawah tatapan tajam orang yang akan dicabut nyawanya. Oh hati, tolong, jangan lihat aku dengan tatapan memelas seperti ini, aku sudah memutuskannya, aku harus membunuhmu. Suatu hari nanti, mungkin ada keajaiban akan datang, mungkin aku bisa membangkitkanmu kembali, bila semua sudah siap. Berdoalah saja, andai Tuhan itu ada….mungkin, mungkin, Dia akan sudi mengabulkan doamu, hati!

 

Jakarta, 7 Maret 2016

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: