Hati-hati Otak


Apa yang harus dikatakan ketika rasanya bahasa tidak dapat menggambarkan apapun? Apakah ini otak yang tak mampu berucap, atau kata-kata yang tidak cukup kuat untuk melafalkan bahasa otak?

Apa yang harus dilakukan ketika yang terasa hanya perih, meskipun kita sendiri tahu cara mengobati perih itu, namun tidak mau mengobatinya? Jujur, rasanya nikmat menyiksa diri sendiri, meskipun di lain pihak siksaan itu membuat diri ini hanya menjerit pilu.

Apa yang saya mau? Apa yang saya rasakan? Ketika di luar hujan deras dan saya ingin mengguyur badan ini hingga basah kuyup, berlari di jalan hingga saya lelah, mengapa saya tidak keluar? Alih-alih saya hanya melanjutkan pertapaan nestapa, berlindung di balik selimut. Mengapa rasanya apapun yang saya pikirkan, saya inginkan, tidak ada yang sama dengan apa yang saya rasakan? Tubuh ini serasa dicabik-cabik setiap saat, terbelah oleh dua keadaan yang tidak pernah saya mengerti, keadaan yang diciptakan pikiran, dan keadaan yang diciptakan oleh perasaan. Kenapa mereka tidak mau berdamai? Ataukah saya yang terus mengadu domba mereka, sehingga terjadi peperangan yang tak kunjung usai? Dan tanyalah lagi, siapa yang menderita?

Saya tahu ini persoalan yang mudah, demikian kata otak…tapi tidak pernah saya mengerti mengapa menjadi begitu susah bagi hati. Katanya, otak tidak pernah bisa menalar hati. Tapi hati juga tidak pernah mengerti otak. Taukah hati, berapa banyak pekerjaan yang harus otak selesaikan? Bagaimana otak harus selalu membantuku untuk menjadi manusia yang sempurna di hadapan semua orang, bukan orang yang lemah yang hanya menangis dan bergulung di balik selimut.

Otak….otak, mengapa kau terus menerus menyalahkan orang lain, ketika kau tahu ini semua adalah perbuatan hati? Bukan salah Pasir (bukan nama sebenarnya), bukan salah teman-teman, bukan salah Tuhan….ini hanya salah hati, hati yang tidak mau patuh terhadapmu. Tapi hati juga punya hak untuk bersuara, sesumbang apapun suaranya di hadapan otak. Mengapa kalian tidak berdamai saja? Otak berhenti bertanya dan menghakimi hati, hati berhenti menyusahkan otak dengan berbagai perasaan yang tidak masuk akal, bukankah lalu hidup tidak butuh begitu menderita? Berhenti berpura-pura, berhenti menyayangi dan peduli pada orang yang tidak pantas menerimanya, jalani hidup, untuk diri sendiri!

 

Jakarta, 6 Maret 2016

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: