Lelah #9 Life Career Employee Faith


Aku lelah. Setiap orang yang melihatku sekarang bisa melihat dengan jelas kalau cahaya di wajahku berhenti bersinar. Aku bisa tersenyum, berbicara layaknya tidak terjadi apa-apa – normal, namun jiwaku merana kesakitan. Orang-orang mendiagnosis penyakitku adalah cape hati. Secara fisik masih sehat-sehat saja, tapi wajah yang muram ini asalnya jelas dari dalam hati.
Saking lelahnya, aku lupa beberapa nama orang terdekat disini. Aku sulit mengingat-ingat siapa nama mereka. Ada beberapa, jelas-jelas baru kenalan dan jelas-jelas sering berhubungan, aku tidak dapat menyebut nama mereka.
Aku melihat wajah mereka, hati mereka, mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara padaku, namun aku tidak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan. Pikiranku memprogram untuk setiap perkataan ini, adalah jawaban ini. Karena semua hanya di permukaan, memoriku tidak cukup kuat mengingat setiap perkataan mereka. Jangankan perkataan yang baik, perkataan yang menyakitipun tidak mudah kuingat. Hari ini dengar, besok paginya aku sudah tidak ingat kejadian hari ini. Bukan terhapus dari memori begitu saja, tapi kalau ada yang bertanya bagaimana kejadian kemarin, jiwaku tertekan, aku tak mampu mengatakannya.
Jiwaku lesu. Hati yang gembira terbang dariku. Aku tertawa, tapi hatiku tidak merasakan kegembiraan itu. Aku menangis, tapi hatiku tidak benar-benar sedih. Wajah dan prilakuku tidak terkoneksi dengan hati. Aku layaknya robot.
Aku tidak lagi bisa toleran. Ada yang tertawa di sebelah sana, ada sesuatu menggangguku. Ada yang tersenyum padaku, aku tahu senyumannya tidak tulus, dan aku masih harus menghadapi orang itu lagi dan lagi. Aku bertahan. Setidaknya aku mencoba untuk bertahan. Tidak boleh menyerah, kata-kata itu terus menerus mengiang di telinga. Apakah aku bekerja karena aku perlu membuktikan diri kalau aku bisa, sehingga aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri? Apakah aku harus terus bertahan demi tujuan yang aku set untuk orang lain lihat ini tujuanku, padahal bukan ini yang aku inginkan?
Aku makan dan tidak ingat apakah sudah kukunyah. Aku menelpon dan berbicara, tapi aku lupa apa yang sudah aku bicarakan. Aku melihat orang, tapi tak mengenalnya. Aku terdiam dan lebih nyaman terdiam. Aku mencoba untuk gembira. Berusaha memberi kebahagiaan pada diri sendiri, namun mengapa jiwa ini menahan perasaan gembiraku.
Apakah semua karena faktor eksternal yang mempengaruhi diriku begini, atau faktor internalku yang justru membuat aku begini?
Ketika dulu teman cerita begini sama aku, aku akan menyarankannya untuk memperbaiki faktor internalnya dulu. Sekarang, internalku sedang berjuang. Terus melangkah atau harus menyerah. Apapun pilihanku, bukan berarti aku kalah. Benarkah?

 

Rabu, 2 Maret 2016

 

~SJU~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: