Teman kerja ? #8 Life Career Employee Faith


Saya sudah melangkah di tempat yang baru. Pekerjaan yang baru. Apa yang saya takutkan tidak sebegitu menakutkan ketika semua itu sudah dijalani. Masalahnya, saya jadi sibuk sekali. Baru beberapa hari mengerjakan pekerjaan baru, jerawat-jerawat sudah bermunculan di wajah. Tidur sekitar pukul 12 sampai 1 pagi. Hampir beberapa hari kerja lembur. Olahraga yang biasanya seminggu 3-4x, kali ini hanya 2x. Untungnya minggu ini saya masih sempat berenang dan ikut kelas yoga.

Saya tidak khawatir dengan pekerjaannya, saya mulai menikmati bahkan suka. Kesibukan ini juga membuat saya melupakan hal-hal lain dalam kehidupan saya yang lain. Hal yang buat saya stres adalah menahan diri dari kekesalan dalam bekerjasama dengan orang lain. Tidak sesuai dengan ekspektasi. Segala sesuatu tidak pada tempatnya, alias berantakan. Saya menekan perasaan selama beberapa hari atas semua yang terjadi. Mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Ada orang yang tadinya baik, berada di perahu yang sama, ternyata tidak sebaik yang kukira. Seseorang yang dinyatakan “warning”, maksudnya hati-hati menghadapi orang ini, karena dia sangat pintar berlaku manis di depan, tapi di belakang bisa menusukmu, adalah orang yang membantu. Saya coba baca-baca setiap gerakan dan pikiran orang lain dalam tindakan. Ini membantu saya mengerti harus bagaimana. Anggap saja orang yang di perahu sama itu bernama YH. Dia melempar begitu saja pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan. Alih-alih membantu, dia cenderung melempar. Cerita lain adakah tindakan-tindakan tertentu yang membuat saya harus membuat keputusan karena didesak. Kalau saya tidak memutuskan semua kerjaan terabaikan, kalau diputuskan saya yang harus bertanggung jawab penuh. Tidak ada waktu. Wajah manisnya menunjukkan keramahan, namun dibaliknya dia menyatakan perang – persaingan. Saat meeting saya berusaha mengeluarkan pendapat. Dia pun tak mau kalah. 1 kalimat dari saya, 1 kalimat dari dia. Ini jadi terlihat seru, lucu, dan menarik.

Saya bertanya, namun tak menemukan jawaban apapun darinya. Dia sangat ramah menjawab semua pertanyaan saya, namun tak benar-benar memberi jawaban atas pertanyaan saya. Ok, saya masih bisa bersabar dan tenang. Tidak terlalu memperdulikan asal semua kerjaan bisa diselesaikan sesuai waktunya.
Beberapa hari lamanya, saya melihat dia ingin dekat dengan saya. Cerita dan mengeluarkan uneg-unegnya. Saya bukan orang yang bisa mengingat kesalahan orang terus menerus. Saya senang mendengar ceritanya. Dia sudah cukup dekat dan jadi lebih bersahabat. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama, karena saya belajar bahwa ketika seseorang ada maunya dia akan bersikap ramah dan bersahabat. Itu sudah peraturannya disini. Saya tahu, namun saya tidak bisa tidak bersikap baik padanya. Saya memberikan informasi yang dibutuhkannya. Semuanya.
Hari berikutnya, saat saya membutuhkannya dan bertanya, dia mulai ramah dan memberikan informasi untuk membantu. Saya pikir, wah sudah ada kemajuan nih. Ketika kita bersikap manis, orang akan bersikap manis juga sama kita.
Hari berikutnya lagi, semua kembali normal. Ada beberapa hal dimana saya tidak tahu apa-apa dan saya terjebak dalam permainan itu lagi. Saya kurang cerdas, atau saya hanya tetap menjadi saya?

January 2016
~SJU~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: