Monthly Archives: March, 2016

Membunuh untuk Hati


Ya, aku mengakuinya, aku jatuh cinta 5 tahun lalu, dan aku pun menjadi buta selama 5 tahun. Aku bermain dengan perasaanku, terluka, disembuhkan, terluka lagi…disembuhkan lagi. Terus menerus begitu, sampai akhirnya hatiku penuh carut marut, membekas dan mengeras. Apa yang harus aku lakukan dengan hati yang sudah sekarat ini? Mempertahankannya? Berusaha menyembuhkannya kembali? Rasanya di titik ini aku tidak mampu, aku memilih untuk membunuhnya saja! Continue reading →

Advertisements

Hati-hati Otak


Apa yang harus dikatakan ketika rasanya bahasa tidak dapat menggambarkan apapun? Apakah ini otak yang tak mampu berucap, atau kata-kata yang tidak cukup kuat untuk melafalkan bahasa otak?

Apa yang harus dilakukan ketika yang terasa hanya perih, meskipun kita sendiri tahu cara mengobati perih itu, namun tidak mau mengobatinya? Jujur, rasanya nikmat menyiksa diri sendiri, meskipun di lain pihak siksaan itu membuat diri ini hanya menjerit pilu. Continue reading →

8 Tips: Bagaimana Role Play yang efektif untuk Interviews & Assessments


Jan 19, 2016

Belajar Bagaimana Role Play yang Efektif

Metode Role Play biasanya digunakan sebagai bagian dari proses perekrutan, Assesmen Center dan program pengembangan kepemimpinan, biasanya berpusat di sekitar studi kasus rekaan yang relevan. Tujuan menggunakan role play umumnya untuk melihat bagaimana Anda mengelola orang, berperilaku dan seberapa efektif Anda berkomunikasi dan terlibat dengan orang lain – boleh jadi mereka manajer lini, rekan Sejawat, penerima langsung laporan, pelanggan potensial …dll Continue reading →

Adrenalin #11 Life Career Employee Faith


Monday, 14 March 2016

Pagi ini aku menggunakan rok mini terusan yang jarang kupakai. Aku harus cukup yakin kalau badanku belum melar dan masih bisa mengenakannya. Tak hanya yakin dengan badan sendiri, tapi juga tahu ada momen apa yang segitu pentingnya sampai harus mengenakannya. Aku berjalan dengan santai dan tanpa beban menuju kantor. Percaya diri.

Aku menghadiri meeting pagi. Pikiranku terus berkecamuk tentang wawancara siang nanti di perusahaan multinasional asal Eropa. Apa alasan yang harus kusampaikan ke bos untuk ijin dari jam 11.30 – 3 sore.. Aku sakit perut, rasanya mules dan ingin sekali pergi ke WC. Degup jantungku berbunyi kencang sekali. Kalau kudekatkan ke sisi meja, aku bisa merasakan meja bergetar karenanya. Aku bisa mendengar bos atas bos ku berbicara memberi masukan, apa yang menjadi harapannya atas report yang diberikan. Nadanya menyakinkan. Bahasa inggrisnya lancar. Dia seorang Belanda berambut pendek, pirang dan keriting.

Akhirnya  meeting selesai juga. Jantungku bukannya berhenti tapi semakin berdegup keras. Semua kerjaan harus selesai dalam minggu ini. Aku merasa gagal tidak dapat memenuhi semua tenggat waktu yang telah ditetapkan.  Pikiranku terus berkecamuk antara menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, dan wawancara yang akan kuhadiri dari jam 11.30 siang ini.

Aku putuskan untuk tinggalkan dulu semua pekerjaan, ku ambil tas dan cepat-cepat keluar dari kantor lalu pergi. Aku berjalan penuh kepercayaan diri, namun wajah berkerut 27 kerutan. Jantung tak henti-hentinya berdegup kencang sekali. Kepala sakit. Adrenalin naik. Sesampainya di tempat yang telah dijanjikan oleh Head Hunter, aku tak langsung menemui mereka. Aku menuju kamar mandi untuk merapikan diri, melihat diri ke kaca dan berkata, “aku bisa melewati semua ini”.

Ngobrol setengah jam lebih dengan 3 orang dari Head hunter di salah satu coffée  shop. Aku berbicara, seolah-olah lupa dengan beban yang sebelumnya kubawa.

Setelah dari Head Hunter, aku menuju kantor perusahaan tempat aku diberi pekerjaan untuk menemui user nya. User nya menemuiku tepat jam 1. Dia bertanya dalam bahasa inggris dan aku mampu menjawabnya penuh kepercayaan diri. Aku tak menyangka aku bisa mengeluarkan semua kemampuanku. Ibarat  dalam keadaan bahaya, manusia mampu melampui segala batas kemampuannya untuk bertahan hidup.

Sepulang dari interview, perasaan mulai bergejolak lagi. Aku mencari makan apa saja, agar menjaga aku  kembali dengan kekuatan tubuhku sendiri. Setidaknya tidak sampai pingsan. Lemas sekali rasanya. Aku duduk dengan tenang di taxi, tanganku beradu berulang kali kutekan-tekan. Berkali-kali aku mengambil nafas panjang. Aku telat balik ke kantor. Ada meeting lagi jam 3. Kerjaan belum selesai. Di ruang meeting, bos menegur, “Kok lama banget sih?”

Aku baca email dari bos untuk revisi kerjaan. Kerjaan yang baru kuselesaikan sabtu kemarin dengan menghabiskan waktu seharian. Sakit kepala lagi. Pekerjaan yang lain belum selesai, pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh bosku ditambahkan lagi. Semua soal deadline. Hari ini harus dikumpulkan. Adrenalinku naik lagi. Badanku lemas sekali. Aku ingin teriak, mengeluarkan semua yang ada di kepalaku. Emosiku memuncak.  Tak mampu kutulis semua yang harus kukerjakan.

Aku belum pernah merasakan hal ini. Jiwa terasa terangkat dari tubuh. Kaki inginnya bergoyang terus. Kepala penuh. Ini rasanya seperti bertahan hidup disaat semua tubuh sudah tak mampu bertahan dan hanya ada beberapa menit untuk menyampaikan pesan terakhir sebelum tumbang. Apakah ini yang aku inginkan? Apakah ini yang harus aku lewatkan sebelum hal besar terjadi? Atau ini hanyalah rekaan pikiranku saja? Berulang kali aku mengambil nafas panjang. Berusaha menenangkan diri. Ini hanya sementara. Ini hanya sementara.

 

SJU

Saya Sudah Gila Kalau Hanya Ingin Dikasihani


Akhirnya saya mencapai tahap ini juga, saya gila. Saya tertawa, menangis, tanpa dapat saya control. Saya kebingungan, amarah saya menggelegak, dan yang saya butuhkan hanya mengasihani diri sendiri, ingin meminta orang lain peduli, tapi tidak ada yang peduli…jadi yang saya lakukan hanya marah, lanjut tertawa, lanjut menangis, bahkan tanpa saya rasakan. Tapi saya tahu, saya dapat menghilangkan kegilaan ini, rasa marah ini, tapi saya tidak mau, saya ingin membunuh orang, ingin berteriak, ingin memukul tembok….tidak ada yang saya lakukan, saya mengurung semuanya di dalam, jadi yang saya lakukan kembali lagi seperti tadi, tertawa menangis. Continue reading →

Iuran BPJS Naik, dan Sikapku


Terusik dengan ramainya diskusi di beberapa group media sosial, tentang  Iuran BPJS Kesehatan naik mulai bulan April, kebanyakan kawan kawan tidak setuju, bahkan ada yang menghujat. Saya anggap hal tersebut adalah wujud dari sikap kritis kawan-kawan terhadap kebijakan pemerintah dalam mengelola Negara ini.

Terlepas masih banyaknya keluhan pelayanan yang masih belum optimal. Terlepas dari Demo para petugas kesehatan. Saya juga mendapatkan cerita gembira dari yang merasakan manfaatnya.

Saya masih tetap percaya bahwa Negara akan memikirkan rakyatnya, meski masih banyak kendala yang perlu dibenahi. Kelemahan sistem pastilah ada, juga moral pelaksana yang masih dalam tanda tanya, PR yang perlu segera dikerjakan. Apa jadinya Negara bila rakyatnya menderita, pastilah kekacauan yang ada.

Semangat Gotong Royong, peduli terhadap orang lain, dan berusaha tetap percaya akan niat baik adalah hal yang perlu dilakukan, serta tentu saja sikap kritis, berani mengabarkan kebenaran demi kehidupan yang lebih baik.

Saya (juga mengajak keluarga saya) ikut BPJS sebagai warga negara yang memilih satu sikap yang saya anggap wujud kecintaan saya terhadap Negara Republik Indonesia ini.

 

Jakarta, 15 Maret 2016

retmono adhi

APA AJARAN AJARAN SPIRITUAL ITU DAN BAGAIMANA HAL INI MERASUK ?


…..Dan inilah kutipan dari naskah ceramah Richard Harvey untuk mengundang refleksi, pikiran, dan wawasan Anda…

“Ajaran-ajaran spiritual di sini tidak untuk dipahami dengan cara biasa. Mereka tidak untuk didengar dan dianalisis dan dipertimbangkan seperti proposisi fisika atau matematika atau kritik sastra. Ajaran-ajaran spiritual adalah komunikasi transpersonal dari dalam bawah sadar mengenai hal hal yang melebihi kepribadian, kecerdasan, analisis, dan rasionalitas. Ajaran-ajaran spiritual adalah impersonal dan luas, condong ke arah wahyu transenden dan memohon pada yang Ilahi.

Anda harus menerima ajaran spiritual melalui hati Anda. Hal ini harus menggerakan Anda; itu harus memberikan perasaan spontan OM, ya, afirmatif yang mengambil alih seluruh diri Anda dan bergerak melalui jantung Anda seperti menghirup udara murni.

Transmisi ajaran spiritual adalah suatu hal yang sangat pribadi. Ketika Anda dipenuhi dengan kepercayaan dan iman dan kerinduan, dan intensitas gairah, dan perasaan melebihi kelangsungan hidup dan kepentingan diri Anda, maka Anda telah menemukan guru yang tepat. Ikutilah guru bahwa Anda telah menemukan tanpa pertanyaan, bukan karena Anda telah meninggalkan kemampuan mental penting Anda, yang tidak ada artinya sama sekali, tetapi karena Anda mengukur keterlibatan Anda dalam hati dari penerimaan dalam hidup Anda, tercermin dalam penerimaan mendalam Anda dan mengikuti ajaran yang berasal dari guru yang telah Anda pilih atau yang telah memilih anda. “(hal. 132 dari Dharma Sky)

 

Kutipan dari Dharma Sky.
http://www.sacredattentiontherapy.com/Books.html

Pdt Robert Meagher
Co-Founder, Wakil Kepala Sekolah, Guru Senior di Pelatihan Terapi Online Attention Sacred

 

Terjemahan bebas dari diskusi di Group Linkedin :
WHAT ARE SPIRITUAL TEACHINGS AND HOW ARE THEY TRANSMITTED?

Overthinking #10 Life Career Employee Faith


Kemarin sore saya dan atasan saling bicara. Dia bertanya apa yang saya suka dan tidak suka, apa kendalanya, ada masalah dimana, apakah saya happy atau tidak, dan lain-lain. Pertanyaan ini bagus dan sangat saya tunggu-tunggu dari kemarin. Saya stuck dengan pekerjaan ini. Saya tidak bahagia. Saya tidak suka dengan perlakuan orang-orang disini. Saya tidak suka ketidak harmonisan dan ketidak teraturan disini. Kebodohan di meeting. Terlalu hirarki. Banyak hal ingin saya utarakan. Continue reading →

Lelah #9 Life Career Employee Faith


Aku lelah. Setiap orang yang melihatku sekarang bisa melihat dengan jelas kalau cahaya di wajahku berhenti bersinar. Aku bisa tersenyum, berbicara layaknya tidak terjadi apa-apa – normal, namun jiwaku merana kesakitan. Orang-orang mendiagnosis penyakitku adalah cape hati. Secara fisik masih sehat-sehat saja, tapi wajah yang muram ini asalnya jelas dari dalam hati.
Saking lelahnya, aku lupa beberapa nama orang terdekat disini. Aku sulit mengingat-ingat siapa nama mereka. Ada beberapa, jelas-jelas baru kenalan dan jelas-jelas sering berhubungan, aku tidak dapat menyebut nama mereka.
Aku melihat wajah mereka, hati mereka, mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara padaku, namun aku tidak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan. Pikiranku memprogram untuk setiap perkataan ini, adalah jawaban ini. Karena semua hanya di permukaan, memoriku tidak cukup kuat mengingat setiap perkataan mereka. Jangankan perkataan yang baik, perkataan yang menyakitipun tidak mudah kuingat. Hari ini dengar, besok paginya aku sudah tidak ingat kejadian hari ini. Bukan terhapus dari memori begitu saja, tapi kalau ada yang bertanya bagaimana kejadian kemarin, jiwaku tertekan, aku tak mampu mengatakannya.
Jiwaku lesu. Hati yang gembira terbang dariku. Aku tertawa, tapi hatiku tidak merasakan kegembiraan itu. Aku menangis, tapi hatiku tidak benar-benar sedih. Wajah dan prilakuku tidak terkoneksi dengan hati. Aku layaknya robot.
Aku tidak lagi bisa toleran. Ada yang tertawa di sebelah sana, ada sesuatu menggangguku. Ada yang tersenyum padaku, aku tahu senyumannya tidak tulus, dan aku masih harus menghadapi orang itu lagi dan lagi. Aku bertahan. Setidaknya aku mencoba untuk bertahan. Tidak boleh menyerah, kata-kata itu terus menerus mengiang di telinga. Apakah aku bekerja karena aku perlu membuktikan diri kalau aku bisa, sehingga aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri? Apakah aku harus terus bertahan demi tujuan yang aku set untuk orang lain lihat ini tujuanku, padahal bukan ini yang aku inginkan?
Aku makan dan tidak ingat apakah sudah kukunyah. Aku menelpon dan berbicara, tapi aku lupa apa yang sudah aku bicarakan. Aku melihat orang, tapi tak mengenalnya. Aku terdiam dan lebih nyaman terdiam. Aku mencoba untuk gembira. Berusaha memberi kebahagiaan pada diri sendiri, namun mengapa jiwa ini menahan perasaan gembiraku.
Apakah semua karena faktor eksternal yang mempengaruhi diriku begini, atau faktor internalku yang justru membuat aku begini?
Ketika dulu teman cerita begini sama aku, aku akan menyarankannya untuk memperbaiki faktor internalnya dulu. Sekarang, internalku sedang berjuang. Terus melangkah atau harus menyerah. Apapun pilihanku, bukan berarti aku kalah. Benarkah?

 

Rabu, 2 Maret 2016

 

~SJU~

Teman kerja ? #8 Life Career Employee Faith


Saya sudah melangkah di tempat yang baru. Pekerjaan yang baru. Apa yang saya takutkan tidak sebegitu menakutkan ketika semua itu sudah dijalani. Masalahnya, saya jadi sibuk sekali. Baru beberapa hari mengerjakan pekerjaan baru, jerawat-jerawat sudah bermunculan di wajah. Tidur sekitar pukul 12 sampai 1 pagi. Hampir beberapa hari kerja lembur. Olahraga yang biasanya seminggu 3-4x, kali ini hanya 2x. Untungnya minggu ini saya masih sempat berenang dan ikut kelas yoga. Continue reading →

%d bloggers like this: