About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 3 of 3


 Page 3 of 3

Saya lelah. Halah, lebay! (itu menurut orang-orang yang sudah berpengalaman menanggapi). Orang lain

menasehati untuk tetap berusaha. Mungkin itu belum jalannya. Jodoh memang sulit dicari. Kalau sudah

ketemu, pasti juga akan ketemu. Seberapa besar usahamu, kalau bukan jodoh ya akan berpisah juga.

Kalau itu jodohmu, sedikit usaha saja akan tetap bersatu. Kalau saya tidak berusaha lagi, bagaimana

saya bisa menemukan suami potensial untuk masa depan saya?

Saya berpikir ulang, kenapa saya harus melakukan semua usaha ini? Segala usaha haruslah

menghasilkan sesuatu. Apa yang kita tabur, pasti ada tuaiannya, bagus atau buruk. Semua usaha ini

untuk bisa menikah? Kenapa saya harus menikah? Benarkah saya membutuhkan pria disamping saya? 1

tahun pengalaman dengan pria-pria aneh membuat saya belajar, bahwa wanita cerdas tidak seharusnya

menyusahkan hidup dengan pria bodoh. Mungkin inilah kenapa akhirnya banyak wanita jaman

sekarang memutuskan hidup sendiri. Ya, disamping alasan-alasan lain, seperti: kekecewaan, karena

penyakit, tujuan hidup tertentu, dan lain sebagainya. Makanya ada orang bilang, “hanya wanita bodoh

yang akan menikah oleh buaian pria di masa muda.”

Saya juga tidak bermaksud merendahkan pria dengan mengatakan mereka bodoh, walau Saya juga

pernah mendengar bahwa laki-laki itu tak pernah dewasa. Ada benarnya, ada tidaknya juga. Menurut

saya ini bukan soal siapa bodoh, siapa cerdas. Ini lebih ke masalah pengalaman hidup. Keputusan yang

diambil, dan tujuan yang ingin dicapai. Ketika terlalu banyak pengalaman pahit masuk dalam kehidupan

seorang wanita, dia akan jauh lebih selektif. Dia akan jauh lebih peka terhadap hal-hal yang bisa

membahayakannya. Segala upaya akan dilakukannya supaya dia tidak sakit. Ketulusan dan cinta

menjadi sesuatu yang sulit dipercayai lagi. Apakah masih ada cinta sejati? Hal ini pun berlaku pada pria.

Pria juga lebih hati-hati. Apabila hati pria yang tulus telah dirusak oleh penghianatan, entah siapa yang

bisa memperbaikinya kembali. Begitupun dengan wanita, banyak pemandangan pria berselingkuh, tidak

lagi mencintai istrinya, meninggalkan istrinya saat istrinya hamil dan sedang susah-susahnya setelah

melahirkan. Kalau rumah tangga segitu rapuhnya, masih adakah kepercayaan akan pernikahan?

Kembali ke pertanyaan haruskah saya menikah? Saya berpikir keras lagi menjawab itu. Menikah berarti

menyerahkan hidup saya terhadap suami. Memiliki kehidupan baru di rumah bersama. Setiap hari

bertemu. Melakukan hubungan yang dianggap tabu kalau bukan suami istri. Hamil 9 bulan. Merasakan

stresnya melahirkan. Punya anak. Mengurus anak. Mengurus suami. Kisah hidup di kalangan saudara-

saudara dan keluarga dekat suami. Kisah hidup suami dan teman-temannya. Melewati kisah hidup anak-

anak yang telah dilahirkan. Dan masih banyak kisah hidup baru yang dilewati baik senang maupun

sedih. Pertanyaan selanjutnya lagi adalah apakah saya membutuhkan anak untuk masa tua saya?

Apakah saya membutuhkan pria yang bisa saya andalkan di hari tua? Apakah saya rela mengikut suami

dan tunduk dalam segala keadaan dan kondisi apapun? Apakah saya bisa bertahan dalam gejolak atau

masalah-masalah yang akan timbul di rumah tangga?

Kalau saya memang harus melewati semua ini seumur hidup, kenapa saya harus terburu-buru mencari

pasangan? Kenapa juga saya diminta instan menjalani hubungan untuk keputusan menikah, kalau masih

mentah? Jangan hanya karena terpatok usia yang terus menerus bertambah, saya merelakan diri

kepada siapa saja yang ingin menikahi saya.

Keyakinan saya adalah apapun yang kita kerjakan, lakukan itu semua seperti untuk Tuhan bukan untuk

manusia. Ini berarti bukan hanya soal pemikiran, tapi juga perasaan. Memiliki hati dan memberi 100%.

Melakukan dengan segenap hati dan memberi yang terbaik. Saya akan dengan rela kalau saya

mendapatkan cinta itu. Kalau saya dan pasangan saling mencintai. Kalau kami sama-sama mencintai

Tuhan, kami juga percaya akan cinta yang tulus. Saya juga tidak ingin menikah hanya karena keinginan

untuk saling memiliki dan menguasai. Itu hanya sementara. Masing-masing orang mempunyai hidupnya

sendiri-sendiri. Itu berarti bertanggung jawab terhadap pribadinya sendiri. Jangan berpikir dengan

memiliki suami sekarang, suami melepaskan kebebasannya. Menjadi istri memiliki tanggung jawab

seorang istri. Tunduk pada suami. Percaya sepenuhnya. Kunci pernikahan adalah memiliki hubungan

dengan Kristus sebagai kepala keluarga tertinggi. Dia punya rencana apabila saya dan calon pasangan

bersama. Itu berarti menjadi keluarga yang melayani dan berbagi bagi sesama.

 

Selesai

 

Love Seeker

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: