About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 1 of 3


 Page 1 of 3

Pernahkah kamu panik dengan kata menikah? Sudah di usia yg cukup matang, misalnya 30 an, tapi

pernikahan tak kunjung tiba. Segala upaya lalu dilakukan agar objective menikah tercapai. Dimulai

dengan pencarian pasangan, penjajakan, pacaran, lalu kalau sreg menikah, punya anak, punya keluarga.

Objektif tercapai.

Saya mengalami krisis itu. Bagi sebagian orang, dan khususnya keluarga yg mempunyai peran terbesar

dalam hidup saya, usia saya adalah usia yang seharusnya diharapkan segera menikah. Kenapa? Berbagai

alasan. Perlu diketahui salahsatunya adalah saya mempunyai 2 adik perempuan dan 1 adik laki-laki.

Kedua adik perempuan saya semua sudah menikah dan baru saja melahirkan anak. Adik pertama

melahirkan anak laki-laki, adik ke 2 melahirkan anak perempuan.

Jujur, saya tidak merasakan tekanan apapun. Toh bagi saya itu adalah berkah dan takdir mereka, saya

tidak iri dan tidak memikirkan harus segera menikah hanya karena alasan itu.

Saya hanya berpikir kalau saya anak pertama yang seharusnya memberi keturunan cucu pertama telah

gagal, ya sudah. Tidak mengapa. Saya merelakan semua itu terjadi dalam hidup saya. Saya memang

belum memutuskan akan menikah, dan haruskah menikah.

Sebagian lagi orang berpendapat kalau usia sudah lebih diatas 33 tahun, kemungkinan punya anak akan

lebih sulit. Berapa tahun waktu yang akan dihabiskan dengan anak kita ketika kita baru melahirkan di

usia 35 tahun misalnya. Menikah dan punya anak adalah satu paket dalam kehidupan. Ada anak ada

rejeki. Ada anak ada harapan, ada masa depan. Ada anak ada generasi untuk diteruskan, ada teman di

masa tua. Begitulah kata-kata mereka.

Ada lagi, alasan kenapa manusia harus menikah adalah karena secara ekonomi bisa dibagi bersama.

Bukan hanya soal keuangan, tapi juga berbagi perasaan. Di hari tua, ada yang memperhatikan kita, kita

tidak akan sendirian.

Apapun alasannya, saya pun tak lepas dari permintaan pasar untuk segera menikah. Keluarga, saudara-

saudara, bahkan teman-teman ikut-ikutan membantu untuk mencarikan teman atau mungkin memberi

banyak petuah agar cepat memikirkan hubungan dan pernikahan. Mereka berkata jangan sampai saya

kadaluarsa. Seperti halnya barang ada masa expired nya, begitupun seorang wanita di mata laki-laki dan

masyarakat dengan usia mereka.

Usia berbicara kepada saya tentang waktu manusia untuk melewati kehidupan dengan melakukan

sesuatu. Ketika waktu sudah semakin sempit dan sudah mau habis masa hidupnya, maka seseorang

akan dikejar-kejar dengan pemikiran “Urgency!”. Segala sesuatu jadi dipikirkan kembali lebih seksama,

lebih detail dan lebih focus. Contohnya saja kegiatan di UGD, ketika pasien mengalami koma karena

suatu insiden tertentu, dokter akan terpanggil untuk melakukan sesuatu terhadap pasien yang koma ini

dulu dan memberikan perawatan, perhatian, dan penanganan terlebih dahulu dibanding pasien yang

masih baik-baik saja. Kalau tidak ditangani segera, pasien bisa kehilangan waktunya. Tamat sudah.

Waktu menjadi sangat penting ketika saya sadar usia saya tidak muda lagi. 30 tahun lebih 1 tahun. Ada

yang bilang masih muda, ada yang bilang sudah saatnya menikah, ada yang bilang itu usia rawan susah

cari jodoh. Ada juga yang bilang itu usia dimana sudah harusnya punya anak. Pendapat setiap orang

beda-beda. Beda budaya, beda pemikiran, beda pula pendapat.

Saya ambil dari pendapat keluarga dan orang-orang terdekat. Usia saya adalah waktu yang cukup untuk

lebih focus berpikir mencari suami dan menikah. Waktu berkaitan dengan menikah segera. 4 tahun lalu

saat saya masih usia 27 tahun, saya pernah memutuskan untuk tidak memikirkan soal menikah. Saya

tidak merubah penampilan, saya cuek sekali. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan. Jalan-jalan,

makan, bermain, dan bekerja seperti biasa. Badan mengemuk, saya tidak peduli. Kenapa sekarang usia

30 tahun saya peduli? Karena semua orang mengejar saya. Bebannya semakin bertambah. Saya hidup di

kalangan Ibu-ibu muda yang sudah menikah, dan punya anak. Beberapa sahabat posting kisah mereka

dengan suami dan anak-anaknya. Ada yang sudah usia remaja, ada juga yang masih bayi (baru

melahirkan), dan lain sebagainya. Apakah saya terpengaruh? Jujur, saya tidak terpengaruh. Saya belum

sempat mikir. Sampai akhirnya saya berpikir alangkah indahnya bisa mempunyai seseorang dalam

hidup saya, mendampingi saya, melakukan hal bersama-sama. Dia seorang yang punya tubuh kuat,

pintar dan bisa memberi pendapat, membantu meringankan tugas-tugas saya, memberi kasih sayang

dan cinta. saya tidak akan kesepian dan sendiri lagi. Indah.

Bersambung……

Love Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: