Monthly Archives: February, 2016

Remaja Membangun Karakter ?


Malam ini melihat remaja, duduk duduk bergerombol sambil bermain gitar dan bernyanyi.
Aku ingat bahwa aku juga dulu seperti itu, tiada niat mengganggu orang lain, melainkan sibuk dengan gejolak rasa ku. Kusalurkan lewat lagu, menirukan bintang rock, penyanyi terkenal.

Bahwa remaja adalah masa gelisah.
Mengapa orang tua yang resah.

Aku tidak berpikir tentang masa depan, aku tidak berpikir tentang hidup, aku gelisah dengan diriku sendiri. Aku berkumpul bersama kawan-kawan yang memiliki kondisi yang sama. Disana aku belajar setia kawan, belajar berbicara yang benar, dan mengetahui bahwa berbicara dengan fakta akan lebih dipercaya. Kami juga merasa bahwa orang tua hanya menambah beban pikiran saja.

Mengutip lagu lama

….orang tua pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta….. *Iwan Fals

Retmono Adi

Advertisements

Wawancara Pertamaku mengenai Psikodrama oleh Friends Radio


Dapat email dari friends radio id, untuk bertemu

Friendsradio.id mengetahui dari web institutpsikodrama.com. Sudah beberapa bulan email itu, namun baru dibuka. Segera kami jawab email tersebut dan memberikan nomer kontak WA, agar dapat cepat berkomunikasi. Kami bersepakat untuk bertemu sambil ngopi di Salihara, kebetulan aku sedang belajar akting dengan metode Stanislavski.

Bertemu di Salihara dengan pak Sugi, ngobrol lama menyamakan visi

Kami bertemu di kedai Salihara, berkenalan dan saling menyampaikan keinginan dan harapan. Pak Sugi, merintis Radio Streaming untuk anak muda, tertarik dengan Psikodrama, sesuatu yang baru, belum banyak orang yang tahu, apalagi anak-anak muda. Continue reading →

About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 3 of 3


 Page 3 of 3

Saya lelah. Halah, lebay! (itu menurut orang-orang yang sudah berpengalaman menanggapi). Orang lain menasehati untuk tetap berusaha. Mungkin itu belum jalannya. Jodoh memang sulit dicari. Kalau sudah ketemu, pasti juga akan ketemu. Seberapa besar usahamu, kalau bukan jodoh ya akan berpisah juga. Kalau itu jodohmu, sedikit usaha saja akan tetap bersatu. Kalau saya tidak berusaha lagi, bagaimana saya bisa menemukan suami potensial untuk masa depan saya?

Saya berpikir ulang, kenapa saya harus melakukan semua usaha ini? Segala usaha haruslah menghasilkan sesuatu. Apa yang kita tabur, pasti ada tuaiannya, bagus atau buruk. Semua usaha ini untuk bisa menikah? Kenapa saya harus menikah? Benarkah saya membutuhkan pria disamping saya?

1 tahun pengalaman dengan pria-pria aneh membuat saya belajar, bahwa wanita cerdas tidak seharusnya menyusahkan hidup dengan pria bodoh. Mungkin inilah kenapa akhirnya banyak wanita jaman sekarang memutuskan hidup sendiri. Ya, disamping alasan-alasan lain, seperti: kekecewaan, karenapenyakit, tujuan hidup tertentu, dan lain sebagainya. Makanya ada orang bilang, “hanya wanita bodoh yang akan menikah oleh buaian pria di masa muda.”

Saya juga tidak bermaksud merendahkan pria dengan mengatakan mereka bodoh, walau Saya juga pernah mendengar bahwa laki-laki itu tak pernah dewasa. Ada benarnya, ada tidaknya juga. Menurut saya ini bukan soal siapa bodoh, siapa cerdas. Ini lebih ke masalah pengalaman hidup. Keputusan yang diambil, dan tujuan yang ingin dicapai.

Ketika terlalu banyak pengalaman pahit masuk dalam kehidupan seorang wanita, dia akan jauh lebih selektif. Dia akan jauh lebih peka terhadap hal-hal yang bisa membahayakannya. Segala upaya akan dilakukannya supaya dia tidak sakit. Ketulusan dan cinta menjadi sesuatu yang sulit dipercayai lagi.

Apakah masih ada cinta sejati? Hal ini pun berlaku pada pria. Pria juga lebih hati-hati. Apabila hati pria yang tulus telah dirusak oleh penghianatan, entah siapa yang bisa memperbaikinya kembali. Begitupun dengan wanita, banyak pemandangan pria berselingkuh, tidak lagi mencintai istrinya, meninggalkan istrinya saat istrinya hamil dan sedang susah-susahnya setelah melahirkan. Kalau rumah tangga segitu rapuhnya, masih adakah kepercayaan akan pernikahan?

Kembali ke pertanyaan haruskah saya menikah? Saya berpikir keras lagi menjawab itu. Menikah berarti menyerahkan hidup saya terhadap suami. Memiliki kehidupan baru di rumah bersama. Setiap hari bertemu. Melakukan hubungan yang dianggap tabu kalau bukan suami istri. Hamil 9 bulan. Merasakan stresnya melahirkan. Punya anak. Mengurus anak. Mengurus suami. Kisah hidup di kalangan saudara-saudara dan keluarga dekat suami. Kisah hidup suami dan teman-temannya. Melewati kisah hidup anak-anak yang telah dilahirkan. Dan masih banyak kisah hidup baru yang dilewati baik senang maupun sedih.

Pertanyaan selanjutnya lagi adalah apakah saya membutuhkan anak untuk masa tua saya?

Apakah saya membutuhkan pria yang bisa saya andalkan di hari tua?

Apakah saya rela mengikut suami dan tunduk dalam segala keadaan dan kondisi apapun?

Apakah saya bisa bertahan dalam gejolak atau masalah-masalah yang akan timbul di rumah tangga?

Kalau saya memang harus melewati semua ini seumur hidup, kenapa saya harus terburu-buru mencari pasangan?

Kenapa juga saya diminta instan menjalani hubungan untuk keputusan menikah, kalau masih mentah?

Jangan hanya karena terpatok usia yang terus menerus bertambah, saya merelakan diri kepada siapa saja yang ingin menikahi saya.

Keyakinan saya adalah apapun yang kita kerjakan, lakukan itu semua seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Ini berarti bukan hanya soal pemikiran, tapi juga perasaan. Memiliki hati dan memberi 100%. Melakukan dengan segenap hati dan memberi yang terbaik. Saya akan dengan rela kalau saya mendapatkan cinta itu. Kalau saya dan pasangan saling mencintai. Kalau kami sama-sama mencintai Tuhan, kami juga percaya akan cinta yang tulus.

Saya juga tidak ingin menikah hanya karena keinginan untuk saling memiliki dan menguasai. Itu hanya sementara. Masing-masing orang mempunyai hidupnya sendiri-sendiri. Itu berarti bertanggung jawab terhadap pribadinya sendiri. Jangan berpikir dengan memiliki suami sekarang, suami melepaskan kebebasannya. Menjadi istri memiliki tanggung jawab seorang istri. Tunduk pada suami. Percaya sepenuhnya. Kunci pernikahan adalah memiliki hubungan dengan Kristus sebagai kepala keluarga tertinggi. Dia punya rencana apabila saya dan calon pasangan bersama. Itu berarti menjadi keluarga yang melayani dan berbagi bagi sesama.

 

Selesai

Love Seeker

About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 2 of 3


 Page 2 of 3

Apakah itu arti dari pernikahan? Menciptakan keluarga baru dengan adanya suami, aktifitas bersama, adanya anak, dan bersama-sama melewati hari dengan bahagia? Atau sebenarnya itu hanya tahap dalam kehidupan manusia tentang level kehidupan. Lahir, bermain, belajar, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, punya anak, merawat anak, jadi tua, mati. Continue reading →

About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 1 of 3


Pernahkah kamu panik dengan kata menikah? Sudah di usia yg cukup matang, misalnya 30 an, tapi pernikahan tak kunjung tiba. Segala upaya lalu dilakukan agar objective menikah tercapai. Dimulai dengan pencarian pasangan, penjajakan, pacaran, lalu kalau sreg menikah, punya anak, punya keluarga. Objektif tercapai.

Saya mengalami krisis itu. Bagi sebagian orang, dan khususnya keluarga yg mempunyai peran terbesar dalam hidup saya, usia saya adalah usia yang seharusnya diharapkan segera menikah. Kenapa? Berbagai alasan. Perlu diketahui salahsatunya adalah saya mempunyai 2 adik perempuan dan 1 adik laki-laki.

Continue reading →

7 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan oleh Penyedia Pelatihan


Di mana-mana Anda melihat, banyak saran tentang cara untuk menjalankan program pelatihan, apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Tapi tidak ada yang memberitahu Anda apa yang tidak boleh dilakukan – hal-hal yang dijamin mengecewakan atau mengurangi kualitas dari pelatihan Anda.

Jadi di sini adalah 7 daftar teratas dari hal yang tidak boleh dilakukan: Continue reading →

%d bloggers like this: