Top 10 Skills yang Dibutuhkan di Dunia Kerja : Sebuah Tanggapan Imajiner


Ada ajakan diskusi di group WhatsApp,

Apakah Pendidikan Formal mampu menyiapkan “TOP 10 Skills” di bawah ini ?
1. Kemampuan untuk bekerja dalam struktur kerja tim
2. Kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah
3. Kemampuan untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang-orang di dalam dan di luar organisasi
4. Kemampuan untuk merencanakan, mengatur dan memprioritaskan pekerjaan
5. Kemampuan untuk mendapatkan dan memproses informasi
6. Kemampuan untuk menganalisis data kuantitatif
7. Pengetahuan teknis yang berkaitan dengan pekerjaan
8. Memiliki kecakapan dengan program perangkat lunak komputer
9. Kemampuan untuk membuat dan / atau mengedit laporan tertulis
10. Kemampuan untuk menjual dan mempengaruhi orang lain
http://www.forbes.com/

(Tanggapanku secara imajiner, karena tidak kusampaikan dalam diskusi tersebut. Aku berlagak menggunakan gaya formal. Aku bayangkan aku duduk dalam forum di antara para hadirin , bapak-bapak dan ibu-ibu cerdik cendekia, serta para profesional😀. aku mengangkat tanganku untuk minta giliran, setelah dipersilahkan, aku mulai berbicara)

“Sepemahaman saya sekolah formal menawarkan “Pengetahuan” bukan Skill atau pun Kompetensi,…
Misalnya: Saya ingin menjadi sastrawan, maka saya kuliah di Jurusan Sastra Indonesia,…ternyata disana diajarkan, pengetahuan mengenai Linguistik, Kritik Sastra, dan Sejarah Sastra Indonesia,…
Tidak ada mata kuliah Skill Menulis Sastra dalam Bahasa Indonesia..
Jadi Pendidikan Formal memang bukan untuk melatih skill.

Sepertinya Pertanyaannya yang tidak tepat”

(Aku beri jeda, demi menekankan hal ini, lalu aku lanjutkan lagi, dengan lebih sok percaya diri )

“Pemahaman saya berdasar waktu 20 tahun yg lalu, selama menjadi peserta pendidikan formal. – Bagaimana yang terjadi sekarang, saya belum mendapatkan fakta dan data baru yagg membuktikan sebaliknya. Kebanyakan skills yang saya dapatkan  berasal dari keaktifan saya dalam berorganisasi, aktif di Kegiatan Mahasiswa, aktif di kerja sosial, selanjutnya bimbingan dari atasan di waktu awal bekerja.
Waktu itu kegiatan kemahasiswaan, kurang didukung – dianggap buang-buang waktu- dianggap mengurangi waktu belajar,…jadi bukan pendidikan formal yg membentuk skill saya, Dalam kasus saya ini, saya malahan menganggap pendidikan formal meng”kebiri” hasrat saya, dengan tidak mendukung aktifitas di luar kelas/bangku kuliah.

(Sedikit curcol lah, waktu itu sering ditegur, lantaran jarang kelihatan di kelas dan hanya sedikit mengambil mata kuliah, dan puncaknya diberi Surat Peringatan agar segera menyelesaikan skripsi, atau dianggap mengundurkan diri. Awalnya aku tidak peduli, namun atas dorongan/bujukan temen-teman, dan bimbingan bapak/ibu dosen maka aku kerjakan. Motifku hanya memenuhi harapan orang tua untuk mendapat selembar ijasah. Terima kasih untuk temen-temen dan bapak-ibu Dosen, sehingga saya dapat memberikan ijasah kepada orang tua.)

Berdasar Pengalaman saya menjadi Rekrutmen. Saya mendapatkan kesimpulan, bahwa Pendidikan Formal, cukup mampu melatih Berpikir Analitis, dan Cepat Tanggap memahami instruksi.
Namun, untuk implementasi hasil analisanya, tetap butuh bimbingan. Apabila dipercaya untuk melaksanakan instruksi yang telah dipahaminya, tetap perlu diawasi dan masih perlu dibenahi hasil kerjanya..
Meraka tahu, dan paham,..namun belum mampu,…
Kembali seperti yang saya sampaikan di atas,…

(Aku berakting, merasa paling berpengalaman sendiri. :D)

Pendidikan formal cukup dapat menyiapkan SDM yg Tahu,…namun belum Mampu,…
Apakah para Lulusan Pendidikan Formal akan secara cepat belajar sehingga Mampu? Masih tergantung padanya. Apakah mereka Mau,..?
Apakah mereka berminat terhadap skills tersebut?
Mereka akan menganalisa terlebih dahulu,…dan bila sudah mendapatkan kesimpulan,…
Orang lain sudah menguasai keahlian tersebut.”

(Aku sambil tersenyum dan memberi sedikit jeda lagi.)

“Bagaimana mensikapi situasi ini?”

(kubuka tangan untuk lebih mendapat perhatian hadirin.)

“Sebenarnya tidak salah dalam proses Pendidikan Formal di Indonesia – meskipun masih banyak juga yang dapat dibenahi. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa, bukan Pendidikan untuk menyiapkan tenaga kerja.

(Aku mulai beretorika, dengan penuh keyakinan, layaknya mahasiswa senior yang berbicara terhadap mahasiswa baru)
Jika mau menyiapkan tenaga kerja buatlah Pelatihan, membuat modul yang sesuai untuk melatih Skills tertentu, misalnya 10 Top Skills itu.

Apakah urusan Pemenuhan Tenaga Kerja perlu dibawah Kementerian Tenaga Kerja saja, dan dipisahkan dari Kementerian Pendidikan – agar jelas dan tegas siapa yang harus bertanggung jawab?

Mungkin ini dapat menjadi salah satu solusi”

(Aku betul-betul bergaya, menutup tanggapan ini dengan solusi berupa pertanyaan :D)

Terima kasih.

(Berharap dapat tepukan tangan meriah, eh,..ternyata mereka tidur, dan sebagian sibuk dengan Smartphone nya..:D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: