Takut #7 Life Career Employee Faith


Pernahkah kamu takut datang ke sekolah waktu kecil dulu? Takut dibuli-buli, takut tidak bisa mengikuti pelajarannya dan dimarahi guru, takut gak punya teman, atau takut apapun? Mungkin sebagian ada yang pernah merasakan, sebagian lagi gak pernah kepikiran. Saya pribadi tak pernah takut pergi ke sekolah, mungkin perasaan malas ada, tapi bukan ketakutan-ketakutan seperti contoh diatas.

Saya menyukai pergi ke sekolah, walau saya belum mengerti kenapa harus belajar, atau saya tidak suka pelajaran-pelajarannya. Saya tetap pergi ke sekolah. Bangun pagi-pagi, mandi dan sarapan lalu diantar papa naik motor ke sekolah. Saat pelajaran tiba mendengarkan guru bercerita. 60% ngerti, sebagian hanya mengangguk dan kalau ada kesempatan tidur sambil membuka mata di balik buku pelajaran. Saat istirahat tiba adalah saat yang paling menyenangkan. Saya bisa bertemu teman-teman sekolah, kalau sudah ada yang disuka, bisa lirik-lirikan dengan si dia. Stresnya nanti akan muncul saat mau ujian. Takut gak lulus, takut gak naik kelas, takut dimarahi mama papa, dan lain-lain. Masalah selesai dengan banyak belajar, selebihnya selesai.

Nilai baik, lulus pula.

Ok itu sekolah.

Sekarang adalah tempat kerja. Proses yang terjadi di awal, di tengah-tengah semua bisa sama, tapi pola pandang berbeda. Merasakan sesuatu menjadi jelas. Kekhawatiran meningkat. Ketegangan, dan ketakutan bertambah. Akhir-akhir ini saya pergi ke kantor setiap pagi dengan perasaan takut. Tegang. Panik. Khawatir. Bangun tidur malas, tapi karena ini tahun baru, harus tetap berusaha bilang, “Semangat!”

Mandi dan sarapan, menyetir mobil dan masih dengan hati riang bilang, “Semangat!”

Tebarkan senyum pada satpam, orang-orang yang ditemui saat masuk lift parkir menuju lobi, dan masih bilang pada diri sendiri, “Semangat! Yes You can do it!”

Masuk ke lift. Keluar lift ke lantai kantor, perasaan mulai galau. Saat menyentuh finger scan untuk absen, pikiran sudah mulai sedikit ragu. Saya menarik nafas lebih panjang, dan bilang ke diri sendiri, “Tenang! Ini hanya kantor bukan penjara!”

Masuk pintu kantor mulai senyum dengan orang-orang sekitar. Jalan dengan kepercayaan diri yang penuh. Duduk di meja dan menyediakan peralatan kerja, khususnya laptop. Segalanya berjalan baik. Melihat email, orang-orang di depan, samping, hati mulai galau lagi. Oh No! semangat pudar. Saya tidak seharusnya disini. Saya tertekan duduk di meja saya sendiri. Kenapa? Perasaan takut di buli-buli, perasaan takut tidak bisa menyelesaikan pekerjaan, perasaan takut dimarahi, perasaan takut dibicarakan orang. OMG! Kenapa saya setakut ini ? Kenapa saya setegang ini? Ternyata saya takut. Panik. Khawatir. Apa yang sebenarnya menjadi kekhawatiran tertinggi saya? Saya coba gali diri sendiri, melihat situasi, dan ngobrol dengan teman kantor. Lingkungan yang tidak mendukung. Orang-orang yang di depan manis, di belakang mereka akan bicarakan kamu. Orang-orang yang tidak akan dengan sukarela bagi-bagi ilmu. Mereka yang masih baru harus cari tahu sendiri, atau mencari cara menjilat orang lain untuk dapat informasi. Orang-orang dengan pikiran negatif. Orang-orang perfectionist. Orang-orang premium dan gaya hidup tinggi. Orang-orang yang tidak tulus, yang tersenyum di balik wajah cibiran. Sebagian mengecilkan hati, sebagian memberi semangat dengan tulus. Saat melihat email beberapa teman resign, rasanya kecil hati. Ada juga teman terdekat tiba-tiba bilang besok udah last day, atau bulan depan sudah gak disini. Dek banget rasanya. Sudah bertahun-tahun ketika saya niat resign dari kantor 2 tahun lalu, tapi saya tetap bertahun tahun demi tahun. Lalu ada teman cerita suatu hari di meeting, semua orang yang semula adalah baik dan mereka adalah teman sendiri, tiba-tiba menyerang, menyudutkan, hilang ingatan, menyelamatkan diri sendiri, menunjukkan kekuatannya sendiri-sendiri. Arogannya. Taringnya. Seolah – olah serigala-serigala pemangsa memandang dari kejauhan sedang menyeringai.

Ini dunia saya.

Dunia pekerjaan yang saya hadapi. Saya tak tahu sejak kapan saya peduli dengan semua ini. Apakah saya sudah lebih dewasa sekarang dan dapat mengamati lebih dalam apa yang terjadi di sekitar? Atau sebenarnya dunia saya telah berubah. Level hidup telah meningkat. Saya ditengah-tengahnya dan harus tetap berjalan supaya terus maju. Saya tidak bisa mundur, setidaknya 1 tahun ini menyelesaikan apa yang menjadi tugas baru di tahun baru ini. Pekerjaan baru dengan orang-orang yang harus saya hadapi. Sekarang saya harus melewati 1 tahun lagi. Kita lihat nanti, bagaimana saya mengatasi semua ini.

Tuesday, 5 January 2016
~SJU~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: