Dunia Baru Perasaan di atas Laut #5 Life – Career – Employee Faith


Saat menulis, perasaan saya gak karuan. Saya harus mengeluarkannya ke dalam tulisan ini. Masih ingatkan ketika saya bilang perasaan saya seperti berada di Tornado, wahana Dufan? Itu karena saya baru dapat kerjaan baru di kantor? Nah, perasaan itu belum lepas dari diri saya. Rasanya naik terus. Ada kegelian dalam perut. Inikah yang dinamakan “Butterflies in my stomach?”

Akhir tahun yang bisa dikatakan sangat menggembirakan, menyenangkan, sekaligus menegangkan. Saya mampu melihat arah angin hidup saya untuk beberapa tahun ke depan. Tubuhku mengeluarkan banyak getaran-getaran. Entah hormon apa yang sedang meningkat dalam tubuhku, si endorphin kah yang sedang membuat saya tertawa dan selalu ingin tersenyum. Dilain pihak, tubuh saya juga sedang melawan kebahagiaan itu dengan perasaan tegang, perasaan takut.

Mungkin bisa dibayangkan dengan situasi ini. Saya sedang duduk di perahu di atas lautan. Mula-mula pemandangan yang terhampar begitu indah, lautnya masih dangkal. Saya masih bisa melihat terumbu karang, ikan-ikan kecil berlari kesana kemari berwarna warni. Airnya hangat tersiram sinar matahari. Warna laut hijau, biru muda, bening. Suasana dekat pantai sungguh indah. Merasakan angin semilir laut membelai pipi. Menyenangkan. Sungguh perasaan menakjubkan yang membahagiakan. Lama kelamaan perahu membawaku ke tengah lautan. Warna biru laut nya mulai gelap. Biru dongker. Biru pekat. Warna air laut semakin gelap menandakan laut semakin dalam. Tiba-tiba baru sadar betapa luas lautan itu. Daratan semakin jauh. Perasaan takjub masih bertahan dalam diri. Lama-lama pikiran kosong, dada berdegup setengah nada, perut mulai sedikit mual. Belum sempat berpikir ini dimana dan kemana perahu membawa saya. Kosong. Hampa. Saya hanya bisa mendengar suara jantung berdegup, perut berputar-putar. Sudah tak tahu entah dimana. Tiba-tiba di samping perahu, ada ikan paus besar! Ikan paus mengeluarkan angin disertai semburan air dari punggung badannya. Wow! Amazing! Mata mulai terbuka lebar. Kaki gemetar tak mampu bergerak. Kepala terbius dan susah untuk menggeleng ke kanan dan ke kiri. Indah! Bagus! Tapi takut!
Saya tak punya pengalaman menjalani perahu ini. Saya tak punya pengetahuan tentang ikan-ikan di bawah lautan ini. Saya tak punya apa-apa untuk mengetahui daerah ini dan kemana harusnya perahu berlabuh.

Khawatir. Panik.

Keadaan tegang terus meningkat. Yang bisa saya lakukan hanya, bengong. Kadang tersenyum lihat keindahan ikan lumba-lumba berlari beriringan dengan pasangannya. Ya…itu senang! Tapi…..saya tetap was-was. Kebahagiaan yang harus diwaspadai.

Saya harus tetap sadar. Ini bukan comfort zone saya. Perahu harus tetap jalan dan menuju suatu tempat.

Inikah namanya nekad? Atau inikah jalan hidup yang memang saya pilih?

Anggap saja ini jalan hidup yang saya pilih dengan nekad. Lama kelamaan juga akan terbiasa dengan perasaan ini. Yang harus saya lakukan adalah tetap bertahan. Menikmati perjalanan. Belajar dari alam, belajar dari pengalaman yang saya dapat selama disini. Belajar kuat saat ombak besar menghantam. Percaya dan berharap pada Tuhan. Pasrah membiarkan angin membawa perahu hingga ke tepian.
Bukankah begitu?

Friday, 18 December 2015

-SJU-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: