Apakah saatnya Maju atau Berhenti Mengubah Jalur? #3 Life, Career and Employee Faith


Thursday, 26 November 2015

Pagi hari dimulai dengan senyuman manis dan baju rapi. Tidak ada yang salah. Tidak tersandung, dan wajah full of make up. Ok hari ini saya sangat percaya diri. Hari ini ada meeting besar satu divisi, membicarakan apa yang menjadi objective 2016 dan apa hasil yang sudah dilakukan di 2015. Segalanya berjalan baik, sampai ketika saya merasa kejanggalan dan saya mulai tidak mengerti apa yang orang-orang sedang bicarakan di depan. Apa yang mereka presentasikan saya tidak tahu. Tiba-tiba saya seperti tertarik ke dunia saya sendiri. Terpencil, sendiri dan tidak bisa berinteraksi. Saya mendengar si ini berbicara; si itu menanggapi, ada yang bertanya dan saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya tidak mengerti situasi yang membawa saya jadi seperti orang yang autis. Apa yang membuat saya begini?

Saya pikirkan lagi. Dalam adegan-adegan tersebut, seseorang bernama X memberi tanggapan atas presentasi yang disampaikan direktur kami. Direktur menyampaikan sesuatu dengan bertanya “apakah kamu tahu ini dan itu? Yang tidak tahu angkat tangan, kalau tidak, saya akan bertanya”. Apakah itu ancaman atau sebuah harapan? Harapan karena Bosku baik sekali, dia ingin semua orang mengerti apa yang dia katakan dan nyambung dengan semua materinya. Saya mengangkat tangan untuk hal yang saya tidak yakin jawabannya. Hanya saya yang mengangkat tangan, tidak ada yang lain. Tidak seorangpun yang tidak tahu apa yang dia tanyakan. Dia menjelaskan apa yang dia tanyakan. Saat itu dengan bahasa inggris yang terdengar di telinga, otak saya berkelana. Saya tidak memperhatikan apa yang dia sampaikan. Saya berkutat pada pikiran saya sendiri. Kok bisa-bisanya saya tidak tahu apa yang dia tanyakan itu. Kenapa saya mau-maunya dan bego-begonya mengangkat tangan. Saya MALU.
Aliran darah dari otak mengalir turun ke bawah mengenai jantungku yang berdetak kencang. Tanganku jadi panas, perutku jadi bergejolak, dan kakiku jadi lemas. Direktur di depan menjelaskan apa yang memang perlu dijelaskan agar kami yang tidak mengerti dapat mengerti. Kenyataannya dalam ruangan itu hanya saya yang tidak mengerti. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya?
Ok, akhirnya saya tidak mengerti poin yang dia sampaikan. Saya mengangkat tangan karena tidak tahu. Ketika dijelaskan masih juga tetap tidak mengerti, karena tidak benar-benar memahami dari pikiran. Perfect!
Akhirnya keseluruhan presentasi dari awal sampai akhir tidak saya pahami ATAU saya tidak benar-benar ingin memahaminya. Saya keburu marah. Saya keburu malu.
Saya melihat suasana baik-baik saja. Orang-orang menanggapi, memberi masukan, dan bahkan ada yang menjadi volunteer atas suatu acara. Bos-bos di depan dengan senang hati menyambut orang-orang tersebut. Bangga. Mungkin itu adalah perasaan bos-bos itu ketika melihat ada anak yang aktif, mau tampil dan terlihat bergairah untuk berkontribusi terhadap perusahaan.
Sementara saya berpikir tentang diri saya selama saya bekerja disini. Saya belum memberi kontribusi apa-apa yang cukup terlihat dan cukup bisa dibanggakan. Saya sudah hampir 5 tahun disini, tapi 1 tahun terakhir ini saya merasa gagal menjadi karyawan teladan. Ternyata saya belum belajar apa-apa. Ternyata saya belum mencapai apa-apa. Apakah sebaiknya saya keluar saja dari sini? Maksudnya Resign. Saya tidak punya semangat lagi untuk melanjutkan atau bahkan berkontribusi. Apa yang harus saya pilih?
Saya bermain dengan pikiran saya sendiri. Imaginasi saya menuntun saya ke sebuah situasi yang sama seperti ini: Saya sedang dalam sebuah perjalanan dengan mobil. Saya mengendarai mobil hanya di jalur kiri saja, tidak ingin menyalib, tidak ingin terburu-buru. Saya pikir ini adalah jalur aman saya. Tidak ada seorang pun yang akan menyalib dari kiri. Biasanya jalan ini tidak terlalu ramai. Kalau ada yang mau buru-buru, silahkan lewat jalur tengah dan kanan untuk saling salib-menyalib.
Tiba-tiba saja, jalur semakin ramai akan mobil-mobil. Volume mobil bertambah. Jalanan jadi semakin sempit. Semua mobil ingin buru-buru. Semua mobil ingin segera mencapai tujuan. Posisi nyamanku terancam. ‘TIT……….!TIT………!’ ‘TIIIIIIIIIT………….’ Bunyi klakson ramai di udara. Waduh ini mesti bagaimana?
Keadaan mulai terdesak. Macet dimana-mana. Kalau aku tidak berjalan cepat, kondisi saya akan terus diklakson dari belakang, bunyi yang akan terus –menerus memekakkan telinga. Kalau saya berhenti, caci maki, bahkan polisi akan menghampiri.
Bagaimana ini?
Saya menyadari inilah posisiku sekarang.
Saatnya saya memberi keputusan atas keadaan ini. Apakah saya akan meminggirkan mobil dan keluar dari jalur lalu berhenti, atau bahkan mengganti jalur. Apakah saya harus mengencangkan laju untuk menyesuaikan dengan kecepatan mobil-mobil di samping saya.

– SJU –

One response

  1. […] Masih ingat cerita posisiku sekarang? Kalau belum baca, teman-teman bisa baca di (Maju atau Berhenti)… […]

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: