Bagian #2 My Life, Career, and Employee Faith


Kalau baca kisahku seminggu lalu, ini lanjutannya. Aku berpikir lebih dalam apa yang membuat aku bosan dan tidak menikmati bekerja di perusahaan bonafit ini. Apakah keluar dari sini adalah satu-satunya jalan keluar. Merenung. Merenung tidak sama dengan dengan melamun. Dulu aku selalu berpendapat, orang yang merenung hanya menghabis-habiskan waktu. Karena bagiku merenung adalah kegiatan melamun. Ternyata aku salah. Merenung adalah bagian dari hidup. Disitu saatnya saya merefleksikan hidup. Berpikir lebih dalam. Berbicara pada diri saya sendiri atau Tuhan sebagai sahabat tertinggi.

Saya mulai merenungi apa yang menjadi kebutuhan dasar manusia dari awal. Ambil Teori Abraham Maslow, dimana manusia memiliki 5 tingkat kebutuhan hidup. Pertama adalah secara fisik: Sandang, pangan, papan. Saya telah memiliki ketiganya. Seharusnya saya puas dengan itu. Kecuali saya berpikir untuk tidak puas dengan rumah atau makanan yang saya makan setiap hari. Tapi toh 3 dasar itu terpenuhi saja harusnya sudah bersyukur karena saya masih hidup. Kedua: Kebutuhan keamanan dan keselamatan. Sekarang masih punya keluarga yang memberi saya kenyamanan, tinggal di Negara yang aman dan tidak sedang berperang. Aman lah ya.

Kebutuhan Sosial yang ke-3. Nah disini saya mulai merenung. Teman-teman saya tidak banyak. Saya punya banyak teman, tapi kadang saya menutup diri dari pergaulan. Mungkin disini saya mulai menemukan masalah. Saya tidak merasa nyaman dengan lingkungan dimana saya bekerja. Saya tidak menemukan orang-orang selevel dengan saya. Level disini bukan jabatan, bukan kekayaan, tapi lebih ke pemikiran. Saya wanita di usia yang boleh dibilang harusnya menikah dan mungkin sudah punya anak. Teman-teman semua sudah menikah dan sudah punya anak. Pola pikirnya berbeda. Mau bergaul sama anak-anak MT (Management Trainee) yang baru lulusan kuliah, rasanya malu. Tapi yah memang segitu level pemikiranku, masih suka hura-hura. Cuma gak segitu mudanya juga. Saya berada di jalur tengah. Rasanya jadi kesepian karena saya harus mengimbangi kedua level kategori usia. Lalu bicara lagi soal kebutuhan social, mungkin ada lagi yang membebani pikiran, yaitu pacar. Saya belum punya pacar. So what? Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu. Asal ada cinta dari sahabat dan keluarga, sebenarnya itu sudah cukup. Eits jangan salah, ternyata itu kurang memenuhi hasrat dalam jiwa. Saya juga tetap membutuhkan orang terdekat dari lawan jenis. Ketika saya dekat dengan seorang pria yang memperhatikan dan sayang pada saya, saya merasa nyaman hidup di dunia ini dan merasa bergairah pula dengan pekerjaan. Itu mempengaruhi ternyata.

Lanjut ke kebutuhan no.4 yaitu penghargaan. Secara eksternal saya merasa pekerjaan saya sudah tidak berharga. No body needs me istilahnya. Aku kerjakan atau tidak kerjakan juga tidak memberi impact bagi perusahaan, bagi bos atau bagi orang-orang sekitar. So, kenapa aku masih harus mengerjakannya. Untuk apa?

Disini aku menyadari bahwa penghargaan itu adalah kebutuhan manusia setelah mendapat berbagai hal yang telah disebut diatas. Ok lah kalau dibilang saya bisa menghargai diri saya sendiri walau orang lain tidak menghargainya, saya telah berhasil. Saya tidak peduli pekerjaan saya dinilai baik, berdampak bagi orang lain atau tidak, yang penting saya mengerjakannya dari hati. Saya mengerjakan yang terbaik yang saya bisa kerjakan. Kalau sampai titik ini saya berhasil, ini adalah penghargaan buat diri saya sendiri. Tidak ada yang melihat, tapi saya melakukan tugas ini dengan baik. Tuhan pasti mempunyai rencana buat orang rajin seperti saya. Itu pikir saya. Saya harus belajar dititik ini dulu. Kalau ini sudah terpenuhi saya tahu saya harus melangkah ke no.5, yaitu aktualisasi diri. Inilah tempat dimana banyak karyawan yang biasanya sudah terpenuhi 4 kebutuhan diatas tadi merasa stuck, dan butuh aktualisasi diri dengan cara down grade (kadang-kadang). Jabatan sudah Direktur, tapi mau buka mie ayam pinggir jalan, misalnya. Jabatan GM, waktu punya, uang banyak, tapi mau ngerjain usaha yang kadang kesibukannya bisa 20 jam perhari. Untuk apa? Pembuktian diri.

Ternyata saya masih belum bisa resign dulu. Saya harus belajar di kebutuhan 4. Membuat diri saya berharga, no matter orang lain mau menghargainya atau tidak. Karena segala sesuatu yang saya kerjakan pasti ada hasilnya. Asalkan semua dikerjakan dari hati.

18 November 2015

by SJU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: