Malu Bertanya Sesat di Jalan, Banyak Bertanya Otak Tersesat


13 November 2015

Pepatah jaman dulu kan selalu berkata seperti itu ya, malu bertanya sesat di jalan! Ingat tidak, ketika masih SD, kita selalu diwajibkan untuk menghafal pepatah dan peribahasa, salah satunya ya itu. setelah dihafalkan selama bertahun-tahun, tanpa disadari pepatah itu bersemayam dalam-dalam di otak saya. Kalau ada apa-apa, bertanyalah……masalahnya kan kalau malu bertanya bisa sesat di jalan. Nah, yang saya tidak tahu, ternyata kalau terlalu banyak bertanya, atau bertanya tanpa berpikir dulu, bisa jadi pertanyaan tersebut malah membuat kita tambah tersesat.

Otak saya itu jenis otak yang tidak bisa dipaksa berhenti berpikir, mulai dari pikiran yang berguna, sampai pikiran yang tidak berguna, semuanya dipicu rasa penasaran. Belakangan saya baru tahu, ternyata rasa penasaran yang tidak dikontrol itu bisa menyebabkan saya dilabeli sebagai orang yang tidak dewasa, karena hanya anak-anak yang diberi kewenangan bertanya dengan penuh kepolosan. Tahu tidak kalau orang dewasa (secara usia ya) suka bertanya sembarangan, disebutnya apa? Orang bodoh! Iya betul, Anda tidak salah baca, namanya orang bodoh! Malu bertanya sesat di jalan? Justru banyak bertanya otak tersesat!

Terus artinya apa? Tidak boleh bertanya? Bukan kok, yang diharapkan masyarakat untuk orang dewasa hanya pertanyaan yang cerdas. Bukan sekadar memuaskan rasa penasaran, tapi juga harus memperhatikan kondisi dan situasi, termasuk salah satunya perasaan pihak yang ditanya. Saya pikir-pikir, benar juga kalau dicap orang dewasa harus lebih cerdas dalam bertanya, harus berpikir dulu, harus bisa menahan diri bila memang benar pertanyaan tersebut tidak pantas untuk ditanyakan……karena ternyata memang hal tersebut lebih sulit dilakukan dibanding sembarangan melontarkan pertanyaan atas dasar rasa penasaran seperti yang biasa dilakukan oleh anak kecil. Nah, semua pasti setuju, bagian yang lebih sulit sepantasnya dilakukan oleh orang dewasa, itu namanya tugas orang dewasa.

Sayang, kalau dulu tahu begitu, tidak akan mau saya menjadi orang dewasa (secara usia ya). Padahal ya, ketika masih kecil dulu, saya paling sebal kalau pertanyaan saya tidak dijawab dengan alasan saya masih kecil, ceritanya kan anak kecil tidak usah ikut campur urusan orang dewasa, tidak usah sok tahu. Ternyata saya kena tipu, mentah-mentah! Saya dulu menyangka, ketika saya sudah dewasa, semua rasa penasaran dan tanda tanya di otak saya akan terjawab, akan ada orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang hampir tidak ada jedanya, kan ceritanya saya sudah dewasa, sudah boleh ikut campur urusan orang dewasa dong. Ternyata, tidak juga, malah lebih parah lagi, saya bahkan diminta lebih bertanggung jawab dalam bertanya. Bukan saja pertanyaan saya mungkin tidak dijawab, malah ada kemungkinan bila saya salah bertanya, saya akan dianggap aneh, dikucilkan, dan lain-lain….intinya sama, pertanyaan saya tetap tidak terjawab, tetap tidak dijawab!

Lalu saya mau bagaimana dong? Marah karena ditipu? Ditipu oleh orang tua, guru, dan pepatah yang usianya mungkin sudah ratusan atau ribuan tahun? Tampaknya saya tidak punya pilihan. Dulu sekali saya sudah memutuskan untuk menjadi dewasa (secara usia dan pemikiran ya), jadi ya terpaksa saya harus mengemban tugas sulit itu. Kalau besok-besok saya butuh memikirkan strategi dulu sebelum bertanya untuk menjaga kedamaian masyarakat, akan saya lakukan! Kalau besok-besok pun saya diminta berani untuk tidak bertanya dan tetap berada dalam zone ketidaktahuan, akan saya lakukan! Hanya ada satu hal yang tidak akan saya lakukan, berhenti bertanya pada diri sendiri. Ada jawaban syukur, tidak ada jawaban boleh, saya memang suka menantang hidup…..biarlah saya tetap tersesat!

 

Pengelana

2 responses

  1. Bagus dan mantap! Bertanyalah, yang tidak mau menjawab berarti bodoh, bukan si penanya. hihi

    Like

    1. sering lho ada Pertanyaan yang Salah,….

      contoh : (pertanyaan yang salah)

      Apa yang membuat kamu mencintaiku?

      1.
      Apa,…mengharapkan jawaban yang obyektif, nyata, konkrit,
      sementara…
      Cinta,…adalah Subyektif, Makna, Rasa, abstrak,

      2.
      Pertanyaan “APA” itu mengharapkan jawaban yang diungkapkan dalam kata-kata
      sementara…
      Cinta,…mengharuskan diungkapkan dalam tindakan, Perbuatan, tingkah laku.

      3.
      Apa….dapat dijawab pada saat itu juga,….
      sementara….
      Cinta membutuhkan waktu sepanjang hayat, bahkan sering baru dapat dirasa bila sudah tiada…

      dalam kasus ini, yang bertanya dan yang menjawab, akan terlihat sama-sama Bodoh,….. (apalagi yg menuliskan ini)😀

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: