Seonggok Terima Kasih dan Selembar Lima Ribuan


13 November 2015

Di jaman serba realistis ini, lebih penting mana, selembar lima ribuan atau sepatah kata terima kasih?

Nah, kita kan sedang bicara tentang realita, maka mari coba kita pikirkan. Dengan selembar uang lima ribu rupiah, apa yang bisa kita dapatkan? Kalau di kota besar seperti di Jakarta, lima ribu rupiah mungkin berarti lima potong gorengan pinggir jalan, atau mungkin sebotol air minum dalam kemasan. Lalu, bagaimana dengan sepatah kata terima kasih?

Sepatah kata terima kasih kemungkinan besar tidak dapat meredakan dahaga, juga tidak dapat menghilangkan rasa lapar, tapi mungkin dapat menyejukkan jiwa. Kembali lagi, semuanya spekulasi, penuh dengan kemungkinan.
Lalu kalau kita diminta untuk memilih, mana yang akan dipilih, selembar lima ribuan atau sepatah kata terima kasih? Pernahkah mengalami situasi, dimana Anda memberikan selembar uang lima ribuan kepada tukang parkir atas jasanya memarkirkan kendaraan? Nah, menurut pengalaman pribadi Anda, yang mana yang terjadi terlebih dahulu, sang tukang parkir melihat lembaran uangnya, atau mengucapkan terima kasih karena telah diberi imbalan?

Kalau saya, berkali-kali saya mengalami kejadian yang sama, sang tukang parkir melihat lembaran uangnya dulu, memutuskan apakah uang tersebut cukup sebagai imbalan, baru mengucapkan terima kasih.

Bagi saya, tidak penting apakah kata terima kasih tersebut diucapkan, tapi menjadi refleksi tersendiri…..ketika kata tersebut tidak diucapkan.

Coba saja perhatikan ungkapan ini, terima…kasih. Bila sang tukang parkir tidak menyebutkan kata itu, anggapannya saya tidak memberikannya cukup kasih? Lalu, kasih saya diukur dengan selembar lima ribuan? Kejadiannya, bila saya memberikan dia lebih misalnya, anggaplah sepuluh ribu rupiah, atau bahkan seratus ribu rupiah, lalu sang tukang parkir mengucapkan terima kasih banyak (mungkin dengan tambahan senyum manis), apakah itu artinya saya sudah benar-benar memberikan banyak kasih kepadanya?

Ayo, kita kembali lagi pada dunia yang realistis. Bila saya memberikan imbalan lebih kepada sang tukang parkir, mungkin dia benar-benar bisa lebih merasakan kasih saya….atau bahkan, membagikan kasih itu pada teman-temannya, keluarganya, tetangganya, siapapun.

Akhirnya pikir saya, ini bukan masalah materi, atau masalah gila hormat, pun bukan masalah degradasi moral, atau tata kesopanan masyarakat. Mungkin dulu kita memang diajari, jangan lihat materinya, tapi syukurilah…berapapun itu. Namun bukan berarti ketika saya memberi kurang dari selembar lima ribuan (atau hanya selembar lima ribuan), lalu sang tukang parkir tidak berterima kasih, serta merta saya bisa melabelinya dengan label orang yang tidak tahu terima kasih, tidak bersyukur.

Refleksikan kembali, mungkinkah memang kurang kasih yang saya berikan padanya?

Bila demikian adanya, saya harap seulas senyum tulus dan seonggok terima kasih dari saya dapat mendamaikan hatinya.

Pengelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: