Pelajaran Menambal Hati


Dari kecil, kita selalu diminta untuk belajar. Pertama-tama, belajar bagaimana untuk hidup, atau bertahan untuk tetap hidup tepatnya. Bayi kecil belajar untuk makan, lalu setelah agak besar disekolahkan agar kelak memiliki pengetahuan, lebih besar lagi mulai bekerja….semua dilakukan agar bisa mempertahankan hidup. Ketika mulai dewasa, bertahan hidup menjadi lebih sulit, karena ternyata kehidupan bukan hanya yang terlihat oleh mata saja, fisik yang sehat, otak yang cerdas…namun ada juga yang namanya benar-benar hidup, menjadi manusia seutuhnya ketika “hati” pun hidup, menjadi sosok yang berjiwa dan berperasaan.

Begitu banyak yang butuh dipelajari manusia seumur hidupnya, mungkin sampai terakhir pun tetap butuh belajar bagaimana caranya mati. Nah kalau saya, yang sedang saya pelajari sekarang adalah bagaimana menjadi manusia, manusia yang sesungguh-sungguhnya, bukan seonggok daging tanpa perasaan, atau petasan yang terlalu mengumbar kejutan setiap kali tersulut. Bertahun-tahun hidup sebagai manusia, atau setidaknya menyangka diri sendiri manusia, ada begitu banyak pandangan yang terbentuk dalam diri saya. Seiring dengan tahun-tahun yang berlalu, juga ada begitu banyak hal yang telah saya miliki, dan sama sekali tidak rela saya lepaskan.

Sayangnya, saya tidak sadar, hal-hal yang tidak mau saya lepaskan tersebut ternyata telah membelenggu langkah kaki saya dalam usaha menjadi manusia. Saya tidak menjadi manusia yang utuh, namun lebih menyerupai sebuah virus yang menggerogoti diri sendiri. Manusia selalu diajarkan untuk memberi, namun saya selalu berusaha untuk meminta. Bila sesuatu telah kita peroleh dengan susah payah, tidak mungkin kan malah kita lepas pergi? Saya samasekali tidak mengerti mengapa manusia harus memberi, sampai suatu hari saya sadar bahwa ada lubang dalam diri saya. Ya, virus tadi, telah menggerogoti tubuh saya, setiap kali saya meminta, lubangnya bertambah besar.

Lama saya mencari-cari jawaban perihal munculnya lubang dalam diri saya. Pelan-pelan, saya tahu mengapa bisa ada lubang tersebut. Ketika saya meminta, saya belum tentu akan mendapatkan apa yang saya inginkan, ketika itulah muncul kesakitan, dan mulai ada virus yang membuat lubang. Lama-lama saya tidak tahan lagi dengan lubang tersebut, rasanya sakit bukan main. Maka mulai bertanya-tanyalah saya, dimana letak kesalahannya?

Untungnya, kita manusia dibekali kemampuan menyembuhkan diri sendiri. Pelan-pelan muncul kesadaran, terlalu banyak yang tidak bisa diberikan dunia pada saya, maka sudah saatnya kita mainkan hidup ini dengan cara yang berbeda, saya memberi! Saya tidak peduli lagi pada apa yang telah saya miliki, seberapapun sulit saya mendapatkannya, saya memutuskan untuk memberi.

Ketika itulah keajaiban terjadi. Lubang yang besar dalam tubuh saya perlahan mengecil, tepat setiap kali saya memberikan sesuatu pada dunia. Saya baru sadar, dunia ternyata tidak sekikir saya, dia memberikan kembali apa yang telah saya berikan padanya. Saya mendapatkan apa yang ternyata selama ini saya cari, perasaan nyaman dan gembira, menjadi manusia semanusia-manusianya. Setiap satu perasaan baik yang saya sumbangkan pada dunia, dia tambal kembali dalam diri saya. Dan ternyata benar apa yang dikatakan, hanya orang yang berkecukupan yang dapat berbagi….ketika saya berbagi, di titik itulah saya menjadi berkecukupan, saya tidak berlubang lagi 

Teman Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: