Sang Kelomang Bunuh Diri


Hidup itu sulit? Tahu kenapa? Karena manusia mengejar kesempurnaan, sedangkan di muka bumi ini tidak ada yang sempurna. Manusia menyukai kepastian, padahal satu-satunya hal yang pasti di planet ini adalah ketidakpastian. Manusia membenci perubahan, masalahnya hanya ada satu yang konstan di jagat raya ini, perubahan. Jadi? Manusia menentang kodrat alam, mencari masalah dalam hidupnya yang pendek ini?
Coba lihat makhluk lainnya. Tahu kelomang? Makhluk yang hidup di pantai, memiliki cangkang yang indah beraneka ragam. Banyak orang bilang hidup yang hampa itu seperti cangkang kelomang, terlihat kokoh, indah, misterius dari luar…tetapi ternyata tidak berjiwa….hampa! Cangkang itu tak lebih dari seonggok kulit yang sudah ditinggalkan penghuninya, setiap saat bisa saja terkikis air laut, pasir, debu….memudarkan keindahannya perlahan-lahan.
Nah, saya bukanlah si cangkang kosong itu, sebaliknya saya adalah kelomang yang terjebak dalam cangkangnya. Kok bisa-bisanya saya sampai terjebak dalam cangkang saya sendiri? Awalnya, cangkang adalah sesuatu yang memberi identitas, kelomang besar, kecil, berwarna merah, hijau, kuning….semua dikenal karena cangkangnya. Cangkang itu juga yang memberikan rasa aman pada kelomang, perlindungan dari pemangsa, serbuan pasir, angin….apapun yang membahayakan kenyamanan hidup. Cangkang ini dibawa kelomang kemana-mana, karena itu adalah pelindung, identitas diri.
Bagi saya sang kelomang, cangkang ini adalah seluruh kehidupan saya. Dia adalah cinta, uang, karier, persahabatan, keluarga….semua yang saya kejar, segala yang memberi warna dalam hidup saya. Tapi saya sang kelomang bodoh ini, tidak menyangka bahwa ada saatnya dimana terjadi perubahan. Ya, saya bertambah besar! Ternyata, saya terus bertumbuh. Kalian berpikir bahwa bertumbuh adalah hal yang menyenangkan, menjadi besar, matang dan mapan? Ya memang! Tapi pernahkah kalian pikirkan rasa sakitnya terjepit dalam cangkang sendiri karena bertumbuh?
Saya sampai pada satu titik, perubahan dalam hidup. Saya benci perubahan, perubahan itu menyakitkan, perubahan itu menyesakkan! Tapi, saya hanyalah sang kelomang. Apa yang bisa saya lakukan, menangis, mengutuk Tuhan, lalu akhirnya pasrah dan memilih mati terjepit dalam cangkang saya sendiri? Cangkang itu lagi, yang mulanya melindungi saya, rumah saya pulang setiap ada kesulitan! Ya ampun, apa sih yang sebenarnya terjadi? Kok bisa ya, rumah saya selama ini, yang begitu menyejukkan ketika matahari bersinar begitu teriknya, yang begitu menenangkan ketika ombak bergemuruh menyeramkan di lautan, yang begitu kokoh ketika pasir bertiup menyanyat, yang begitu mengerti setiap lekuk tubuh saya….merangkul saya dalam keadaan apapun, ternyata bisa lho berubah menjadi sumber penderitaan saya! Ya, itulah hidup…. penuh dengan perubahan.
Jadi, apa yang harus saya lakukan? Memilih mempertahankan cangkang (yang dulu) nyaman, hanya berarti satu…mati! Saya akan lenyap. Yang kelak akan kalian lihat hanyalah sebongkah cangkang saja, cangkang yang tidak berjiwa tidak bernyawa….bekas-bekas kejayaan saya, yang tidak tahu juga harus saya banggakan pada siapa. Nah, perubahan itu kejam, sadis. Bekerja sama dengan waktu, dia menindas tanpa ampun. Saya tidak punya banyak waktu, saya sang kelomang harus segera mengambil keputusan, dan berkeras melakukan aksi secepatnya, lari meninggalkan cangkang keparat (ex tercinta) saya itu. Lari? Lalu mau tinggal dimana?
Saya rapuh, saya selalu membutuhkan cangkang. Tapi saya ingat, konon katanya selalu akan ada cangkang baru bagi yang berani mencari! Wah, muncul lagi kendala baru, keberanian! Ingat kan kalau saya ini kelomang yang lunak, rapuh…mana berani saya mengambil resiko sebesar itu? Apakah kalian tahu, seberapa menyeramkan rasanya meninggalkan cangkang yang nyaman, lalu harus melintasi lautan pasir tak berujung, berkelana di tengah alam yang tak kenal ampun ini untuk mencari rumah baru….tujuan baru?
Lagipula, kalaupun ada cangkang lainnya….saya tetap harus berlomba dengan waktu. Apakah saya bisa menemukannya sebelum saya mati diterpa teriknya matahari, dimangsa makhluk lainnya, atau hanyut ditelan ombak? Saya RAPUH, saya TAKUT! Saya ulangi lagi, saya hanyalah seekor kelomang yang RAPUH, PENAKUT!
OK, saya rapuh dan penakut, tapi pilihannya, lakukan….atau mati! Itu bukan pilihan, sudah saya katakan tadi, saya sang kelomang bukan hanya cangkang kosong seperti kalian manusia yang hampa. Saya berjiwa, bernyawa, berharga, tidak seharusnya mati karena pasrah…lalu hanya menyisakan cangkang jelek itu!
Jadi, saya ambil keputusan itu, saya lari dari rumah! Saya terus berlari, kesakitan disengat matahari, kedinginan dicium dinginnya malam, perih didera badai pasir….tapi saya terus berlari, mencari rumah baru. Dimana? Saya tidak tahu. Seperti apa bentuknya? Tidak terbayang sama sekali. Ingin kembali ke cangkang lama? Tentu saja…..membayangkan kenyamanan berada di dalamnya saja sudah langsung membuat saya meringkuk, ingin sekali kembali ke masa-masa indah itu. Tapi saya tahu itu tidak mungkin, saya sudah berubah, saya sudah bertumbuh, saya bukan lagi si kelomang kecil…..cangkang itu tidak sepantasnya lagi saya perjuangkan!
Jadi saya terus berlari, karena katanya selalu akan ada cangkang baru….bagi kelomang yang berani mencari. Dan akhirnya, saya menemukan cangkang baru itu! Lebih indah dari yang lama, lebih besar dari yang lama, lebih kokoh dari yang lama, bahkan seakan diukir persis mengikuti lekuk tubuh saya…..inilah tujuan hidup saya! Perlahan, saya mengelusnya, saya mengaguminya. Hilang sudah segala rasa letih dari pencarian ini, semua perihnya luka selama perjalanan terobati. Saya sang kelomang, punya rumah baru!
Sekarang, di detik ini, kalian tahu apa yang sedang saya lakukan? Saya sedang meringkuk dalam cangkang baru saya, mengagumi mukjizat yang memungkinkan saya menemukannya. Di titik ini saya baru tahu, kalau ternyata saya sang kelomang, diciptakan bukan sebagai kelomang bercangkang kecil dan sederhana seperti yang saya miliki dulu. Hari ini, saya memiliki identitas baru, sebagai kelomang besar yang bercangkang memukau.
Mungkin perjalanan saya tidak akan berakhir di sini. Konon katanya selalu ada tujuan yang lebih besar, selalu ada cangkang baru. Kalau memang saya ditakdirkan untuk menjadi kelomang terbesar dan terindah yang pernah ada di dunia, saya terima anugerah kehidupan. Saya, sang kelomang rapuh yang penakut, akan terus bertumbuh, berjuang melawan waktu.

Jakarta, 31/8/15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: