Monthly Archives: November, 2015

Ironi Permainan Pikiran #10 Memiliki Pacar


Tahun 2015, Rumput memiliki pacar baru, demikian juga dengan saya. Gunung, adalah pacar pertama saya. Saya sudah lama mengenalnya, dulu dia kakak pendamping kelompok agama saya semasa kuliah. Saya bertemu dengan Gunung lagi ketika kami mengerjakan proyek bisnis bersama. Hubungan dengan Gunung berjalan dengan aneh, saya tidak tahu perasaan apa yang saya miliki terhadapnya, rasanya waktu itu hanya penasaran saja. Beberapa bulan jalan bareng, perasaan yang ada tumbuh dengan sangat pelan, rasanya terlalu dipaksa, saya tidak pernah bisa percaya kalau dia benar-benar serius dengan saya. Gunung, seorang playboy yang pernah tidur dengan lebih dari 10 wanita dalam sehari, saya tidak mengerti bagaimana dapat mempercayainya. Di lain pihak, saat bersama dengan Gunung terasa menyenangkan, ada teman berbagi pikiran, terutama masalah bisnis. Yang selalu saya khawatirkan adalah 1 hal, di posisi apa saya sebenarnya menginginkan Gunung, sebagai teman berbagi, atau sebagai pacar? Saya juga tidak mau berlaku tidak adil pada Gunung, apabila ternyata saya hanya menganggap dia sebagai pelarian, karena saya kehilangan Rumput. Continue reading →

Advertisements

Shared from WordPress


Alangkah Diskriminatifnya Negeri Ini! – http://wp.me/p3zLj-ai

Bagian #2 My Life, Career, and Employee Faith


Kalau baca kisahku seminggu lalu, ini lanjutannya. Aku berpikir lebih dalam apa yang membuat aku bosan dan tidak menikmati bekerja di perusahaan bonafit ini. Apakah keluar dari sini adalah satu-satunya jalan keluar. Merenung. Merenung tidak sama dengan dengan melamun. Dulu aku selalu berpendapat, orang yang merenung hanya menghabis-habiskan waktu. Karena bagiku merenung adalah kegiatan melamun. Ternyata aku salah. Merenung adalah bagian dari hidup. Disitu saatnya saya merefleksikan hidup. Berpikir lebih dalam. Berbicara pada diri saya sendiri atau Tuhan sebagai sahabat tertinggi. Continue reading →

Malu Bertanya Sesat di Jalan, Banyak Bertanya Otak Tersesat


13 November 2015

Pepatah jaman dulu kan selalu berkata seperti itu ya, malu bertanya sesat di jalan! Ingat tidak, ketika masih SD, kita selalu diwajibkan untuk menghafal pepatah dan peribahasa, salah satunya ya itu. setelah dihafalkan selama bertahun-tahun, tanpa disadari pepatah itu bersemayam dalam-dalam di otak saya. Kalau ada apa-apa, bertanyalah……masalahnya kan kalau malu bertanya bisa sesat di jalan. Nah, yang saya tidak tahu, ternyata kalau terlalu banyak bertanya, atau bertanya tanpa berpikir dulu, bisa jadi pertanyaan tersebut malah membuat kita tambah tersesat. Continue reading →

(Suara Karya, 1971) Beberapa Catatan Kecil Tentang Sejarah Teater Kota Bogor


semoga dapat menjadi tali pengikat,….

Umar Machdam

Beberapa Catatan Kecil Tentang Sejarah Teater Kota Bogor

Oleh: Willy Kanugi

Salah satu kelemahan Boen S Oemardjati di dalam mendokumentir sejarah perkembangan teater di Indonesia yang dihimpun dalam bukunya “Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia” (Terbitan PT Gunung Agung, Tahun 1971) menurut hemat saya adalah disebabkan Boen terlalu percaya sepenuhnya pada arsip-arsip teater yang berupa tulisan-tulisan atau brosur-brosur. Sehingga kegesitan yang dihasilkan Boen di dalam mengumpulkan arsip-arsip teater yang berserakan di berbagai kota di Indonesia ini menjadi kurang nilainya jika diukur dengan cita-cita berikut nasib teater itu sendiri.

Sebagai contoh di dalam menyinggung masalah sejarah teater kota Bogor saya punya dugaan keras bahwa tanpa sebuah brosur tentang “Federasi Teater Kota Bogor 1962” yang diberikan Taufiq Ismail kepadanya, di mana Taufiq Ismail sendiri duduk sebagai ketuanya, Boen sendiri tidak banyak tahu tentang bagaimana tampang sebenarnya teater kota Bogor ini.

Sehubungan dengan inilah saya ingin mencoba memberi gambaran subyektif mungkin tentang kehidupan group-group…

View original post 921 more words

Seonggok Terima Kasih dan Selembar Lima Ribuan


13 November 2015

Di jaman serba realistis ini, lebih penting mana, selembar lima ribuan atau sepatah kata terima kasih?

Nah, kita kan sedang bicara tentang realita, maka mari coba kita pikirkan. Dengan selembar uang lima ribu rupiah, apa yang bisa kita dapatkan? Kalau di kota besar seperti di Jakarta, lima ribu rupiah mungkin berarti lima potong gorengan pinggir jalan, atau mungkin sebotol air minum dalam kemasan. Lalu, bagaimana dengan sepatah kata terima kasih? Continue reading →

Inspirasi setelah Dugem


29 Agustus 2015

Hari ini dilalui seperti biasa, judulnya bosan. Lalu sore bertemu Pak Didik, ngobrol2 ditemani asap rokok. Dapat inspirasi, bahwa untuk sementara ini bisa ditarik kesimpulan saya pernah mengalami trauma kehilangan, saat kisaran umur balita. Hm…..sebenarnya saya sendiri pun tidak tahu ada apa saat umur itu, tapi memang, kalau mau dirunut secara jujur, saya paling takut kehilangan. Continue reading →

Pelajaran Menambal Hati


Dari kecil, kita selalu diminta untuk belajar. Pertama-tama, belajar bagaimana untuk hidup, atau bertahan untuk tetap hidup tepatnya. Bayi kecil belajar untuk makan, lalu setelah agak besar disekolahkan agar kelak memiliki pengetahuan, lebih besar lagi mulai bekerja….semua dilakukan agar bisa mempertahankan hidup. Ketika mulai dewasa, bertahan hidup menjadi lebih sulit, karena ternyata kehidupan bukan hanya yang terlihat oleh mata saja, fisik yang sehat, otak yang cerdas…namun ada juga yang namanya benar-benar hidup, menjadi manusia seutuhnya ketika “hati” pun hidup, menjadi sosok yang berjiwa dan berperasaan. Continue reading →

Terimakasih Saya … #1 My Life, Career and Employee Faith


Saya bekerja juga sudah tidak pakai hati lagi. Segalanya menjadi gak jelas, tidak bekerja. Tidak menghasilkan sesuatu. Saya tidak suka suasana hati seperti ini. Saya selalu mengingat-ingat kalau saya baik, saya pintar, saya cantik. Saya diminta ingat itu saja. Walau itu susah dilaksanakan. Susah untuk dipercaya. Kenapa ya hal positif gitu kok malah susah dipercaya oleh diri sendiri. Belajar mempercayai orang lain, sampai memang terjadi dan terlihat bahwa orang itu sudah tak dapat dipercaya lagi. Continue reading →

Ironi Permainan Pikiran #09 Mulai Berbisnis Sendiri


Tahun 2014 awal, saya mulai berbisnis online, impor produk dari China. Tahun itu juga, entah bagaimana ceritanya, saya memutuskan untuk berbisnis madu, dengan Rumput. Saya mengingat tahun 2014 sebagai tahun yang membosankan, agak tidak masuk akal sebenarnya mengingat di tahun itu saya sebenarnya baru memulai 2 bisnis baru, jelas ada yang tidak beres. Tidak banyak yang bisa saya ingat dari tahun 2014, rasanya semua berlalu begitu saja, tetap bosan. Akhir 2014, saya, Rumput, dan beberapa teman memutuskan untuk berwisata ke Tibet, ke gunung Everest, ke Istana Potala. Banyak orang bilang memperoleh pencerahan dan kedamaian batin sekembalinya dari sana, pengalaman unik, berbeda….Gawatnya, setelah mengunjungi puncak gunung tertinggi di dunia pun, setelah melihat kakek dan nenek Tibet menggelosor di lantai sejauh berkilo-kilometer jauhnya sampai berdarah-darah untuk menyembah Tuhan, tetap tidak ada kedamaian yang muncul, perasaan saya tetap datar, tetap bosan, tetap tidak bisa menikmati hidup!

Bersambung…..

Pengelana (siapapun itu)

%d bloggers like this: